Standar Kecantikan atau Standar Konsumsi?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Destiana Zakiyah Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Perempuan Seolah Harus Terus Memperbaiki Diri?
Pernahkah kamu membuka media sosial dan tiba-tiba merasa ada yang kurang dari dirimu? Kulit kurang cerah, badan kurang langsing, alis kurang rapi, rambut kurang berkilau. Padahal sebelum membuka layar, kamu merasa baik-baik saja. Aku sendiri pernah mengalaminya, dan aku yakin bukan hanya aku. Perasaan "kurang" yang muncul tiba-tiba ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari sistem besar yang membuat perempuan terus merasa harus memperbaiki diri. Pertanyaannya, apakah standar kecantikan benar-benar soal kecantikan, atau sebenarnya soal konsumsi?
Kecantikan yang Selalu Berubah
Standar kecantikan tidak pernah tetap. Di satu era, tubuh berisi dianggap lambang kemakmuran, di era lain tubuh sangat kurus yang dianggap ideal. Hari ini tren bergeser lagi, dari kulit glowing, wajah glass skin, hingga tampilan clean girl. Sesuatu yang dianggap indah sepuluh tahun lalu bisa dianggap ketinggalan zaman hari ini.
Kalau kecantikan benar-benar alami dan universal, standarnya tidak akan berubah secepat itu. Fakta bahwa ia terus bergeser menunjukkan bahwa standar ini dibentuk oleh budaya, media, dan kepentingan ekonomi, bukan oleh kodrat perempuan. Dan kalau standarnya saja berubah-ubah, mengapa kita harus capek mengejarnya?
Standar Kecantikan di Indonesia: Putih, Mulus, dan Langsing
Di Indonesia, standar yang paling terasa adalah kulit putih, wajah mulus, dan tubuh langsing. Sejak kecil kita sudah terbiasa melihat iklan dan tontonan yang menampilkan perempuan dengan ciri-ciri itu. Antropolog Laurie Saraswati (2013) menjelaskan bahwa di Indonesia, kulit putih sudah lama dikaitkan dengan citra perempuan cantik dan modern, dan citra ini diperkuat terus-menerus lewat media dan iklan produk kecantikan.
Padahal, orang Indonesia punya warna kulit yang sangat beragam, dari yang cerah, sawo matang, hingga gelap. Cantiknya orang itu berbeda-beda. Menurutku, tidak masuk akal kalau semua perempuan dipaksa menuju satu patokan yang sama, seolah warna kulit dan bentuk tubuh yang lain adalah "kesalahan" yang harus dikoreksi.
Aku sendiri pernah merasakan dampaknya. Suatu kali, saat ingin membeli sebuah produk, aku melihat iklannya menampilkan kulit yang terlihat sangat mulus, sedangkan kulitku tidak seperti itu. Aku jadi ragu untuk membeli, seolah produk itu bukan untuk orang sepertiku. Di lain waktu, aku sering merasa insecure ketika melihat influencer dengan perut yang rata, sementara bagiku untuk mencapai tahap itu rasanya sangat sulit. Padahal aku tahu setiap orang punya kondisi tubuh yang berbeda, tetapi perasaan itu tetap muncul begitu saja.
Dari Rasa Kurang Menjadi Peluang Bisnis
Penulis Naomi Wolf (1990) dalam The Beauty Myth berargumen bahwa standar kecantikan berfungsi sebagai tekanan sosial yang membuat perempuan terus sibuk dengan penampilannya. Di sisi lain, pelaku bisnis memahami satu hal sederhana: orang yang merasa kurang akan lebih mudah membeli.
Iklan kecantikan jarang hanya menjual produk. Ia menjual masalah lebih dulu, lalu menawarkan solusinya. Pori-pori besar, flek hitam, bulu halus, hingga lingkar mata diperlihatkan sebagai "masalah" yang harus segera diatasi. Setelah kita yakin itu masalah, produk terasa seperti kebutuhan, bukan lagi keinginan. Kini tren skincare routine berlapis-lapis ikut memperkuat anggapan bahwa kulit yang baik hanya bisa dicapai dengan banyak produk. Perawatan diri sebenarnya bukan hal buruk. Masalahnya muncul ketika perawatan itu berubah dari pilihan menjadi kewajiban.
Pengalamanku tadi menunjukkan sisi lain dari pola ini. Iklan yang terlalu mulus tidak hanya membuat orang ingin membeli, tetapi juga bisa membuat orang yang kulitnya berbeda merasa tidak termasuk dalam target produknya.
Cara Kerjanya di Dalam Pikiran
Secara psikologis, ada beberapa hal yang membuat tekanan ini terasa kuat.
Pertama, perbandingan sosial. Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Di media sosial, pembandingnya adalah foto yang sudah diatur pencahayaan dan sudutnya, bahkan disunting. Penelitian Fardouly dkk. (2015) menemukan bahwa membandingkan penampilan di media sosial berkaitan dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap tubuh pada perempuan muda. Rasa insecure saat melihat influencer berperut rata adalah contoh nyatanya. Kita membandingkan hidup nyata kita dengan versi terbaik orang lain yang sudah dipoles. Jelas tidak adil untuk diri sendiri.
Kedua, objektifikasi. Fredrickson dan Roberts (1997) menjelaskan bahwa perempuan yang terus dilihat dan dinilai dari penampilannya akan mulai menilai dirinya dari sudut pandang orang lain. Tanpa sadar, kita menjadi "pengawas" bagi tubuh sendiri dan sibuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Ketiga, algoritma media sosial. Semakin sering kita berhenti pada konten kecantikan, semakin banyak konten sejenis yang muncul. Standar tertentu pun terasa seperti kenyataan umum, padahal itu hanya sebagian kecil dari dunia.
Akar Masalahnya: Kurang Percaya Diri dan Kurang Mencintai Diri Sendiri
Menurutku, tekanan dari luar baru berhasil kalau di dalam diri kita ada ruang yang kosong, yaitu kurangnya rasa percaya pada diri sendiri. Ketika kita tidak yakin dengan diri sendiri, iklan yang terlalu sempurna bisa membuat kita ragu, dan unggahan orang lain bisa membuat kita merasa tertinggal.
Dari situ muncul kebiasaan yang melelahkan: terus membandingkan diri dengan orang lain. Bentuk tubuh yang dianggap kurang ideal akhirnya menjadi masalah besar, padahal setiap orang memang berbeda. Ada yang bertubuh kurus, berisi, tinggi, pendek, dan semuanya wajar. Tubuh bukan lomba yang harus dimenangkan.
Self love di sini bukan berarti merasa sempurna atau berhenti merawat diri. Self love berarti menerima bahwa diri kita layak dihargai apa adanya, lalu merawat diri karena sayang, bukan karena takut tidak diterima.
Dampak yang Tidak Selalu Terlihat
Dampaknya tidak berhenti pada isi dompet, meski itu nyata. Ada istilah pink tax, yaitu kecenderungan produk untuk perempuan dijual lebih mahal dibanding produk serupa untuk laki-laki. Laporan Departemen Perlindungan Konsumen Kota New York (2015) menemukan pola harga seperti ini pada banyak kategori produk. Ditambah waktu dan tenaga untuk perawatan, beban ini tidak ringan.
Dampak yang lebih dalam ada pada kesehatan mental. Berbagai penelitian menghubungkan paparan citra tubuh ideal di media dengan ketidakpuasan terhadap tubuh, kecemasan, dan rendahnya kepercayaan diri (Grogan, 2016). Rasa tidak cukup baik juga bisa terbawa ke bidang lain, seperti belajar, bekerja, dan bergaul. Waktu yang dipakai untuk memikirkan kekurangan penampilan adalah waktu yang tidak dipakai untuk mengembangkan minat, keterampilan, atau sekadar beristirahat.
Versi Cantik Sendiri
Menurutku, kita tidak perlu memenuhi ekspektasi orang lain. Setiap orang berhak punya versi cantiknya sendiri. Justru itu yang membuat kita berbeda dari orang lain. Kalau semua orang mengejar satu bentuk yang sama, kita kehilangan keunikan masing-masing.
Ini bukan berarti berdandan itu salah. Banyak perempuan merasa senang dan berekspresi lewat riasan, busana, atau perawatan kulit, dan itu sah-sah saja. Kuncinya ada pada pertanyaan: apakah ini pilihanku, atau tuntutan yang kuterima begitu saja?
Beberapa langkah kecil bisa membantu:
• Kenali pemicunya. Perhatikan akun atau konten yang membuatmu merasa kurang, lalu atur ulang beranda media sosialmu.
• Kritis terhadap iklan. Tanyakan apakah masalah yang disebutkan benar-benar masalah, atau hanya dibuat terdengar seperti masalah.
• Ukur kebutuhan, bukan tren. Beli sesuatu karena memang perlu, bukan karena semua orang memakainya.
• Perluas ukuran nilai diri. Kecantikan hanya satu dari banyak hal yang membentuk seseorang, bersama pikiran, karakter, dan karya.
Peran Platform dan Industri: Perluas Definisi Cantik
Perubahan tidak bisa dibebankan hanya pada individu. Platform media sosial, iklan, dan produsen di Indonesia punya peran besar. Menurutku, mereka seharusnya memperluas pasar dan representasinya, tidak hanya untuk kulit putih, tetapi juga untuk kulit sawo matang, tan, dan gelap. Rentang warna produk seperti alas bedak, tabir surya, dan perawatan kulit perlu disediakan untuk semua warna kulit.
Hal yang sama berlaku untuk bentuk tubuh. Badan yang tidak selalu "ideal" seharusnya bukan masalah besar. Platform dan merek perlu menampilkan lebih banyak perempuan dengan warna kulit, bentuk tubuh, dan ciri yang beragam, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian wajar dari yang disebut cantik. Kalau iklan menampilkan kulit yang apa adanya, orang sepertiku tidak perlu ragu hanya karena kulitnya tidak sama dengan yang ada di layar. Kalau yang tampil beragam, perempuan yang menontonnya juga akan lebih mudah merasa dirinya diterima.
Penutup
Jadi, apakah yang kita hadapi standar kecantikan atau standar konsumsi? Jawabannya mungkin keduanya, dan keduanya saling menguatkan. Standar kecantikan menciptakan rasa kurang, sementara industri menawarkan cara untuk menutupinya, lalu standar itu bergeser lagi dan siklusnya berulang.
Perempuan tidak "harus" terus memperbaiki diri. Yang terjadi adalah ada sistem yang diuntungkan ketika perempuan merasa begitu. Dengan memahami cara kerjanya, kita bisa mulai lebih percaya pada diri sendiri, berhenti membandingkan diri, dan berani menentukan versi cantik kita sendiri. Di saat yang sama, platform dan industri perlu ikut berubah agar semua jenis kecantikan punya tempat. Merasa cukup adalah hak, bukan hadiah yang harus dibeli.
