Konten dari Pengguna

Perguruan Tinggi: Mengapa Pimpinan Harus Peka terhadap Persoalan Internal?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Desi Sommaliagustina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pimpinan perguruan tinggi harus peka terhadap permasalahan internal. Foto: Generate by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pimpinan perguruan tinggi harus peka terhadap permasalahan internal. Foto: Generate by AI

Perguruan tinggi sering dipandang sebagai ruang lahirnya gagasan besar, pusat inovasi, sekaligus benteng moral bangsa. Namun, tidak sedikit perguruan tinggi yang justru tersandung oleh persoalan yang sebenarnya berawal dari masalah-masalah kecil di dalam rumahnya sendiri. Konflik antarunit, ketidakpuasan dosen, beban administratif yang berlebihan, minimnya komunikasi dengan tenaga kependidikan, hingga aspirasi mahasiswa yang diabaikan, kerap berkembang menjadi krisis institusi karena pimpinan gagal membaca gejala sejak dini.

Ironisnya, berbagai perguruan tinggi lebih sigap merespons isu yang berkembang di media sosial dibandingkan mendengarkan suara yang muncul dari ruang dosen, ruang administrasi, atau organisasi mahasiswa. Padahal, kesehatan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa, capaian akreditasi, atau besarnya dana penelitian, tetapi juga dari kualitas hubungan antarmanusia yang membangun institusi tersebut.

Dalam organisasi modern, persoalan internal bukan sekadar urusan personal. Ia merupakan indikator kualitas kepemimpinan. Semakin besar sebuah organisasi, semakin tinggi tuntutan bagi pemimpinnya untuk memiliki kepekaan sosial, kemampuan mendengar, dan keberanian mengambil keputusan yang adil.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Administrasi

Dalam praktiknya, banyak pimpinan perguruan tinggi terjebak pada rutinitas administratif. Energi lebih banyak dihabiskan mengejar indikator kinerja, laporan, akreditasi, pemeringkatan internasional, dan berbagai target birokrasi lainnya. Semua itu memang penting. Namun, orientasi yang terlalu administratif sering kali membuat pimpinan kehilangan kemampuan membaca dinamika manusia yang justru menjadi jantung perguruan tinggi.

Universitas bukan pabrik yang hanya menghasilkan lulusan. Ia adalah komunitas akademik (academic community). Yang dikelola bukan hanya gedung, anggaran, atau dokumen, melainkan manusia dengan aspirasi, kecemasan, harapan, dan kepentingannya masing-masing.

Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa budaya organisasi akan selalu mengalahkan strategi. Sebaik apa pun visi sebuah universitas, ia akan gagal apabila budaya komunikasi dipenuhi ketakutan, saling curiga, dan minim ruang dialog.

Persoalan internal yang diabaikan lambat laun berubah menjadi penurunan motivasi kerja. Dosen kehilangan semangat melakukan penelitian. Tenaga kependidikan bekerja sekadar menggugurkan kewajiban. Mahasiswa merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi. Dalam kondisi demikian, institusi sebenarnya sedang mengalami kemunduran, meskipun secara administratif terlihat baik-baik saja.

Tidak sedikit konflik besar di perguruan tinggi berawal dari persoalan sederhana. Keluhan mengenai distribusi beban kerja yang tidak proporsional. Promosi jabatan yang dianggap tidak transparan. Komunikasi yang hanya berlangsung satu arah. Budaya "asal pimpinan senang". Pengambilan keputusan tanpa melibatkan pihak terdampak. Ruang kritik yang semakin menyempit.

Semua gejala tersebut sering dianggap sebagai dinamika biasa. Padahal, dalam teori perilaku organisasi, kondisi demikian merupakan early warning system terhadap melemahnya kepercayaan organisasi (organizational trust). Kepercayaan merupakan modal sosial terpenting dalam perguruan tinggi. Ketika kepercayaan hilang, setiap kebijakan akan dipandang sebagai ancaman, bukan solusi.

Pimpinan Harus Hadir, Bukan Sekadar Terlihat

Kepemimpinan akademik memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi bisnis. Seorang rektor, dekan, ataupun ketua program studi tidak cukup hanya menguasai regulasi dan tata kelola. Mereka juga dituntut menjadi pendengar yang baik.

Banyak persoalan sebenarnya selesai sebelum menjadi konflik apabila pimpinan mau membuka ruang dialog. Sayangnya, masih terdapat budaya organisasi yang menempatkan pimpinan sebagai figur yang sulit dijangkau. Komunikasi berlangsung secara hierarkis sehingga bawahan lebih memilih diam daripada menyampaikan persoalan.

Padahal, budaya diam merupakan ancaman terbesar bagi organisasi. Amy Edmondson dari Harvard Business School memperkenalkan konsep psychological safety, yaitu kondisi ketika anggota organisasi merasa aman menyampaikan pendapat tanpa takut dihukum. Organisasi dengan tingkat psychological safety yang tinggi terbukti lebih inovatif, lebih produktif, dan memiliki tingkat konflik destruktif yang lebih rendah.

Dalam konteks perguruan tinggi, ruang aman tersebut menjadi syarat utama berkembangnya kebebasan akademik. Kampus yang kehilangan kepekaan biasanya menunjukkan beberapa ciri.

Pertama, kritik dianggap sebagai bentuk pembangkangan;

Kedua, aspirasi dipandang sebagai ancaman terhadap kewibawaan pimpinan;

Ketiga, setiap konflik diselesaikan melalui pendekatan administratif, bukan dialog;

Keempat, keputusan lebih banyak dipengaruhi kedekatan personal dibandingkan objektivitas;

Kelima, budaya saling percaya perlahan menghilang.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Dosen produktif memilih pindah. Peneliti kehilangan motivasi. Mahasiswa menjadi apatis. Bahkan, reputasi akademik ikut tergerus.

Lebih berbahaya lagi apabila konflik internal akhirnya terbuka ke ruang publik melalui media sosial. Ketika masalah internal sudah menjadi konsumsi publik, biaya pemulihannya jauh lebih besar dibandingkan menyelesaikannya sejak awal.

Tata Kelola yang Berbasis Empati

Perguruan tinggi masa depan membutuhkan tata kelola yang tidak hanya mengedepankan prinsip good university governance, tetapi juga empathetic leadership. Empati bukan berarti membenarkan semua tuntutan. Empati adalah kemampuan memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Pimpinan yang empatik akan aktif melakukan kunjungan ke unit-unit kerja, berdialog tanpa protokoler, membuka kanal pengaduan yang kredibel, serta memastikan setiap aspirasi memperoleh respons. Keputusan yang tidak memuaskan sekalipun akan lebih mudah diterima apabila prosesnya transparan dan partisipatif. Sebaliknya, keputusan yang sebenarnya baik pun akan ditolak apabila lahir dari proses yang tertutup.

Kepekaan tidak cukup bergantung pada intuisi pribadi pimpinan. Ia harus dilembagakan melalui sistem. Perguruan tinggi perlu memiliki mekanisme pemetaan iklim organisasi secara berkala, survei kepuasan dosen dan tenaga kependidikan, forum dialog lintas unit, perlindungan terhadap pelapor (whistleblower), hingga sistem penyelesaian sengketa internal yang independen.

Evaluasi pimpinan juga seharusnya tidak hanya berbasis capaian keuangan atau akreditasi, melainkan memasukkan indikator kualitas kepemimpinan, komunikasi organisasi, dan tingkat kepercayaan sivitas akademika. Dengan demikian, kepemimpinan tidak hanya dinilai dari apa yang berhasil dibangun secara fisik, tetapi juga dari seberapa sehat kehidupan akademik yang diwariskan.

Pada akhirnya, perguruan tinggi adalah rumah bersama bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat. Rumah yang baik bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan rumah yang mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, keterbukaan, dan rasa saling menghormati. Pimpinan perguruan tinggi harus menyadari bahwa konflik bukan selalu pertanda kegagalan. Yang menjadi kegagalan adalah ketika konflik dibiarkan tumbuh karena keengganan untuk mendengar.

Seorang pemimpin akademik sejatinya tidak diukur dari seberapa sering ia berbicara dalam forum resmi, melainkan dari seberapa banyak ia mendengar suara-suara yang tidak terdengar. Sebab, masa depan perguruan tinggi sering kali tidak ditentukan oleh besarnya gedung yang dibangun atau tingginya peringkat yang diraih, melainkan oleh kemampuan pemimpinnya menjaga kepercayaan, merawat dialog, dan menyelesaikan persoalan internal sebelum berubah menjadi krisis kelembagaan.

Dalam era ketika reputasi institusi dapat runtuh hanya oleh satu konflik yang viral, kepekaan bukan lagi sekadar kualitas pribadi seorang pimpinan. Ia telah menjadi prasyarat utama kepemimpinan perguruan tinggi yang sehat, demokratis, dan berintegritas.

Universitas yang besar bukan hanya universitas yang unggul dalam angka, tetapi juga yang mampu memastikan setiap suara di dalamnya merasa didengar, dihargai, dan menjadi bagian dari perjalanan menuju kemajuan bersama. Jangan pernah anggap sepele persoalan kecil. Ibarat "bom waktu", yang sewaktu-waktu akan meledak nantinya.