Penerimaan Kehilangan dalam Nyanyian Hutan Cendana

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Detta Ayu Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kehilangan yang membuat seseorang terus berjalan, bukan karena enggan melepaskan, tetapi karena masih berharap menemukan jawaban. Itulah yang dialami Lara seorang gadis berusia dua puluh dua tahun di dalam cerpen Nyanyian Hutan Cendana karya Dhias Thafari Luthfi Ramadhan.
Berbekal keyakinan bahwa ibunya masih hidup, Lara memberanikan diri memasuki Hutan Cendana. Ia berharap pencariannya akan membawanya pada sebuah pertemuan. Namun, perjalanan itu justru mengajarkan bahwa tidak semua yang dicari akan kembali, dan terkadang seseorang harus belajar menerima kenyataan yang ada.
Perjalanan Lara membawa pembaca menyusuri Hutan Cendana yang dipenuhi berbagai misteri. Di setiap langkahnya, Lara dihadapkan pada rasa takut, harapan yang belum padam, dan kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin jelas bahwa tujuan perjalanannya bukan hanya menemukan sang ibu, tetapi juga menemukan jawaban atas kehilangan yang selama ini membebaninya.
Walaupun berlatar dunia fantasi, cerpen ini tetap menghadirkan kisah yang dekat depan kehidupan sehari-hari. Cerpen ini mengajak pembaca memahami pentingnya kasih sayang keluarga, pengorbanan, dan keberanian untuk menerima kenyataan meskipun tidak sesuai dengan harapan.
Sejak awal cerita, Lara digambarkan sebagai sosok yang belum bisa menerima kenyataan bahwa ibunya menghilang selama tujuh tahun. Dengan sebuah liontin tua peninggalan ibu nya itu lah satu-satunya harapan untuk bertemu kembali, membuatnya tetap percaya bahwa sang ibu masih hidup, meskipun banyak orang menganggap hal itu mustahil.
Hal tersebut mulai terlihat ketika lara tetap bersikeras memasuki hutan cendana meskipun neneknya telah berulang kali mengingatkan tentang bahaya yang ada di dalamnya.
“Namun, Lara tak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, tapi hatinya bergemuruh, malam itu, ia memutuskan untuk mencari kebenaran sendiri.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Lara ingin mengakhiri rasa penasaran atas hilangnya sang ibu. meskipun tidak tahu apa yang akan di hadapinya. Ia tetap memilih memasuki Hutan Cendana. Keputusan itu menunjukkan bahwa keberanian Lara tidak hanya terlihat dari tindakannya, tetapi juga dari kesiapannya menerima kenyataan, apapun hasil yang akan ia temukan.
Puncak tema terjadi ketika Lara akhirnya bertemu kembali dengan ibunya. Pertemuan yang selama ini diimpikan ternyata tidak berakhir seperti yang diharapkan.
ia harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa kembali bersama.
"Aku hidup, tapi tidak seperti yang kau bayangkan. Tempat ini telah mengubahku."
Kutipan ini memperlihatkan bahwa Lara telah menemukan ibunya namun perkataan yang di ucapkan sang ibu mengubah harapan menjadi ketidakmungkinan.
Menurut Burhan Nurgiyantoro (2018), tema merupakan sebuah unsur yang disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan dan yang menetukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu.
Lara tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Hutan Cendana. Sejak awal cerita, hutan tersebut digambarkan sebagai tempat yang menyimpan banyak rahasia dan dipercaya sebagai pintu menuju dunia lain. Penggambaran latar ini tidak hanya memperkuat suasana misterius, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan Lara dalam mencari jawaban atas kehilangan ibunya
Di balik bukit yang mengelilingi Desa, tersembunyi sebuah huta bernama cendana, tempat yang dipercayai penduduk sebagai pintu menuju dunia lain.
Kutipan tersebut menunjukan bahwa bagi masyarakat Desa Anggara, Hutan Cendana bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga memiliki makna sakral sehingga harus dihormati. Keberadaan hutan menjadi awal munculnya konflik sekaligus tempat ditemukannya jawaban atas kehilangan yang selama ini dirasakan Lara.
Kutipan ini juga menunjukkan adanya latar sosial sekaligus latar tempat. Nilai dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi latar sosial dan Hutan Cendana di Desa Anggara menjadi latar tempat.
Menurut Burhan Nurgiyantoro (2018), Latar tempat adalah tempat terjadinya peristiwa dalam karya sastra yang digunakan untuk menggambarkan lokasi berlangsungnya cerita sehingga peristiwa tampak nyata dan meyakinkan. Adapun latar sosial menurut Burhan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat dalam karya sastra, meliputi kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial tokoh.
Hampir setiap peristiwa yang terjadi berhubungan dengan keputusan, perasaan, dan perkembangan dirinya. Sejak awal, Lara digambarkan sebagai sosok yang masih menyimpan harapan bahwa ibunya yang telah menghilang selama tujuh tahun masih hidup. Keyakinan itulah yang mendorongnya untuk memasuki Hutan Cendana meskipun mengetahui berbagai risiko yang harus dihadapi.
“Aku merasa...Ibu masih hidup di sana, Nek." Lara menghela napas pelan.
Kutipan tersebut menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan penokohan Lara secara langsung melalui dialog. Dari ucapannya, terlihat bahwa Lara merupakan tokoh yang gigih, penuh harapan, dan memiliki tekad yang kuat. Karakter tersebut kemudian berkembang sepanjang cerita hingga akhirnya ia mampu menerima kenyataan tentang ibunya.
Menurut Burhan Nurgiyantoro (2018), tokoh merupakan pelaku yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi, sedangkan tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak diceritakan dan paling sering terlibat dalam berbagai peristiwa yang membangun jalannya cerita. Berdasarkan pengertian tersebut, Lara dapat dikatakan sebagai tokoh utama karena hampir seluruh rangkaian peristiwa berpusat pada perjalanan dan perkembangan dirinya.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, B. 2018. Teori pengkajian fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ramadhan, D. T. L. 2025. Nyanyian Hutan Cendana. Cerpen Kompas. https://www.kompas.id/artikel/cerpen-rabu-nyanyian-hutan-cendana?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic
