Kenapa Konten yang "Berantakan" Sekarang Justru Paling Dipercaya?

Management UGM - Marketing & People Enthusiast
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Desti Balqis Alimah Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Coba perhatikan feed media sosialmu hari ini. Konten mana yang benar-benar membuatmu berhenti scroll? Apakah video promosi rapi dengan voice over profesional atau justru video yang terlihat direkam apa adanya dari HP dengan orang sedikit gugup di awal tapi terasa sangat jujur? Kalau jawabanmu yang kedua, kamu tidak sendirian. Ada pola yang cukup konsisten di balik fenomena ini.
Kita hidup di zaman di mana konten dibuat sangat mudah. Siapa pun bisa memposting dan siapa pun berpeluang mendapat views. Karena perhatian begitu mudah didapat, ia kehilangan nilainya jika tidak dibarengi kepercayaan. Orang bisa saja menonton video sampai selesai, tapi tidak otomatis membuat mereka percaya pada brand di baliknya.
Di titik inilah sesuatu yang cukup kontra-intuitif terjadi: konten yang terlalu rapi dan dipoles justru mulai kehilangan panggungnya. Audiens sekarang lebih memilih konten yang terasa sosial, reaktif, jujur, kadang aneh atau humoris. Singkatnya, yang terasa manusiawi.
Riset menunjukkan 62% pengguna mengaku lebih peduli pada keotentikan sebuah konten dibanding seberapa rapi konten dipoles, dan lebih dari 60% penemuan produk baru kini terjadi di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, di mana orang secara aktif mencari konten yang terasa nyata dan manusiawi, bukan iklan brand yang terlalu dipoles.
Konten behind-the-scene yang otentik mencatatkan engagement rate 8,7%, sementara konten branded konvensional hanya 2,1% di kalangan Gen Z. Perbedaan tersebut lebih dari empat kali lipat. Pola serupa juga muncul di ranah UGC (konten buatan pengguna), di mana engagement-nya 28 hingga 70% lebih tinggi dibanding konten brand. Hal tersebut mengindikasikan bahwa audiens lebih percaya rekomendasi dari sesama pengguna dibanding konten asli dari brand itu sendiri. Sebanyak 92% orang mengaku lebih percaya rekomendasi individu, dan 60% menganggap UGC sebagai bentuk konten paling otentik.
Hal ini bukan sekedar soal disukai, tetapi juga berdampak langsung pada penjualan. Halaman produk yang menampilkan minimal 15 konten visual dari pelanggan asli terbukti mengonversi di angka 8,7% dibandingkan hanya 2,1% untuk halaman tanpa UGC sama sekali. Iklan berbaris UGC bahkan menghasilkan biaya akuisisi pelanggan 78% lebih rendah dibandingkan materi iklan hasil produksi studio, dengan click-through rate (CTR) empat kali lebih tinggi dan biaya per klik yang 50% lebih murah.
Semua data ini mengarah pada satu kesimpulan yang sama: brand-brand yang unggul sekarang justru yang sengaja menjauh dari konten yang terlalu dipoles. Ketidaksempurnaan, ritme yang natural, bahkan typo, kini menjadi semacam sinyal keotentikan, meskipun di baliknya AI tetap ikut bekerja. Over-editing mulai dianggap ketinggalaman zaman, sementara sedikit "kegagapan" yang natural justru dianggap wajar, bahkan disukai.
Pertanyaannya: kenapa bisa begitu?
Kenapa Kita Percaya pada Konten yang "Kurang Usaha"?
Ada penjelasan menarik dari dunia ekonomi yang ternyata relevan di sini. Signaling Theory yang awalnya digunakan untuk menjelaskan kenapa orang butuh gelar pendidikan saat melamar kerja, bukan karena gelarnya sendiri penting, tapi karena gelar adalah sinyal yang sulit dipalsukan sembarang orang. Sebuah sinyal baru bisa dipercaya apabila mahal atau sulit untuk dipalsukan.
Logika yang sama berlaku juga pada cara kita menilai brand. Kita tidak bisa langsung tahu apakah sebuah brand itu jujur atau sekadar pandai berpromosi. Karena itu kita mencari "sinyal" melalui hal-hal yang sulit dipalsukan kalau brand tersebut sebenarnya tidak genuine.
Di sinilah letak kejutannya: produksi yang rapi justru sinyal yang murah. Studio, naskah yang halus, dan editan yang mulus... semua bisa dibeli. Brand mana pun, entah benar-benar jujur atau tidak, bisa menyewa agency yang bagus dan tampil sama meyakinkannya. Karena semua orang bisa "membeli" kerapian, kerapian pun kehilangan nilainya sebagai bukti kejujuran.
Sebaliknya, ketidaksempurnaan adalah sinyal yang mahal untuk dipalsukan. Video yang direkam spontan, seseorang yang berbicara agak belepotan di awal, pengambilan gambar yang tidak direncanakan... semuanya sulit direkayasa secara konsisten oleh brand yang sebenarnya tidak punya substansi. Berusaha keras untuk terlihat "tidak berusaha" itu sendiri adalah sebuah paradoks, dan biasanya terlihat jelas.
Jadi, sebuah brand yang berani tampil apa adanya menjadi semacam bukti tidak langsung: mereka tidak perlu menyembunyikan apa pun di balik polesan. Namun, bukan berarti brand harus sengaja tampil berantakan atau berpura-pura amatira. Justru itu risiko baru karena sekarang audiens semakin jeli membedakan mana yang otentik sungguhan, mana yang sekadar "otentik-otentikan" hasil settingan. Yang disinyalkan bukan soal kurang usaha, melainkan soal tidak ada yang disembunyikan. Bedanya tipis, tapi krusial.
Dari Perhatian ke Penjualan: Bagaimana Alurnya
Konten yang jujur dan reaktif memang berhasil menarik perhatian dan membangun kepercayaan. Namun, bagaimana hal itu bisa berubah menjadi hasil bisnis yang nyata, bukan sekadar likes yang lewat begitu saja?
Di era digital saat ini, alur keputusan konsumen tidak lagi bergerak searah, melainkan berputar secara dinamis dalam sebuah ekosistem. Ketika sebuah brand merespons tren yang sedang bergulir di masyarakat, proses konversinya dapat dipetakan melalui kerangka AISAS, yaitu Attention, Interest, Search, Action, dan Share:
Tangkap perhatian lewat tren. Gunakan video mikro di bawah satu menit dengan hook di satu-dua detik pertama, karena di situlah audiens memutuskan untuk lanjut menonton atau langsung scroll. Pilih audio yang sedang viral secara kontekstual. Jangan sekadar ikut-ikutan, tapi pilih yang benar-benar relevan dengan pesan yang ingin disampaikan.
Sambungkan ke masalah nyata audiens. Tren saja tidak cukup kalau tidak ada relevansinya. Konten perlu disambungkan ke pain point yang benar-benar dirasakan audiens agar tidak berhenti di "lucu" tapi berlanjut ke "ini relevan untuk saya".
Berikan CTA yang jelas. Ini elemen yang sering terlewat di konten reaktif. Sudah mendapat perhatian, tetapi audiens tidak diberi arah harus melakukan apa selanjutnya. CTA menjadi jembatan agar ketertarikan tidak menguap begitu saja.
Tangkap niat audiens di DM atau kolom komentar. Sekarang, audiens jarang keluar dari aplikasi untuk riset produk. Mereka mencari tahu melalui komentar, mengecek profil, atau langsung mengirim DM. Ini adalah bentuk "Search" versi native platform sosial dan brand yang siap menangkap momen ini yang punya peluang lebih besar untuk konversi.
Lanjutkan dengan follow-up edukatif. Setelah audiens tertarik dan bertanya, follow-up yang informatif (bukan hard-selling) biasanya menjadi penentu apakah mereka melanjutkan ke pembelian. Pengalaman yang baik di titik ini pula yang nantinya menjadi bahan cerita atau testimoni baru, yang kembali memutar siklus dan menarik perhatian orang lain.
Tentu saja, tidak semua tren layak diikuti. Sebelum ikut arus, ada tiga hal yang perlu dicek lebih dulu: apakah tren ini benar-benar cocok dengan selera dan nilai brand, apakah tren tersebut masih naik daun atau sudah mulai turun (dan apakah bisa bisa diproduksi cepat sebelum keburu baru), dan yang paling penting, apakah ada jalan bagi tren ini untuk mengarahkan audiens ke aksi konkret, entah itu DM, kunjungan profil, atau penjualan.
Penutup
Ada benang merah yang menyambungkan semua ini. Kepercayaan tidak bisa dibeli langsung melalui studi yang bagus atau naskah yang mulus karena semua orang, termasuk brand yang tidak jujur sekalipun, bisa membeli itu. Yang benar-benar membangun kepercayaan justru hal-hal yang sulit dipalsukan: keberanian untuk tampil apa adanya, konsisten, dan tidak takut terlihat "kurang sempurna".
Namun, otentik bukan berarti asal-asalan. Konten yang reaktif dan sedikit random tetap membutuhkan arah, mulai dari cara menangkap perhatian, menyambungkannya dengan kebutuhan nyata audiens, hingga merancang jalur agar ketertarikan itu tidak berhenti di angka likes.
Di tengah arus konten yang semakin deras, brand yang unggul bukan yang paling keras bersuara, melainkan yang paling berani jujur.
Referensi:
Amra & Elma. (2026). Top branded content performance statistics. https://www.amraandelma.com/top-branded-content-performance-statistics/
Beverland, M. B., & Farrelly, F. J. (2010). The quest for authenticity in consumption: Consumers' purposive choice of authentic cues to shape experienced outcomes. Journal of Consumer Research, 36(5), 838–856.
Dentsu Inc. (2005). AISAS: A new consumer behavior model for the internet age. Dentsu Inc.
Hey Prospekt. (2026). 2026 social media trends. https://heyprospekt.com/insights/2026-social-media-trends/
Hootsuite. (2026). Social media trends research. https://www.hootsuite.com/research/social-trends
Spence, M. (1973). Job market signaling. The Quarterly Journal of Economics, 87(3), 355–374.
Sprout Social. (2026). Social media marketing statistics. https://sproutsocial.com/insights/social-media-statistics/
