Konten dari Pengguna

Di Balik Kurban: Mengapa Memeriksa Riwayat Obat Hewan Itu Wajib bagi Muslim?

Desty Dafitriani Mulyana

Desty Dafitriani Mulyana

Mahasiswa Farmasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Memiliki Minat dalam Menulis dan Mengembangkan Skill

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Desty Dafitriani Mulyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sapi Kurban Idul Adha. Foto oleh Alwi Hafizh Al Mumtaz dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/hewan-binatang-fauna-pedesaan-4840958/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sapi Kurban Idul Adha. Foto oleh Alwi Hafizh Al Mumtaz dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/hewan-binatang-fauna-pedesaan-4840958/

Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Dalam Islam, kurban haruslah Thayyib (baik/berkualitas), yang artinya hewan tersebut harus sehat dan bebas dari unsur yang membahayakan tubuh manusia. Dari kacamata farmasi, ada satu risiko yang sering luput dari pengawasan: Residu Obat Hewan.

Standar 'Thayyib': Bebas dari Residu Antibiotik

Hewan ternak terkadang mendapatkan pengobatan antibiotik atau hormon sebelum dijual. Dalam dunia farmasi, setiap obat memiliki Withdrawal Period atau masa henti obat—yakni waktu yang dibutuhkan agar sisa obat dalam tubuh hewan hilang sepenuhnya sebelum aman dikonsumsi manusia.

Mengonsumsi daging yang masih mengandung residu antibiotik berisiko memicu resistensi antimikroba pada manusia. Berdasarkan literatur dari World Health Organization (WHO), resistensi ini adalah ancaman kesehatan global. Memastikan hewan kurban bebas dari residu obat adalah bentuk nyata dari menjaga amanah kesehatan umat.

Waspada Zoonosis dan Keamanan Pangan

Penyakit zoonosis (penyakit hewan yang menular ke manusia) seperti antraks atau penyakit mulut dan kuku (PMK) harus menjadi perhatian utama. Berdasarkan panduan dari Kementerian Pertanian RI, pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan postmortem (sesudah disembelih) sangat krusial.

Secara farmakologi, daging dari hewan yang sedang stres atau sakit memiliki kadar pH yang tidak stabil, yang mempercepat pembusukan dan menurunkan kualitas gizi. Islam mengajarkan untuk menyembelih dengan cara yang paling ihsan agar hewan tidak stres, yang secara sains terbukti menjaga kualitas daging tetap optimal.

Sterilitas dalam Pembagian Daging

Nilai Islam mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman. Dalam konteks kurban, penggunaan kantong plastik hitam (hasil daur ulang) untuk membungkus daging sangat tidak disarankan secara medis. Plastik daur ulang sering mengandung zat karsinogenik yang dapat berpindah ke daging yang masih segar dan hangat.

Saran dari literatur kesehatan masyarakat adalah menggunakan wadah transparan food grade atau bahan alami seperti daun jati dan daun pisang yang lebih ramah lingkungan dan aman secara kimiawi.

Kesimpulan

Memilih hewan kurban yang sehat secara medis dan sah secara syariat adalah bentuk tertinggi dari ketakwaan. Dengan memperhatikan riwayat kesehatan hewan dan proses distribusi yang higienis, kita tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga menjaga keselamatan jiwa (Hifdzun Nafs) sesama Muslim yang menerima daging tersebut.