Mengetuk Nurani Birokrat Untuk Hadirkan Perpustakaan Malam Bagi Kelas Pekerja

Saya Mahasiswa Jurusan Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Deswintha Sri Enzely N tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa bilang edukasi hanya untuk mereka yang duduk di bangku sekolah? Sejak pendidikan jenjang dasar hingga menengah, perpustakaan menjadi satu elemen fisik yang terasosiasi dengan baik bersamaan dengan upaya pendidik meningkatkan minat baca para siswanya. Minat baca dipercaya menjadi fondasi intelektualitas bagi seseorang untuk berkembang, bahkan ibarat seorang Josep Goebbels, gerakan Gemar Baca Buku’ menjelma bak propaganda.
Tentu anak kelahiran 1990an ingat dengan istilah 'Buku adalah Jendela Dunia'. Pemerintah benar-benar memperhatikan pendekatan via buku untuk meningkatkan wawasan dan karakter anak di jenjang sekolah. Gerakan Gemar Baca Buku dimaksimalkan dengan sangat gencar. Akses terhadap perbukuan juga sangat mudah. Tidak hanya dari fasilitas sekolah, namun juga perpustakaan daerah dan bus perpustakaan berjalan yang sering berkunjung ke sekolah-sekolah.
Dilanjutkan dengan di tingkat perguruan tinggi. Lagi-lagi perpustakaan tetap gampang diakses, malah semakin kaya akan opsi. Sebagai mahasiswa, penulis bisa mengeksplorasi tidak hanya perpustakaan almamater kampus, namun juga perpustakaan kampus lain yang mentereng seperti Universitas Sumatera Utara dan Universitas Negeri Medan bermodal meminjam KTM teman. Bahkan ada juga Perpustakaan Bank Indonesia yang memberdayakan kelompok belajar bernama Genbi (Generasi Baru Indonesia). Tidak ada batasan untuk belajar karena semua akses itu terbuka lebar.
Namun, semua berubah saat memasuki jenjang profesi. Dengan budaya kerja nine to five alias dari jam sembilan pagi ke jam lima sore, waktu senggang seorang karyawan umumnya bertabrakan dengan jam operasional perpustakaan. Tahu sendiri jika perpustakaan umum itu dikelola oleh birokrat pemerintah yang mana jam kerjanya juga sangat birokratis. Bayangkan nasib karyawan yang sedari dulu gemar membaca namun tidak punya tempat untuk pulang. Toko buku memang ada, tapi dengan kondisi ekonomi yang agak carut marut seperti sekarang ditambah dengan harga buku yang semakin gila-gilaan, agaknya opsi membeli buku di toko buku masih menjadi opsi alternatif di tengah kebutuhan mendasar yang lain.
Ceruk pasar ini sebenarnya sangat ideal digarap oleh perpustakaan karena memberikan momen me time untuk karyawan yang sudah bekerja dari pagi ke sore. Sekaligus mengobati kerinduannya akan membaca buku. Apalagi, jam pulang sekolah anak SMP-SMA yang sekarang sudah mulai mengimbangi jam pulang anak kantoran karena tuntutan les sore. Dengan semua kesibukan itu, alangkah baiknya jika perpustakaan malam di Kota Medan bisa mulai dibuka bertahap, minimal diujicobakan.
Selain itu, malam hari juga cenderung menjadi jam aktif untuk generasi Z dalam menghabiskan waktunya. Apalagi saat ini banyak sekali generasi Z yang 'gabut' dan bingung cara menghabiskan waktunya. Saking senggangnya, mereka bahkan terbiasa main Tiktok sampai dini hari.
Pemerintah memang mencoba mensubstitusi dengan perpustakaan digital. Strategi ini juga diharapkan mampu mengimbangi kebiasaan anak-anak Gen Z yang intens bermain Tiktok atau scrolling di media sosial. Hanya saja, gaung promosinya kurang kuat. Apalagi sekarang apa-apa harus viral, sehingga tanpa strategi promosi yang tepat, perpustaakaan digital tidak akan menjadi tren yang kuat di kalangan anak muda.
Mengingat dalam berbagai pemberitaan akhir-akhir ini ditemukan fenomena darurat literasi dimana mulai banyak generasi Z yang tidak pandai berhitung aritmatika sederhana, tidak paham sejarah, tidak hapal kepanjangan MPR, bahkan ada yang tidak bisa baca jam analog.
Fenomena ini jika terus dibiarkan bisa mengarah pada ketidakmampuan berpikir kritis dan mengancam keberlanjutan pembangunan nasional ke depannya. Mumpung kita masih di timeline bonus demografi.
Selain itu, perpustakaan digital melupakan esensi dari berkelompok dimana banyak anak muda senang dengan aktivitas komunitas atau bertemu dengan orang yang seirama atau sehobi. Apalagi di perpustakaan juga banyak yang mengerjakan tugas dan mengandalkan keheningannya untuk mencapai titik fokus tertinggi.
Pun, jika perpustakaan malam bisa eksis sangat diharapkan ada adaptasi untuk mengayomi generasi Z. Karena secara watak harus diakui agak berbeda dengan orang tuanya generasi X atau bahkan kakaknya generasi milenial. Seperti mengurangi kekakuan para pustakawan yang bermuka ketat ketika menyambut tamu, atau membuat lounge membaca yang jauh lebih cozy, atau paling jauh memperbanyak debit event untuk diikuti oleh mereka. Karena generasi Z saat ini sangat kuat dengan isu personal seperti kesehatan mental sehingga tentu servis pelayananya butuh diferensiasi.
Banyak permintaan ya Anda? (Kata pustakawan yang membaca dengan dahi mengerut).
Pada akhirnya, penulis mencoba untuk mengetuk pintu hati para birokrat agar mau mengakomodasi gairah baca kelas pekerja, sekaligus membuka peluang untuk menarik sebanyak mungkin generasi Z untuk gemar membaca lewat perpustakaan malam.
Sebagai amanat dalam UUD 1945 yakni ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’ peran perpustakaan malam disadari atau tidak, sedikit banyaknya akan mampu berkontribusi untuk mencapai cita-cita tersebut. Semoga saja pemerintah bisa satu frekuensi dengan generasi Z yang mereka pimpin hari ini, agar gerbong generasi tersebut bisa diandalkan sesuai visi Indonesia Emas 2045, dimana generasi Z hari ini menjadi generasi emas di kemudian hari, bukan generasi cemas.
