Konten dari Pengguna

Oiran Dōchū : Jejak Keanggunan Dari Zaman Edo

Derry Yohendri Saputra

Derry Yohendri Saputra

Mahasiswa Unversitas Andalas.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Derry Yohendri Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.canva.com/design/DAG694G85lc/9YsqZpatlry0txSj4mGNjw/edit?utm_content=DAG694G85lc&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton
zoom-in-whitePerbesar
https://www.canva.com/design/DAG694G85lc/9YsqZpatlry0txSj4mGNjw/edit?utm_content=DAG694G85lc&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Pada tahun 1603-1868 Jepang dibawah pimpinan Shogun dari Klan Tokugawa dengan sistem pemerintahan Bofuku Tokugawa melahirkan sebuah adat kebudayaan yang masih dilestarikan oleh Jepang hingga sekarang. Pelestarian tersebut dinamakan Oiran Dōchū. Oiran Dōchū, atau yang dikenal sebagai Oiran Walk adalah bentuk pelestarian budaya tradisional Jepang yang menampilkan kembali keanggunan para oiran dari zaman Edo dan berfungsi menampilkan keanggunan, status sosial, serta tata krama masyarakat feodal Jepang di tahun 1603–1868. Oiran Dochū adalah perekaan ulang parade yang diterapkan di periode Edo (1603-1868),di mana kalian bisa melihat para wanita dan pria mengenakan pakaian tradisional yang digunakan di periode Edo Parade ini diakhiri oleh pertemuan tayu (oiran tertua) yang menggunakan bakiak kayu berhak 3 setinggi 20 cm (sanmaiba geta) dengan pelanggannya.

Oiran adalah pelacur kelas tinggi yang tidak hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga karena keahlian mereka dalam seni musik, puisi, dan percakapan. Mereka dianggap sebagai simbol kemewahan dan kecanggihan dunia hiburan kuno Jepang, khususnya di distrik Yoshiwara, Tokyo.

Dalam parade Oiran Dōchū, wanita mengenakan kimono berlapis-lapis dengan warna mencolok dan obi (sabuk kimono) yang diikat di depan menjadi ciri khas para oiran. Seluruh pakaian ini memiliki berat kurang lebih 30 kg. Oiran biasanya akan muncul setelah munculnya karakter-karakter di dalam parade. Pada urutan pertama ada karakter yang menggunakan topeng seperti kappa (makhluk legendaris yang hidup di dalam air), Kitsune ( rubah yang dianggap membawa keberuntungan), dan juga Sishi (singa) yang dipercaya memberikan berkat kepada para pengunjung.

Setelah melihat para karakter menghibur para pengunjung, kalian akan meliat beberapa pria (otoko shu)berjalan sambil membawa tongkat besi dengan lonceng di atasnya (kanabou). Para pria ini adalah para pejaga di periode Edo. Setelah itu kalian akan melihat Tekomai, para wanita yang memakai pakaian seperti pria. Kalian bisa melihat seberapa medoknya riasan wajah mereka, dan ada alasannya mengapa riasannya seperti ini. Di periode Edo, seorang geisha terkadang mengenakan pakaian seperti pria, supaya mereka bisa berpartisipasi dalam penarikan dashi (arakan festival yang mengapung). Diikuti dengan seorang pria yang memegang lentera dengan tulisan nama seorang Oiran. Wanita muda cantik yang mengenakan kimono rumit bernama kamuro, yang bekerja sebagai pelayan Oiran, dan memiliki cita-cita untuk menjadi Oiran ke depannya. Mereka membawa kiseru (pipa rokok berujung besi) dan tabako-bon (kotak rokok). Pada akhir parade seorang Oiran menyeret kakinya menulis angka 8 yang dinamai hachi-monoji. Pria yang berdiri di sebelah Oiran meminjamkan bahunya untuk menyanggah Oiran, dan pria ini disebut sebagai Katakashi no Otoko-shu. Pria satu lagi yang memegang payung disebut sebagai Kasa Mochi no Otoko shu. Para pendamping Oiran ini memiliki peran yang penting selama parade ini. Di akhir parade kalian bisa melihat furisode shinzo, seorang wanita yang lebih tua dari pada kamuro, tetapi belum mencapai level Oiran.

Semua elemen ini menggambarkan keanggunan serta kebesaran status sosial oiran pada masa lalu. Kini, Oiran Dōchū diselenggarakan dalam berbagai festival di Jepang, seperti di Asakusa dan Shinagawa, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan seni tradisional. Lebih dari sekadar parade, Oiran Dōchū menjadi simbol penting pelestarian budaya, memperkenalkan generasi modern pada keindahan warisan masa Edo yang penuh pesona dan makna historis.