Konten dari Pengguna

Elastisitas Permintaan: Mengapa Konsumen Bisa Beralih Saat Harga Naik?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Desta ariyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto:https://unsplash.com/photos/a-person-sitting-at-a-table-with-a-laptop-oUbzU87d1Gc
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto:https://unsplash.com/photos/a-person-sitting-at-a-table-with-a-laptop-oUbzU87d1Gc

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan perubahan harga barang dan jasa. Ketika harga minuman naik, sebagian konsumen mungkin tetap membelinya, sedangkan sebagian lainnya memilih merek lain yang lebih murah. Hal serupa juga terjadi pada makanan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga. Menurut kelompok kami, perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak selalu memberikan pengaruh yang sama terhadap keputusan pembelian konsumen.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep elastisitas permintaan. Dalam ilmu ekonomi, elastisitas permintaan digunakan untuk mengukur seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta akibat perubahan harga. Konsep ini tidak hanya penting untuk memahami perilaku konsumen, tetapi juga dapat menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha ketika menentukan strategi harga.

Mengapa Konsumen Bereaksi Berbeda terhadap Perubahan Harga?

Elastisitas permintaan harga menunjukkan tingkat kepekaan konsumen terhadap perubahan harga suatu barang. Jika kenaikan harga menyebabkan jumlah pembelian turun cukup besar, permintaannya cenderung elastis. Sebaliknya, jika jumlah pembelian hanya mengalami sedikit penurunan meskipun harga meningkat, permintaannya cenderung inelastis.

Sebagai contoh, konsumen yang terbiasa membeli minuman kekinian mungkin akan beralih ke merek lain ketika harga produk favoritnya naik. Pilihan tersebut lebih mudah dilakukan apabila tersedia banyak produk dengan rasa, kualitas, dan harga yang hampir sama. Namun, pada kebutuhan tertentu, konsumen tidak selalu dapat mengurangi pembelian dengan mudah karena barang tersebut masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meskipun demikian, barang kebutuhan pokok tidak selalu memiliki permintaan yang inelastis dalam setiap keadaan. Tingkat elastisitas tetap dipengaruhi oleh ketersediaan pengganti, besarnya pengeluaran, kemampuan ekonomi, serta jangka waktu yang dimiliki konsumen untuk menyesuaikan kebiasaannya.

Menurut kelompok kami, keputusan pembelian tidak hanya ditentukan oleh mahal atau murahnya suatu produk. Konsumen juga mempertimbangkan manfaat, kualitas, kebiasaan, dan kemampuan keuangan sebelum memutuskan apakah akan tetap membeli, mengurangi jumlah pembelian, atau beralih ke produk lain.

Hasil Penelitian: Seberapa Peka Konsumen terhadap Kenaikan Harga?

Penjelasan mengenai elastisitas permintaan dapat diperkuat melalui penelitian yang menggunakan data konsumsi masyarakat Indonesia.

Salah satu penelitian yang relevan adalah tesis Dian Utaminingsih (2025) berjudul Analisis Elastisitas Permintaan Minuman Berpemanis di Indonesia, yang tersedia melalui repositori Universitas Gadjah Mada. Penelitian tersebut menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2021 dan data harga tahun 2021 dari 34 provinsi di Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan minuman berpemanis di Indonesia bersifat elastis. Artinya, perubahan harga memiliki pengaruh yang relatif besar terhadap jumlah permintaan. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan substitusi antara minuman berpemanis dan beberapa kelompok produk lain, termasuk minuman tertentu. Temuan ini memperlihatkan bahwa konsumen memiliki kemungkinan untuk menyesuaikan pilihan konsumsinya ketika harga berubah.

Sumber penelitian: Repositori Universitas Gadjah Mada⁠.

Temuan tersebut sejalan dengan kajian Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) pada 2022 mengenai elastisitas harga permintaan minuman manis dalam kemasan. Kajian ini juga menggunakan data Susenas 2021 untuk mempelajari respons permintaan terhadap perubahan harga serta kemungkinan peralihan konsumsi ke produk lain.

Selain itu, penelitian Nasfar Amri yang diterbitkan dalam Agrifo: Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh pada 2022 menganalisis perilaku konsumsi pangan rumah tangga di Provinsi Riau menggunakan data Susenas 2018. Hasilnya menunjukkan bahwa permintaan berbagai kelompok pangan sumber kalori dan protein umumnya bersifat inelastis, dengan pengecualian pada kelompok makanan dan minuman jadi serta umbi-umbian.

Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa respons konsumen dapat berbeda menurut jenis barang yang dikonsumsi. Produk minuman tertentu dapat memiliki permintaan yang elastis, sedangkan sejumlah kebutuhan pangan cenderung memiliki permintaan yang lebih inelastis.

Namun, hasil penelitian tersebut tidak berarti semua konsumen akan memberikan respons yang sama. Perilaku setiap rumah tangga dapat berbeda berdasarkan pendapatan, kebiasaan konsumsi, dan kondisi pasar. Oleh karena itu, hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan objek dan data yang digunakan.

Sumber tambahan: Kajian CISDI mengenai elastisitas permintaan minuman manis⁠ dan penelitian perilaku konsumsi pangan di Provinsi Riau⁠.

Faktor yang Memengaruhi Elastisitas Permintaan

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepekaan konsumen terhadap perubahan harga.

Pertama, ketersediaan barang pengganti. Produk yang memiliki banyak alternatif cenderung lebih mudah ditinggalkan ketika harganya naik. Sebaliknya, konsumen akan lebih sulit beralih apabila barang pengganti yang sesuai sangat terbatas.

Kedua, tingkat kebutuhan. Konsumen biasanya tetap membutuhkan barang yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Namun, kebutuhan yang dianggap penting oleh seseorang belum tentu sama dengan orang lain. Karena itu, tingkat elastisitas suatu barang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan anggapan bahwa barang tersebut merupakan kebutuhan pokok.

Ketiga, kemampuan ekonomi. Kenaikan harga dapat memengaruhi konsumen dengan cara yang berbeda. Konsumen yang memiliki anggaran terbatas mungkin mengurangi jumlah pembelian, mencari promosi, atau mengganti produk dengan pilihan yang lebih terjangkau.

Keempat, besarnya pengeluaran untuk suatu barang. Jika pembelian suatu produk menyerap bagian yang cukup besar dari anggaran konsumen, perubahan harganya dapat mendorong pertimbangan yang lebih serius. Sebaliknya, perubahan harga barang dengan porsi pengeluaran kecil mungkin tidak terlalu memengaruhi keputusan pembelian.

Kelima, jangka waktu. Dalam jangka pendek, konsumen mungkin masih membeli produk yang sama karena belum menemukan alternatif. Namun, dalam jangka panjang, konsumen memiliki lebih banyak waktu untuk membandingkan harga, mengubah kebiasaan, atau menemukan produk pengganti.

Mengenal Jenis-Jenis Elastisitas Permintaan

Secara umum, elastisitas permintaan harga dapat dibedakan berdasarkan perbandingan antara persentase perubahan jumlah barang yang diminta dan persentase perubahan harga.

Permintaan elastis terjadi ketika nilai absolut elastisitas lebih besar dari satu. Artinya, persentase perubahan jumlah permintaan lebih besar daripada persentase perubahan harga.

Permintaan inelastis terjadi ketika nilai absolut elastisitas kurang dari satu. Dalam kondisi ini, persentase perubahan jumlah permintaan lebih kecil daripada persentase perubahan harga.

Permintaan elastis uniter terjadi ketika nilai absolut elastisitas sama dengan satu. Persentase perubahan jumlah permintaan sama dengan persentase perubahan harga dalam nilai absolutnya.

Selain itu, terdapat permintaan elastis sempurna dan inelastis sempurna. Keduanya merupakan kondisi teoretis yang menggambarkan respons permintaan pada tingkat ekstrem.

Rumus dasar elastisitas permintaan harga adalah:

Ed = Persentase perubahan jumlah permintaan ÷ Persentase perubahan harga

Dalam perhitungan ekonomi, hasil elastisitas permintaan harga umumnya dinyatakan menggunakan nilai absolut untuk menentukan kategorinya. Prinsip dan contoh perhitungannya dapat dipelajari lebih lanjut melalui buku ajar terbuka Principles of Economics 3e dari OpenStax, khususnya bagian 5.1 tentang elastisitas permintaan dan penawaran.

Sumber: OpenStax – Price Elasticity of Demand and Price Elasticity of Supply⁠.

Contoh Perhitungan: Ketika Harga Naik, Penjualan Justru Turun

Untuk memahami penerapan elastisitas permintaan, kita dapat menggunakan contoh sebuah kedai minuman. Angka berikut merupakan ilustrasi, bukan data hasil penelitian.

Sebelum menaikkan harga, kedai menjual minuman seharga Rp10.000 per gelas dengan jumlah penjualan 100 gelas per hari. Pendapatan penjualan hariannya mencapai Rp1.000.000.

Setelah harga dinaikkan menjadi Rp12.000 per gelas, jumlah penjualan turun menjadi 70 gelas per hari. Pendapatan penjualan kemudian menjadi Rp840.000.

Dengan demikian, harga naik sebesar 20%, sedangkan jumlah penjualan turun sebesar 30% jika dibandingkan dengan kondisi awal.

Jika menggunakan metode persentase sederhana dengan kondisi awal sebagai dasar perhitungan, nilai absolut elastisitas permintaannya adalah:

Ed = 30% ÷ 20% = 1,5

Nilai tersebut menunjukkan permintaan elastis berdasarkan metode perhitungan sederhana tersebut. Penurunan jumlah pembelian secara persentase lebih besar daripada kenaikan harga.

Jika menggunakan metode titik tengah, yang membandingkan perubahan terhadap nilai rata-rata harga dan jumlah, hasilnya sekitar 1,94. Kedua perhitungan menunjukkan bahwa permintaan pada ilustrasi ini bersifat elastis.

Dari contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa kenaikan harga tidak selalu meningkatkan pendapatan penjualan. Ketika jumlah konsumen yang membeli turun cukup besar, pendapatan penjualan justru dapat berkurang.

Meski demikian, pendapatan penjualan berbeda dengan keuntungan. Untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh, pelaku usaha harus memperhitungkan biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa tempat, dan biaya operasional lainnya.

Mengapa Elastisitas Permintaan Penting bagi Pelaku Usaha?

Menurut kelompok kami, elastisitas permintaan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi bisnis. Pelaku usaha perlu memahami bagaimana konsumen bereaksi terhadap perubahan harga sebelum mengambil keputusan.

Jika suatu produk memiliki banyak barang pengganti dan permintaannya elastis, kenaikan harga perlu dipertimbangkan dengan cermat. Konsumen mungkin beralih kepada pesaing apabila perbedaan harga tidak diimbangi dengan kualitas atau manfaat tambahan.

Sebaliknya, pada produk dengan permintaan yang relatif inelastis, perubahan harga mungkin tidak menimbulkan perubahan jumlah pembelian yang terlalu besar. Namun, kondisi tersebut bukan berarti pelaku usaha bebas menaikkan harga. Faktor daya beli, kepuasan pelanggan, dan persaingan tetap perlu diperhatikan.

Ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha juga dapat mempertimbangkan langkah lain sebelum menaikkan harga. Misalnya, mengurangi pemborosan bahan baku, meningkatkan efisiensi operasional, mengevaluasi pemasok, atau menyediakan variasi produk dengan ukuran dan harga berbeda.

Selain itu, pelaku usaha dapat mengumpulkan informasi melalui survei pelanggan, catatan penjualan, dan evaluasi respons konsumen terhadap promosi. Informasi tersebut membantu pelaku usaha memperkirakan perubahan permintaan dengan lebih baik. Meskipun demikian, data penjualan saja belum tentu cukup untuk membuktikan bahwa perubahan jumlah pembelian semata-mata disebabkan oleh perubahan harga, karena faktor lain juga dapat berpengaruh.

Bagi kami, strategi bisnis yang baik bukan sekadar menetapkan harga setinggi mungkin, melainkan memahami kebutuhan konsumen dan menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, biaya, serta daya beli masyarakat.

Kesimpulan

Menurut kelompok kami, elastisitas permintaan merupakan konsep ekonomi yang dapat digunakan untuk memahami keputusan pembelian dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan harga dapat menimbulkan respons yang berbeda karena setiap barang memiliki karakteristik tersendiri dan setiap konsumen memiliki kebutuhan serta kemampuan ekonomi yang tidak sama.

Hasil penelitian mengenai minuman berpemanis di Indonesia menunjukkan bahwa permintaan produk tertentu dapat bersifat elastis. Sementara itu, penelitian mengenai konsumsi pangan menunjukkan bahwa sejumlah kelompok pangan memiliki permintaan yang relatif inelastis. Perbedaan ini menegaskan pentingnya melihat karakteristik produk dan kondisi konsumen sebelum menarik kesimpulan mengenai dampak perubahan harga.

Bagi pelaku usaha, pemahaman terhadap elastisitas permintaan dapat membantu dalam mengevaluasi harga, memperkirakan perubahan penjualan, dan menyusun strategi yang sesuai dengan kondisi pasar. Namun, keputusan bisnis tetap perlu mempertimbangkan biaya produksi, kualitas, persaingan, dan faktor lain yang memengaruhi permintaan.

Pada akhirnya, menurut kami, keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh harga yang ditetapkan, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha memahami perilaku konsumen. Dengan didukung data penjualan dan penelitian yang relevan, keputusan bisnis dapat dibuat secara lebih terukur dan tidak hanya berdasarkan perkiraan.

Referensi

Amri, N. (2022). Perilaku Konsumsi Pangan Sumber Kalori dan Protein di Provinsi Riau. Agrifo: Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh, 7(1). https://doi.org/10.29103/ag.v7i1.3750

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). (2022). Elastisitas Harga Permintaan Minuman Manis dalam Kemasan (MBDK) di Indonesia. https://cisdi.org/riset-dan-publikasi/publikasi/elastisitas-harga-permintaan-minuman-manis-dalam-kemasan-mbdk-di-indonesia

OpenStax. (2022). Principles of Economics 3e: Price Elasticity of Demand and Price Elasticity of Supply. Rice University. https://openstax.org/books/principles-of-economics-3e/pages/5-1-price-elasticity-of-demand-and-price-elasticity-of-supply

Utaminingsih, D. (2025). Analisis Elastisitas Permintaan Minuman Berpemanis di Indonesia. Tesis Magister Ekonomi Pembangunan, Universitas Gadjah Mada. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/251437