KKN UNNES Ajak Warga Gondang Kelola Sampah Melalui Model 5G

Mahasiswa S1 Akuntansi yang sedang menempuh semester akhir. Saat ini sedang melaksanakan kegiatan KKN di Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Desti Ruri Ningtias tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kendal — Tim KKN GIAT 16 Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengenalkan Model 5G sebagai pendekatan pengelolaan sampah kepada masyarakat Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber nilai ekonomi.
Model 5G yang diterapkan melalui program GONES (Gondang Green Circular Ecosystem) terdiri atas lima pilar, yaitu Green Waste, Green Economy, Green Community, Green Education, dan Green Governance. Kelima pilar tersebut dirancang untuk mengintegrasikan edukasi, pengolahan dan pemanfaatan sampah, keterlibatan masyarakat, hingga penguatan tata kelola pengelolaan sampah di tingkat desa.
Dalam penerapannya, program tersebut tidak hanya berfokus pada edukasi. Mahasiswa KKN UNNES juga memperkenalkan sejumlah teknologi tepat guna, seperti GAPOS (Galon Komposter), Rocket Stove, dan DRUPLA (Drum Peleleh Plastik). Sampah plastik low value juga diarahkan untuk diolah menjadi paving block, sedangkan sampah high value dapat dikelola melalui Bank Sampah GONES.
Pendekatan tersebut disusun berdasarkan kondisi pengelolaan sampah di Desa Gondang. Sekitar 75 persen sampah anorganik rumah tangga disebut masih tercampur, sementara sebagian sampah plastik masih dibakar atau dibuang bersama sampah lainnya. Di sisi lain, sampah yang memiliki nilai ekonomi juga belum dimanfaatkan secara optimal.
Kepala Desa Gondang menyambut baik gagasan mahasiswa KKN UNNES tersebut. Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi membutuhkan langkah nyata agar dampaknya dapat diantisipasi.
“Saya sangat menghargai ide dan gagasan tentang persampahan. Ini bukan hanya sesuatu yang kita pikirkan, tetapi juga harus kita realisasikan. Sampah saat ini sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kalau kita tidak sungguh-sungguh memperhatikan dampaknya, tentu akan menjadi persoalan ke depannya. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih atas ide dan gagasan kepada teman-teman KKN UNNES yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,” ujar Kepala Desa Gondang.
Dukungan juga disampaikan oleh Dispermades Kendal. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengolahan sampah tersebut dinilai dapat membantu masyarakat menangani persoalan sampah sekaligus berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Pertama-tama, kami mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada adik-adik mahasiswa UNNES yang telah mengadakan sosialisasi dan pelatihan alat pengolahan sampah model 5G. Semoga dengan adanya sosialisasi ini, alat tersebut dapat diterapkan oleh warga Gondang dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar perwakilan Dispermades Kendal.
Ia berharap upaya tersebut dapat menjadi bagian dari penanganan persoalan sampah di Kabupaten Kendal yang saat ini berada dalam kondisi darurat sampah.
“Selain itu, semoga kegiatan ini dapat mengantisipasi permasalahan sampah yang saat ini dihadapi Kendal, yang berada dalam kondisi darurat sampah. Dengan adanya sosialisasi ini, kami berharap penanganan sampah di Desa Gondang dapat dilakukan dan teratasi mulai dari tingkat desa,” lanjutnya.
Sementara itu, Bapperida Kendal turut memberikan apresiasi terhadap temuan dan gagasan yang dibawa mahasiswa KKN UNNES. Menurutnya, inovasi tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pengolahan sampah di Desa Gondang dan perlu dikembangkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan.
"Tentunya kami sangat mendukung temuan yang telah dilakukan oleh adik-adik mahasiswa KKN UNNES terkait dengan pengolahan sampah di Desa Gondang. Temuan ini sangat berkontribusi bagi pengolahan sampah. Kami harapkan ke depannya kolaborasi, baik dari pihak UNNES dan desa ataupun daerah, dapat terjalin lebih baik lagi,” ujar perwakilan Bapperida Kendal.
Bapperida Kendal juga berharap program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Pendampingan lanjutan dari UNNES dinilai penting agar inovasi yang telah diperkenalkan dapat benar-benar diterapkan oleh masyarakat.
“Harapan kami kegiatan ini tidak berakhir di sini saja, tetapi UNNES dapat mendampingi pihak desa supaya lebih mengimplementasikan temuan ini,” lanjutnya.
Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Sebab, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kali sosialisasi atau pelatihan, tetapi membutuhkan kebiasaan dan keterlibatan masyarakat secara terus-menerus.
Melalui penerapan Model 5G, Tim KKN GIAT 16 UNNES berharap langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat berkembang menjadi sistem pengelolaan yang lebih mandiri, partisipatif, dan berkelanjutan di Desa Gondang.
