AI VS Etika: Apakah Masa Depan Kita Terancam?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Destra Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengalami kemajuan pesat yang menakjubkan dalam beberapa dekade terakhir dalam mengubah pandangan masyarakat mengenai teknologi. Kecerdasan buatan sendiri merupakan cabang ilmu yang mengkaji bagaimana komputer dapat memiliki kemampuan intelektual untuk membantu dalam menyelesaikan berbagai tugas atau aktivitas manusia dengan efektif dan tepat.
Kecerdasan Buatan (AI) telah membawa sejumlah keunggulan yang mengubah paradigma di berbagai bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, bisnis hingga pemerintahan. Namun, di balik berbagai keunggulannya, penggunaan AI juga memunculkan dilema etika, khususnya dalam konteks filsafat.
Nilai Fundamental Filsafat
Dalam konteks filsafat, terdapat tiga nilai fundamental sebagai landasan untuk berpikir dan mengkaji bagaimana relevansi dari penyalahgunaan AI terhadap ketiga nilai tersebut. Ketiga nilai fundamental ini adalah ontologi, epistemologi dan aksiologi.
1. Ontologi
Sebagai cabang filsafat, ontologi mengemukakan pemahaman tentang subjek yang sedang diselidiki, mengulas hal-hal yang ingin kita ketahui, sejauh mana kita ingin mengetahui, atau suatu tinjauan tentang teori tentang keberadaan.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah penyalahgunaan AI memiliki dampak yang serius, seberapa jauh pengaruh penyalahgunaan AI dalam kehidupan kita, dan bagaimana sikap manusia terhadap penyalahgunaan AI merupakan bentuk dari cabang ontologi dimana cabang ini mendorong kita untuk menyelidiki pertanyaan pokok mengenai penyalahgunaan AI dan hubungannya dengan realitas manusia.
2. Epistemologi
Nilai epistemologis berkaitan dengan cara kita memahami pengetahuan, bagaimana kita mencapai pengetahuan itu, dan seberapa dapat dipercaya pengetahuan tersebut. Epistemologis berbicara mengenai diskusi yang menyoroti sumber-sumber dan asal-usul pengetahuan dengan menyelidiki, belajar, dan berusaha untuk mengungkap prinsip-prinsip dasar.
Ketika kita berbicara tentang penyalahgunaan AI, ada beberapa aspek epistemologis yang relevan. Hal tersebut seperti bagaimana cara kita dalam menggunakan AI dan megetahui bahwa penyalahgunaan AI dapat mempengaruhi penggunanya dan menjadikan penggunanya mengandalkan sistem AI tanpa memahami batasan atau ketidakpastian yang melekat pada hasil yang mereka berikan.
3. Aksiologi
Nilai aksiologi melibatkan pemahaman terhadap nilai-nilai, termasuk aspek-aspek estetika, etika, dan moral. Esensi dari aksiologi adalah menjelajahi manfaat yang manusia peroleh dari pengetahuan yang dimilikinya, serta mengeksplorasi konsep baik atau buruk, benar atau salah.
Melalui pendekatan ini, aksiologi menjadi penting dalam mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan kehidupan manusia, seperti penyalahgunaan kecerdasan buatan. Dengan demikian, aksiologi berfungsi sebagai panduan untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi terus berjalan sejalan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Etika dan Moral dengan Penyalahgunaan AI
Berangkat melalui ketiga nilai fundamental tersebut, refleksi mengenai penyalahgunaan AI terhadap nilai-nilai filsafat sangatlah bermanfaat untuk mencegah penyalahgunaan AI di masa ini. Lebih lanjut membahas mengenai ketiga nilai fundamental tersebut, nilai etika dan moral pada nilai aksiologi memainkan peran yang cukup besar pada hubungannya dengan penyalahgunaan AI. Penggunaannya yang semakin luas dan canggih telah menimbulkan serangkaian tantangan etika yang mendalam.
Salah satu tantangan utamanya adalah privasi dan keamanan data, di mana penggunaan AI untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpan informasi pribadi dapat mengancam hak privasi individu. Selain itu, keputusan yang diambil oleh algoritma AI sering kali tidak transparan, sehingga meningkatkan risiko diskriminasi dan ketidakadilan.
Penyalahgunaan AI juga menjadi kekhawatiran besar, mulai dari penggunaan algoritma untuk menyebarkan informasi palsu atau memanipulasi opini publik hingga penggunaan teknologi seperti deepfake untuk kegiatan kriminal seperti peretasan dan penipuan. Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang penggantian pekerjaan oleh AI, yang mana hal tersebut dapat menyebabkan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi.
Peran Pengembang dan Pengguna AI
Berkaca melalui permasalahan yang timbul akibat penyalahgunaan AI yang tidak lain dan tidak bukan akan melibatkat para pengembang dan pengguna AI, memunculkan pertanyaan siapa yang bertanggung jawab mengenai permasalahan tersebut.
Tanggung jawab moral dalam penggunaan AI bukanlah tanggung jawab dari pengembang AI saja. Namun, pengguna AI sangatlah penting dalam memastikan penggunaan teknologi ini etis dan bertanggung jawab. Para pengembang memiliki kewajiban untuk merancang sistem AI dengan memperhatikan prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai etika yang mendasar, serta mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari teknologi yang mereka ciptakan.
Di sisi lain, pengguna AI juga memiliki tanggung jawab untuk menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab, memahami potensi dampaknya, dan menjaga integritas moral dalam penggunaannya. Hal ini mencakup penggunaan data dengan etika, menghindari diskriminasi atau penyalahgunaan, dan selalu mempertimbangkan konsekuensi etis dari keputusan yang diambil dengan bantuan AI.
Kesimpulan
Dalam perjalanan perkembangan kecerdasan buatan (AI), pertanyaan etika dan moral memainkan peran yang semakin penting. Meskipun AI telah membawa keuntungan besar dalam berbagai bidang, tetapi dilema moral dan etis terus menghantui langkah-langkahnya. Di sisi lain, penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab atau penyalahgunaan teknologi ini membuka pintu bagi konsekuensi yang merugikan baik bagi pengembang maupun pengguna AI.
Oleh karena itu, penting bagi pengembang dan pengguna AI untuk menjaga kesadaran akan nilai etika dari setiap langkah yang mereka ambil. Dengan demikian, melalui keterlibatan aktif dalam refleksi etis dan penerapan prinsip-prinsip nilai fundamental yang kuat, kita dapat memastikan bahwa penggunaan AI tetap sesuai dengan nilai-nilai yang mendasar dan memberikan manfaat bagi semua orang.
Sumber Referensi
Dwi Swasono Rachmad, & Widyastuti. (2020). Filsafat Ontologi Kecerdasan Buatan Pada Perkembangan Teknologi Informasi. Prosiding SISFOTEK, 4(1), 225 - 229. Retrieved from https://seminar.iaii.or.id/index.php/SISFOTEK/article/view/217
Relevansi Filsafat dalam Era Teknologi: Eksplorasi Etika dan Moralitas dalam Pengembangan Kecerdasan Buatan. (2024). MOUSE JURNAL HUMANIORA, 1(1), 13-19. https://journal.lintasgenerasi.com/index.php/mouse/article/view/23
Nasution, R. A. (2023, November 28). Ontologi Teknologi Implikasi Filsafat terhadap Perkembangan Teknologi Modern. (Vol. 1 No. 2 (2023): Literacy Notes). https://liternote.com/index.php/ln/article/view/30/28
Hifni, M. (2018). Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dalam Keilmuan. STAIN Madura,(December).
