Konten dari Pengguna

Ekonomi Tumbuh Tinggi, Tapi Mengapa Pembangunan Kita Masih Belum Merata?

Desi Susilawati

Desi Susilawati

Mahasiswi Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Desi Susilawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar tersebut hanya sebagai bentuk ilustrasi saja dari AI
zoom-in-whitePerbesar
gambar tersebut hanya sebagai bentuk ilustrasi saja dari AI

Indonesia sering kali berbangga dengan angka pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen. Di atas kertas, kita adalah raksasa ekonomi baru di Asia Tenggara. Namun, jika kita melangkah keluar dari pusat bisnis Jakarta atau kota-kota besar di Jawa, wajah ekonomi kita mendadak berubah. Pertanyaannya: Jika ekonomi tumbuh, mengapa ketimpangan masih menjadi "penyakit" menahun yang sulit sembuh?

​Jebakan "Sentrisme" dan Narasi Angka

​Masalah utama kita adalah ketergantungan pada aglomerasi ekonomi di Pulau Jawa. Data menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen PDB nasional masih disumbang oleh Jawa. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sering kali bersifat capital intensive (padat modal) di sektor digital atau manufaktur besar, namun kurang menyentuh sektor labor intensive (padat karya) di pelosok daerah.

​Pertumbuhan ekonomi sering kali hanyalah angka rata-rata. Jika satu kelompok kecil bertambah kekayaannya secara drastis, sementara masyarakat bawah jalan di tempat, secara statistik rata-rata mereka naik. Inilah jebakan angka yang membuat kita merasa "sudah membangun," padahal sebenarnya baru "menumbuhkan" sebagian kecil kelompok.

​Konektivitas Bukan Sekadar Jalan Tol

​Pemerintah memang masif membangun infrastruktur. Namun, pembangunan fisik seperti jalan tol atau bandara barulah syarat perlu, bukan syarat cukup. Tanpa adanya penguatan SDM dan akses literasi keuangan di daerah, infrastruktur tersebut hanya akan menjadi jalur "pelintasan" bagi produk luar, bukan jalur "pendistribusian" bagi komoditas lokal.

​Pembangunan yang belum merata juga berakar pada kualitas pendidikan yang timpang. Bagaimana seorang pemuda di pelosok bisa ikut bersaing dalam ekonomi modern jika akses informasi dan kualitas pembelajaran di sekolahnya tertinggal jauh dari mereka yang di kota besar?

​Strategi Re-orientasi Pembangunan

​Agar pertumbuhan ini tidak sekadar menjadi angka di laporan pemerintah, kita perlu melakukan langkah nyata:

  1. ​Hilirisasi yang Inklusif: Hilirisasi industri jangan hanya berhenti di level korporasi besar, tapi harus melibatkan UMKM daerah sebagai rantai pasok utama.

  2. ​Pemerataan Kualitas SDM: Fokus pembangunan harus bergeser dari sekadar fisik ke investasi otak. Beasiswa dan pelatihan keterampilan harus benar-benar menyasar masyarakat di daerah tertinggal.

  3. ​Digitalisasi yang Humanis: Memastikan akses internet bukan hanya untuk hiburan, melainkan sebagai alat bagi petani dan nelayan untuk memotong rantai distribusi yang panjang.

Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan hanyalah bom waktu sosial. Pertumbuhan yang berkualitas bukan tentang seberapa tinggi angka persentase, melainkan seberapa jauh manfaatnya bisa dirasakan oleh mereka yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Jika kita ingin menjadi negara maju, pembangunan tidak boleh lagi bersifat "Jawa-Sentris," melainkan benar-benar "Indonesia-Sentris."