Konten dari Pengguna

Mengapa Gen Z Sulit Menabung di Tengah Gaya Hidup Digital?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Desi Susilawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi milik penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi milik penulis

oleh : Desi Susilawati

Pernahkah kita merasa uang baru saja masuk rekening, tetapi beberapa hari kemudian saldo sudah berkurang drastis? Fenomena ini tampaknya semakin akrab dengan kehidupan Generasi Z. Di tengah kemudahan teknologi digital, menabung justru menjadi tantangan yang tidak sederhana bagi banyak anak muda saat ini.

Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup berdampingan dengan internet, media sosial, dompet digital, layanan pesan antar, hingga berbagai platform belanja daring yang dapat diakses selama 24 jam. Kemudahan tersebut memang memberikan banyak keuntungan, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan godaan konsumsi yang datang tanpa henti.

Setiap hari, media sosial dipenuhi berbagai promosi produk, diskon besar-besaran, hingga rekomendasi gaya hidup dari para influencer. Tidak jarang seseorang yang awalnya hanya ingin membuka aplikasi untuk mencari hiburan justru berakhir melakukan transaksi pembelian yang sebenarnya tidak direncanakan. Dalam kondisi seperti ini, menabung bukan lagi sekadar persoalan kemampuan mengelola uang, melainkan juga kemampuan mengendalikan diri.

Tantangan terbesar Generasi Z saat ini bukan bagaimana memperoleh akses untuk berbelanja, melainkan bagaimana menahan diri untuk tidak selalu membeli apa yang ditawarkan dunia digital.

Budaya Fear of Missing Out (FOMO) turut memperkuat fenomena tersebut. Banyak anak muda merasa perlu mengikuti tren yang sedang berkembang agar tidak dianggap tertinggal oleh lingkungan sosialnya. Mulai dari mengikuti tren fesyen, mencoba kafe yang sedang viral, membeli gawai terbaru, hingga menghadiri berbagai acara hiburan. Keinginan untuk tetap relevan di media sosial sering kali mendorong perilaku konsumtif yang sulit dikendalikan.

Di sisi lain, kemajuan teknologi membuat proses pengeluaran uang terasa semakin tidak terlihat. Jika dahulu seseorang harus mengeluarkan uang tunai secara langsung ketika berbelanja, kini pembayaran dapat dilakukan hanya dengan memindai kode QR atau menekan beberapa tombol pada layar ponsel. Akibatnya, banyak orang tidak lagi merasakan secara nyata berapa besar uang yang telah dikeluarkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemudahan transaksi digital secara tidak langsung mengubah cara seseorang memandang uang. Ketika proses pembayaran terasa mudah dan instan, keputusan pembelian pun cenderung dilakukan dengan lebih cepat. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya menyadari pengeluaran mereka setelah melihat riwayat transaksi pada akhir bulan.

Selain faktor konsumsi digital, kondisi ekonomi juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak generasi muda yang harus menghadapi kenaikan biaya hidup, mulai dari transportasi, kebutuhan pendidikan, biaya tempat tinggal, hingga kebutuhan internet yang kini menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari. Di tengah berbagai kebutuhan tersebut, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung sering kali menjadi pilihan yang sulit.

Namun, menyalahkan teknologi sepenuhnya tentu bukan solusi yang tepat. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Permasalahan utama terletak pada bagaimana seseorang menggunakan teknologi tersebut. Ironisnya, kemajuan teknologi yang seharusnya membantu pengelolaan keuangan justru sering dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi.

Di sinilah pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. Menabung tidak lagi dapat dipahami sebagai kebiasaan menyimpan uang di celengan seperti yang diajarkan pada masa kecil. Di era digital, menabung membutuhkan kemampuan membuat prioritas, mengelola pengeluaran, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Literasi keuangan juga membantu seseorang memahami bahwa setiap keputusan konsumsi hari ini akan memengaruhi kondisi finansial di masa depan.

Dari perspektif pendidikan ekonomi, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Pembelajaran ekonomi perlu lebih dekat dengan realitas kehidupan peserta didik. Siswa tidak hanya perlu memahami konsep ekonomi dalam buku pelajaran, tetapi juga memahami bagaimana algoritma media sosial memengaruhi perilaku konsumsi, bagaimana promosi digital membentuk keputusan pembelian, dan bagaimana perencanaan keuangan dapat membantu mencapai tujuan hidup jangka panjang.

Generasi Z bukanlah generasi yang gagal mengelola keuangan. Mereka hidup di tengah lingkungan yang menawarkan kemudahan konsumsi yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Oleh karena itu, kemampuan mengelola uang saat ini tidak cukup hanya dengan bekerja keras memperoleh penghasilan, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengendalikan keinginan yang terus dipicu oleh dunia digital.

Pada akhirnya, menabung di era digital bukanlah pertarungan melawan teknologi, melainkan pertarungan melawan kebiasaan konsumtif yang muncul akibat penggunaan teknologi yang kurang bijak. Jika generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk merencanakan keuangan, bukan sekadar untuk berbelanja, maka dunia digital justru dapat menjadi sarana untuk membangun masa depan finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.