Konten dari Pengguna

Takbir Keliling Banjarsari: Menyulam Cahaya dalam Gema Takbir

Desiati
Mahasiswa Universitas Amikom Purwokerto Prodi Ilmu Komunikasi
3 April 2025 10:49 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Desiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Persiapan matang untuk takbir keliling! Bedug dan soundmic sudah terpasang, siap menggema sepanjang desa.
zoom-in-whitePerbesar
Persiapan matang untuk takbir keliling! Bedug dan soundmic sudah terpasang, siap menggema sepanjang desa.
ADVERTISEMENT
Menjelang Idul Fitri, suasana di Desa Banjarsari, Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, berubah begitu khas. Malam yang biasanya sunyi berubah menjadi lautan cahaya dan lantunan takbir yang menggema di setiap sudut desa. Tiga mobil bersama arak-arakan motor bergerak perlahan menyusuri jalan-jalan kampung, membawa semangat kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun. Suasana semakin hidup dengan klakson motor yang bersahutan, seiring dengan gema takbir yang mengalun di udara malam.
Di atas mobil, di antara motor yang beriringan, anak-anak Banjarsari melantunkan takbir, merayakan Idul Fitri dalam kebahagiaan yang sederhana.
zoom-in-whitePerbesar
Di atas mobil, di antara motor yang beriringan, anak-anak Banjarsari melantunkan takbir, merayakan Idul Fitri dalam kebahagiaan yang sederhana.
Warga dari berbagai usia, dari orang tua, remaja, hingga anak-anak, ikut meramaikan pawai takbiran ini. Mereka berdiri di atas mobil dan motor, dengan penuh kekhusyukan mengumandangkan takbir. Sementara itu, warga lainnya berdiri di depan rumah, melambaikan tangan, ikut melantunkan takbir, atau sekadar menikmati kemeriahan malam yang penuh berkah. Takbiran keliling di Desa Banjarsari bukan hanya sebuah tradisi tahunan, tetapi sudah menjadi bagian dari warisan yang terus dijaga. Ketua RT 07/07, Bapak Sutiwan, menjelaskan bahwa tradisi ini telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan selalu dinantikan oleh warga desa. "Ini bukan sekadar soal menggemakan takbir, tetapi juga tentang mempererat silaturahmi antarwarga. Kami ingin anak-anak merasakan indahnya kebersamaan dan menjaga warisan budaya ini," ujar Bapak Sutiwan. Mereka menyusuri titik-titik desa seperti Jalan Losari, Lesmana, Kalibenda, Ndesa, Karang Jengkol, Karang Joho, dan kembali lagi ke tempat semula. Setiap belokan dan persimpangan menjadi saksi akan kebersamaan yang terus terjaga. Tradisi ini memberi kehangatan, mengingatkan bahwa perayaan Idul Fitri adalah waktu untuk lebih saling terhubung, menjaga hubungan antarwarga. Seiring berjalannya waktu, gema takbir terus bergema, menyatu dengan angin malam yang berhembus lembut. Di balik kemeriahan takbiran keliling, ada makna yang lebih dalam tentang kebersamaan, tentang melestarikan tradisi, dan tentang rasa syukur yang mengalir dalam setiap lantunan takbir. Takbiran keliling di Desa Banjarsari bukan hanya sekadar pawai, tetapi juga sebuah cara untuk merayakan Idul Fitri dengan penuh kebersamaan dan keberkahan. Ketika malam beranjak menuju fajar, semangat kebersamaan semakin terasa, membawa kebahagiaan bagi seluruh warga desa.
ADVERTISEMENT