Inisiatif Anak Muda Mendaur Ulang Minyak Jelantah Menjadi Sabun Ramah Lingkungan

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Desti zahra Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah terpaan krisis lingkungan dalam meghadapi limbah dan juga tantangan ekonomi yang terus membanyangi indonesia, para generasi muda memberikan solusi untuk masalah ini yang sering di abaikan. Salah satu permasalahan yang kurang diperhatikan adalah Limbah Minyak Jelantah, minyak goreng bekas yang di buang sembarangan keselokan, sungai dan tanah sehingga mencemari lingkungan dan mencemari ekosistem lingkungan.
Indonesia, sebagai salah satu negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, memproduksi sekitar 45,5 juta ton atau sekitar 59% dari total seluruh minyak kelapa sawit secara global. Jumlah tersebut malah berbanding lurus dengan tingginya konsumsi minyak goreng yang di gunakan oleh masyarakat indonesia. Menurut data United States Departement Of Agricultre (USDA) bahwa pada tahun 2019 indonesia tercatat sebagai negara tertinggi di dunia dengan penggunaan konsumsi minyak goreng terbanyak.

Berangkat dari keresahan tersebut,para mahasiswa dari Universitas Pamulang memutuskan untuk mencari solusi yang tepat. Kami memulai dengan melakukan riset sederhana untuk mencari tahu bahwa apakah memungkinkan minyak jelantah ini memiliki nilai guna lain? Jawabannya ternyata sangat mungkin jika mendaur ulannya dengan cara yang tetpat. Setelah melalui percobaan, mencari referensi dari berbagai sumber serta berkonsultasi dengan sumber-sumber literasi, kami menemukan cara yang tepat dalam mendaur ulang minyak jelantah menjadi sabun pembersih.
Prosesnya cukup sederhana namun membutuhkan ketelitian apakah berhasil atau tidak nya menjadi sebuah sabun layak pakai. Kami menambahkan bahan pendukung dan bahan alami seperti daun pandan, bubuk kopi, dan sereh sebagai pengharum alami. Kombinasi tersebut menghasilkan sabun cuci yang efektif untuk membersihkan kainLap kotor bekas memasak dan kesetan maupun dinding kamar mandi yang kotor yang ramah ramah lingkungan. Produk sabun ini kemudian tidak hanya kami gunakan sendiri, tetapi juga di distribusikan kepada warga sekitar untuk memamastikan efektif atau nya tidak sabun tersebut dalam membantu mengurangi limbah. Menariknya, kami juga menerapkan sistem barter dengan warga dapat menukarkan minyak jelantah yang mereka kumpulkan dengan sabun hasil produksi kami.
Inisiatif ini bukan sekadar aksi kecil dalam menjaga lingkungan, tetapi juga bentuk edukasi langsung kepada masyarakat. Kami ingin mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap limbah rumah tangga, dan menunjukkan bahwa dari sesuatu yang tampak tidak berguna, bisa lahir sesuatu yang bermanfaat. Langkah ini kami yakini sebagai bentuk kontribusi kecil namun bermakna dalam membangun kesadaran dan menciptakan budaya ramah lingkungan.
