Kemampuan Komunikasi dan Bahasa Tubuh Menentukan Berhasil Tidaknya Presentasi

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Destiana Zakiyah Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Destiana Zakiyah Azzahra, Gusmawati, Muhammad Ilham Prastyo, Rio Julyan Rama, Shendi Saputra
Mata Kuliah Komunikasi Bisnis Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang

Pernah melihat presentasi dengan slide yang rapi dan data yang lengkap, tetapi audiensnya malah sibuk melihat ponsel? Atau sebaliknya, ada pembicara yang materinya biasa saja, tetapi semua orang menyimak sampai selesai? Perbedaannya sering kali bukan pada isi slide, melainkan pada cara pembicara menyampaikannya. Dalam dunia bisnis, presentasi dipakai untuk menawarkan produk, melaporkan hasil kerja, hingga meyakinkan investor. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dan penggunaan bahasa tubuh menjadi dua hal yang sebaiknya tidak dianggap sepele.
Presentasi Itu Proses Komunikasi, Bukan Sekadar Berbicara
Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian pesan yang maknanya harus sama bagi pengirim dan penerima (Effendy, 2007). Dalam presentasi bisnis, pembicara adalah pengirim pesan, materi adalah pesannya, dan audiens adalah penerimanya. Pesan itu dapat berjalan lancar atau justru tersendat tergantung pada cara menyampaikannya. Kesalahan dalam menyampaikan pesan bisa menimbulkan salah paham, keputusan yang keliru, bahkan konflik antarpihak (Subhan & Sari, 2024).
Karena itu, berbicara di depan umum tidak hanya soal berani. Kemampuan ini mencakup cara mengatur materi, mengendalikan nada suara, memakai bahasa tubuh, membangun interaksi dengan audiens, dan menjawab pertanyaan secara profesional (Tuilan, 2024, dalam Nurfalah et al., 2026).
Kemampuan Komunikasi: Pesan yang Jelas, Runtut, dan Meyakinkan
Pembicara yang baik umumnya menyampaikan pesan dengan jelas, tepat, dan meyakinkan, serta mau memahami sudut pandang lawan bicaranya (Schoop, 2021). Dalam presentasi, hal ini terlihat dari beberapa kebiasaan sederhana:
• membuka presentasi dengan cara yang menarik, misalnya lewat pertanyaan, cerita singkat, atau contoh kasus;
• menyusun alur dari pembukaan, isi, sampai penutup agar mudah diikuti;
• memakai bahasa yang sopan dan profesional, karena bahasa yang baik membangun kepercayaan terhadap pembicara dan usahanya (Subhan & Sari, 2024).
Peserta pelatihan public speaking pada pegawai hotel, misalnya, melaporkan bahwa setelah berlatih mereka mampu menyusun presentasi dengan lebih teratur dan mendapat tanggapan lebih positif dari rekan kerja (Nurfalah et al., 2026).
Bahasa Tubuh: Pesan yang Tidak Diucapkan
Komunikasi nonverbal adalah pesan yang disampaikan tanpa kata-kata, lewat gerak tubuh, ekspresi wajah, dan simbol lain. Karena sifatnya spontan, bahasa tubuh cenderung dianggap lebih jujur dan dapat memperkuat pesan lisan (Kusumawati, 2015). Dalam komunikasi bisnis, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara bahkan bisa menegaskan atau menggantikan pesan verbal (Guffey & Loewy, 2021, dalam Argarini, 2026).
Saat presentasi, ada beberapa hal yang biasanya diperhatikan audiens. Tatapan mata menunjukkan bahwa pembicara peduli pada pendengarnya. Gerakan tangan yang wajar membantu menekankan poin penting. Nada suara yang bervariasi dan jeda yang tepat membuat penjelasan tidak terdengar monoton. Postur yang tegak dan terbuka memberi kesan percaya diri.
Apa Kata Penelitian?
Beberapa temuan dari kajian yang dipakai untuk artikel ini menarik untuk dicermati:
• Setelah mengikuti pelatihan public speaking, peserta menggunakan bahasa tubuh dan kontak mata dengan lebih terarah, dan pengendalian suaranya (intonasi, artikulasi, dan tempo) menjadi lebih baik (Nurfalah et al., 2026).
• Di sebuah kursus bahasa untuk komunikasi bisnis, peserta menonton video presentasi profesional lalu menirukan intonasi, jeda bicara, dan bahasa tubuh pembicaranya, serta berlatih menjawab pertanyaan sulit dari peserta lain yang berperan sebagai investor (Nurfadillah et al., 2026).
• Latihan yang disertai umpan balik terbukti dapat meningkatkan keterampilan presentasi lisan (De Grez et al., 2009).
Temuan ini menunjukkan satu hal penting: kemampuan komunikasi dan bahasa tubuh bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Perlu diingat juga bahwa sebagian penelitian tersebut skalanya kecil, misalnya hanya melibatkan satu informan utama, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk semua orang.
Ada pula mitos yang sering beredar, yaitu bahwa kata-kata hanya berpengaruh 7% sedangkan bahasa tubuh 55%. Angka ini berasal dari percobaan Mehrabian dan Wiener (1967) pada situasi khusus, yaitu ketika perasaan yang diucapkan tidak sesuai dengan ekspresi pembicara. Jadi angka itu tidak bisa dipakai untuk semua jenis presentasi. Yang lebih tepat dipahami: isi pesan dan bahasa tubuh sama-sama penting, dan jika keduanya tidak selaras, pembicara akan terlihat kurang meyakinkan.
Dampaknya bagi Keberhasilan Presentasi
Ketika kemampuan komunikasi dan bahasa tubuh berjalan beriringan, dampaknya terasa pada beberapa hal. Audiens lebih mudah memahami isi materi karena pesannya runtut dan jelas. Audiens lebih percaya pada pembicara karena sikapnya meyakinkan. Perhatian audiens lebih terjaga sehingga suasana presentasi lebih hidup. Pembicara pun lebih tenang saat menghadapi pertanyaan spontan, karena sudah terbiasa berlatih (Nurfalah et al., 2026).
Sebaliknya, jika salah satunya lemah, presentasi mudah kehilangan daya tariknya. Pesan yang jelas tetapi disampaikan dengan wajah tegang dan suara datar akan terasa hambar. Penampilan yang menarik tanpa isi yang tersusun rapi juga tidak membuat audiens paham.
Hal ini makin relevan ketika presentasi dilakukan secara daring. Ekspresi nonverbal menjadi terbatas dalam interaksi digital (Monica et al., 2025, dalam Sari & Asbari, 2025), sehingga pembicara perlu memanfaatkan nada suara, ekspresi wajah, dan tampilan visual yang jelas untuk mengimbanginya.
Penutup
Presentasi bisnis yang berhasil tidak lahir dari slide yang bagus saja. Ia lahir dari pembicara yang mampu menyampaikan pesan dengan jelas dan meyakinkan, serta menopangnya dengan bahasa tubuh yang selaras dengan ucapannya. Kabar baiknya, keduanya dapat dilatih. Mulailah dengan menyusun alur presentasi yang rapi, berlatih di depan teman atau merekam diri sendiri, lalu perhatikan gerak tangan, tatapan mata, dan nada suara. Dengan latihan yang teratur dan masukan dari orang lain, siapa pun bisa tampil lebih percaya diri di depan audiens.
Referensi
Argarini, F. (2026). Digitalisasi komunikasi bisnis UMKM sebagai upaya meningkatkan daya saing. Nivedana: Journal of Communication and Language, 7(3), 784–797.
De Grez, L., Valcke, M., & Roozen, I. (2009). The impact of an innovative instructional intervention on the acquisition of oral presentation skills in higher education. Computers & Education, 53(1), 112–120.
Effendy, O. U. (2007). Ilmu komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Kusumawati, T. I. (2015). Komunikasi verbal dan nonverbal. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 6(2), 83–98.
Mehrabian, A., & Wiener, M. (1967). Decoding of inconsistent communications. Journal of Personality and Social Psychology, 6(1), 109–114.
Nurfadillah, Kadar, A. S., & Darmuh, M. M. (2026). Implementasi pengajaran Bahasa Mandarin berbasis English for Specific Purposes (ESP) dalam membentuk kesiapan komunikasi bisnis peserta di Beijing Institute Pare. Changlun: Journal of Chinese Language, Literature, Culture, and Linguistic, 5(1), 1–11.
Nurfalah, F., Lestari, A. D., Wihayati, W., Khumayah, S., & Mohd Alias, M. A. (2026). Pelatihan public speaking dalam meningkatkan kompetensi komunikasi pegawai hotel. JACS (Journal of Applied Community Service), 2(1), 31–39.
Sari, I. A. P., & Asbari, M. (2025). Peran strategis komunikasi bisnis dalam meningkatkan efektivitas organisasi di era digital. PRINSIP: Portal Riset & Inovasi Sistem Perangkat Lunak, 3(4), 256–263.
Schoop, M. (2021). Negotiation communication revisited. Central European Journal of Operations Research, 29(1), 163–176.
Subhan, R., & Sari, A. D. P. (2024). Penggunaan bahasa dalam meningkatkan efektivitas negosiasi dan keberhasilan wirausaha. Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan, 7(2), 114–123.
