Ketika AI Mengambil Alih Kemampuan Berbicara Generasi Indonesia

MAHASISWA UNIVERSITAS PAMULANG Laki-laki tak punya telapak kaki surga, Tapi punggungnya memikul neraka dunia.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari TANTRINA ADE RAYANA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital yang semakin berkembang, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. AI dapat membantu menyusun pidato, membuat materi presentasi, merangkai kata-kata, bahkan memberikan contoh cara berbicara di depan umum. Kehadiran teknologi ini tentu memberikan banyak manfaat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah semakin sering kita menggunakan AI, kemampuan public speaking kita justru semakin menurun?
Pendapat saya, perkembangan AI dapat menjadi tantangan bagi kemampuan public speaking masyarakat Indonesia apabila digunakan secara berlebihan. Saat ini, seseorang dapat dengan mudah meminta AI membuatkan teks pidato tanpa harus berpikir panjang untuk menyusun gagasannya sendiri. Ketika harus melakukan presentasi, sebagian orang mungkin hanya membaca teks yang telah dibuatkan oleh AI tanpa benar-benar memahami isi atau menguasai cara menyampaikannya. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, menyusun argumen secara spontan, dan menyampaikan pendapat dengan percaya diri berisiko tidak berkembang secara maksimal.
Public speaking bukan sekadar kemampuan mengucapkan kata-kata di depan banyak orang. Lebih dari itu, public speaking merupakan keterampilan menyampaikan gagasan, membangun kepercayaan, memahami audiens, serta merespons pertanyaan secara tepat. Kemampuan ini membutuhkan latihan, pengalaman, dan keberanian untuk menghadapi kesalahan. Jika seseorang terlalu bergantung pada AI, ia bisa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut secara mandiri.
Di Indonesia, kemampuan public speaking sangat penting, baik dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Pelajar dan mahasiswa perlu mampu mempresentasikan ide, berdiskusi, serta mempertahankan pendapat secara logis. Sementara itu, dalam dunia kerja, kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja sama, memimpin tim, dan menyampaikan gagasan. Oleh karena itu, ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat menjadi hambatan apabila membuat seseorang kurang terbiasa berbicara dan berpikir secara mandiri.
Meskipun demikian, kita tidak seharusnya menganggap AI sebagai musuh dalam pengembangan kemampuan public speaking. Teknologi ini justru dapat menjadi sarana belajar yang efektif jika digunakan dengan bijak. AI dapat membantu seseorang menyusun kerangka pidato, mencari ide, memperbaiki struktur kalimat, hingga melakukan simulasi tanya jawab. Namun, hasil yang diberikan AI sebaiknya dijadikan bahan latihan, bukan sesuatu yang langsung dihafalkan atau dibacakan tanpa pemahaman.
Bagi saya, hal yang paling penting adalah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan diri. Generasi muda Indonesia perlu membiasakan diri berbicara tanpa selalu bergantung pada teks, berani menyampaikan pendapat dalam diskusi, serta berlatih presentasi secara langsung. Sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat juga perlu menyediakan lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan komunikasi mereka.
Pada akhirnya, AI tidak secara otomatis membuat kemampuan public speaking masyarakat Indonesia menurun. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. Jika AI dijadikan pengganti proses berpikir dan berlatih, kemampuan komunikasi bisa terhambat. Sebaliknya, jika AI dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, teknologi ini dapat membantu seseorang menjadi pembicara yang lebih baik.
Dengan demikian, di tengah kemajuan teknologi, kita tidak boleh hanya menjadi generasi yang pandai menggunakan AI, tetapi juga harus menjadi generasi yang mampu menyampaikan gagasan dengan percaya diri, kritis, dan meyakinkan. Sebab, teknologi mungkin dapat membantu kita menyusun kata-kata, tetapi keberanian, pemahaman, dan kemampuan membangun hubungan dengan audiens tetap perlu dikembangkan oleh manusia itu sendiri.
