Pelatihan Ekoenzim Mahasiswa PPG UNNES Tumbuhkan Minat Usaha Ibu-Ibu PKK

Mahasiswa PPG Calon Guru Gelombang 1 Pendidikan Bahasa Indonesia 2026
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Desta Sukma Ratri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semarang — Mahasiswa PPG Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengadakan sosialisasi dan pelatihan pembuatan ekoenzim bersama 25 ibu-ibu PKK di Kelurahan Sampangan, Kota Semarang, Minggu (20/9/2026). Kegiatan ini menjadi upaya mengenalkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga sekaligus membuka wawasan masyarakat mengenai potensi pengolahannya menjadi produk yang bernilai guna dan berpeluang dikembangkan sebagai usaha.
Kegiatan yang berlangsung pukul 06.00–10.00 WIB di Jalan Menoreh 1, RT 04/RW 05, diawali dengan senam bersama untuk membangun kebersamaan dan menciptakan suasana akrab antara mahasiswa dan warga. Acara kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai ekoenzim, termasuk pengenalan bahan organik yang dapat digunakan dan bahan yang perlu dihindari. Setelah memperoleh penjelasan, peserta menyaksikan demonstrasi proses pembuatan ekoenzim, kemudian mengikuti praktik secara langsung agar lebih memahami tahapan pengolahannya. Selama kegiatan, ibu-ibu PKK juga berkesempatan mengajukan pertanyaan mengenai pemilihan dan persiapan bahan sebelum diolah.
Melalui kegiatan tersebut, ibu-ibu PKK diperkenalkan pada gagasan bahwa sisa organik, seperti kulit buah dan sayuran tertentu, tidak selalu harus berakhir sebagai sampah, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan ekoenzim. Selain mendorong kepedulian terhadap pengelolaan sampah rumah tangga, kegiatan ini juga memperkenalkan kemungkinan pemanfaatan ekoenzim sebagai produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Salah satu peserta mengungkapkan ketertarikannya terhadap potensi ekoenzim untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Ternyata sisa kulit buah dan sayuran bisa dimanfaatkan. Kalau dipelajari lebih lanjut, menarik juga kalau bisa dikembangkan menjadi usaha,” ungkapnya.
Ketertarikan tersebut menjadi langkah awal untuk mengenal peluang usaha berbasis pengolahan sampah organik. Namun, pengembangannya memerlukan pengetahuan dan persiapan lebih lanjut, mulai dari konsistensi proses produksi, kualitas dan keamanan produk, pengemasan, hingga perhitungan biaya serta kebutuhan pasar. Dengan demikian, pemanfaatan ekoenzim tidak berhenti pada pengetahuan tentang pengolahan sampah, tetapi dapat menjadi gagasan kegiatan produktif yang perlu dikaji dan dikembangkan secara bertahap.
Didukung oleh Ketua RT setempat, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong ibu-ibu PKK menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari serta meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah organik. Bagi mahasiswa PPG, kegiatan ini juga menjadi pengalaman dalam menerapkan kepemimpinan, berkomunikasi dengan masyarakat, dan merancang edukasi yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan potensi pemberdayaan masyarakat.
