Dari Homeschooling hingga Duta Budaya Indonesia: Kisah Jihan Salwa Hasanah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Detrya Izzati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dentum gendang saat itu terasa menghantam dada. Di tengah riuh Festival Palangkaraya belasan tahun silam, seorang gadis kecil berdiri mematung. Matanya tidak berkedip, ia terpaku pada jemari para penari di atas panggung yang melentik, menyayat udara dengan kehalusan yang magis namun bertenaga.
Jihan Salwa Hasanah, yang kala itu baru saja menjejakkan kaki sebagai pendatang di Kota Cantik, Palangkaraya, merasakan sesuatu yang aneh. Ia bergeming. “Kok bisa ya, mereka sebagus itu?” batinnya.
Tidak ada yang menyangka, momen itu menjadi sebuah prolog. Jihan yang bukan berdarah Dayak dan menempuh pendidikan homeschooling sejak kelas 3 SD, justru berdiri di panggung internasional sebagai Duta Budaya Indonesia 2024, membawa budaya Kalimantan Tengah ke hadapan ribuan mata di Nanning, China, hingga Osaka, Jepang.
Sekolah Tanpa Gedung
Saat teman-teman sebayanya sibuk dengan seragam putih-abu, lonceng istirahat, dan hiruk-pikuk kantin sekolah, Jihan berada di tempat lain. Sejak kelas 3 SD, mobilitas orang tuanya yang tinggi memaksanya meninggalkan sekolah formal. Ia menjadi anak homeschooling.
Keputusan ini memancing banyak stigma. Orang-orang berbisik bahwa pendidikan tanpa gedung sekolah adalah sesuatu yang "kurang", tidak ideal, bahkan aneh. Jihan bahkan sempat mengambil gap year selama hampir tiga tahun sebelum akhirnya berkuliah di Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Banyak yang menganggap jeda itu sebagai waktu yang terbuang. Namun bagi Jihan, justru di sanalah ia membangun disiplin dan ketahanan mentalnya.
Selama gap year itu, Jihan "bersekolah" di kehidupan nyata. Ia mengisi hari-harinya dengan aktif di sanggar seni, belajar bela diri, berenang, hingga belajar bisnis. Masa-masa itulah yang membentuk dirinya, disiplin tanpa perlu diawasi.
“Jalur alternatif itu bukan jalan pintas,” tegas Jihan. “Justru seringkali lebih berat karena tidak ada validasi instan. Kita harus membuktikan segalanya lewat kerja keras kita sendiri.”
Pilihan hidup di luar jalur umum itu kembali ia ambil saat memutuskan terjun ke dunia pageant.
Satu Jam Tidur dan Imposter Syndrome
Jihan ingat betul momen nekatnya berhenti di tengah proses lomba tari kelompok demi menantang diri tampil solo. Keputusan ini membuatnya diprotes teman-temannya. Selama sembilan hari karantina, ia menyiapkan semuanya sendiri, mulai dari materi wawancara, musik, hingga busana. Targetnya sederhana, ia mengincar gelar Berbakat lewat tari. Namun di luar dugaan, Jihan justru terpilih sebagai Winner Putri Pariwisata Kota Palangkaraya 2023. “Aku speechless. Aku yang bukan orang Dayak bisa jadi Putri Daerah,” ujarnya.
Tidak sampai situ, Jihan melanjutkan kompetisi pageantnya hingga ke Duta Budaya Indonesia 2024. Tekanan terberat bukan datang dari fisik, melainkan mental. Ia bisa melawan rasa lelah yang menusuk tulang saat karantina, wawancara maraton hingga pukul 03.30 subuh memaksanya bertahan hidup dengan tidur hanya satu jam sehari.
“Yang paling berat itu kepercayaan diri. Takut salah, takut dibandingkan,” kata Jihan.
Sebagai pendatang yang bukan berdarah Dayak asli, Jihan dihantui imposter syndrome. Keraguan orang lain merayap masuk, Apakah kamu pantas? Kamu bukan Putri Daerah asli.
“Rasanya seperti berjalan sambil memikul beban suara-suara itu,” akunya.
Tapi Jihan menjawab keraguan itu dengan elegan. Bukan dengan debat, melainkan dengan "kawin kembar", sebuah istilah kemenangan di mana perwakilan putra dan putri Kalimantan Tengah sama-sama menyabet gelar juara di tingkat nasional. Jihan membuktikan, darah mungkin menentukan asal-usul, tapi cinta dan dedikasi menentukan ke mana kau akan pergi.
Kejutan di Nanning, Disiplin di Osaka
Dedikasi itu membawanya terbang melintasi benua, ia mendarat di dua dunia yang cukup kontras, hiruk-pikuk Nanning, China, dan keheningan Osaka, Jepang.
Pada 2023, saat mewakili Kalteng di ASEAN Expo, Nanning, China, Jihan mengalami culture shock yang cukup menggelitik, terutama soal kuliner. “Banyak yang bikin kaget, salah satunya ya kodok yang dijual begitu saja untuk dimakan,” ceritanya.
Tantangan lainnya, ia mendapati bahwa Bahasa Inggris, yang biasanya menjadi paspor komunikasi dunia, tak berkutik di sana. “Penjual, bahkan warga lokal, jarang yang bisa bahasa Inggris. Jadi kami bicara pakai bahasa isyarat,” kenangnya sambil tertawa.
Namun, bahasa tubuh ternyata lebih jujur. Saat Jihan menuruni tangga mengenakan Batik Benang Bintik, warga lokal berkerumun. Mereka menyentuh kain itu dengan tatapan kagum dan berebut meminta foto. Tanpa satu kata pun terucap, budaya Dayak telah menyihir mereka.
Dua tahun kemudian, di World Expo Osaka (2025), suasana berubah 180 derajat. Jika China memberikan kejutan, Jepang menyambutnya dengan angin musim gugur yang dingin dan kedisiplinan yang kaku.
Jihan harus beradaptasi dengan ritme satset ala Jepang. “Di sana, parkir mobil di lobi hanya ditoleransi 5 menit. Kalau lewat dan kita belum datang, mobilnya pergi. Tidak ada istilah 'ngaret',” ujarnya. Di belakang panggung, semuanya bergerak cepat, tertib, dan hening.
Namun, ketertiban yang dingin tersebut akhirnya mencair usai Jihan menari solo. Seorang penonton Jepang menghampirinya dengan mata berbinar.
“Gerakan kamu membuat aku ingin mengunjungi Palangkaraya,” ujar orang itu.
Kalimat itu menghantam batin Jihan lebih keras dari tepuk tangan manapun. “Itu tandanya yang sampai ke mereka bukan cuma tarian, tapi 'ruh' dari budaya kita.”
Menyulut Api Kecil
Kini, Jihan telah purna tugas, namun ia tidak berhenti begitu saja. Ia menantang dirinya di arena baru sebagai Master of Ceremony (MC), berevolusi dari sosok "representasi" yang berhati-hati menjadi pembangun "koneksi" yang luwes. Ia ingin terus hidup di banyak dunia: pendidikan, budaya, hiburan, dan wirausaha.
Namun, saat ditanya apa pencapaian terbesarnya, Jihan tidak menunjuk piala atau foto di luar negeri. Pikirannya justru melayang pada momen kunjungan ke sebuah sekolah saat program Barisan Pelestarian Budaya.
Seorang anak kecil menatapnya, lalu berbisik polos, “Kak, aku pengen deh besarnya nanti bisa bawa budaya kita ke luar negeri.”
“Itu rasanya seperti ngobrol sama versi kecil aku sendiri,” suara Jihan bergetar.
Bagi Jihan, di situlah inti dari seluruh perjalanannya. Tugasnya bukan sekadar berdiri di panggung megah atau menyandang selempang juara, melainkan menyulut api kecil di hati anak-anak yang mungkin, sama seperti dirinya dulu, sedang berdiri bengong menatap panggung, mencari keberanian untuk bermimpi.
Kepada mereka, Jihan menitipkan satu mantra pamungkas. Melengkapi rumus klasik Brain, Beauty, dan Behavior, ia menambahkan satu elemen krusial: Brave (Keberanian).
“Kalau kamu cuma cerdas, cantik, dan punya attitude baik, tapi nggak punya keberanian buat memulai, semua itu nggak akan terwujud. Berani aja dulu. Lewatin aja dulu. Hasilnya belakangan. Yang penting kita sudah berproses,” pungkasnya.
