Upacara Adat Begawi Cakak Pepadun Lampung "Teori Semiotika Roland Barthes"

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari DEVA AZ-ZAHRA ADITIYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Upacara adat Begawi Cakak Pepadun adalah tradisi adat masyarakat Lampung Pepadun yang berkaitan dengan penyampaian atau pengukuhan status sosial seseorang dalam masyarakat adat. Dalam pelaksanaannya, upacara ini menggunakan berbagai alat atau perlengkapan yang biasanya digunakan dalam upacara Begawi Cakak Pepadun:
Tandu atau pelaminan, digunakan sebagai tempat duduk bagi orang yang diangkat statusnya. Pelaminan dihias dengan ornamen khas Lampung seperti kain tapis dan ukiran tradisional.
Kain tapis, kain tradisional khas Lampung yang digunakan sebagai pakaian adat dalam upacara. Kain tapis melambangkan keagungan dan budaya.
Siger, mahkota emas atau perak khas Lampung yang dikenakan oleh perempuan sebagai simbol kebangsawanan dan keindahan.
Payung agung, payung besar yang digunakan sebagai simbolis perlindungan untuk orang yang dihormati dalam upacara.
Piring adat (sesaji), berisi makanan tradisional, seperti lemang, kue, dan buah-buahan, yang digunakan untuk ritual persembahan.
Gamelan dan alat musik tradisional, seperti gamelan Lampung, gong, dan seruling yang dimainkan untuk mengiringi prosesi dan tarian adat.
Tombak dan pedang adat, alat simbolis yang melambangkan kekuatan dan kewibawaan.
Lilin dan obor, digunakan dalam beberapa bagian proses untuk melambangkan penerangan dan harapan.
Pakaian adat, pakaian adat pria dan wanita yang dikarenakan sesuai dengan status sosial dalam masyarakat adat.
Sirih pinang, disiapkan sebagai simbol penghormatan penerimaan tamu dalam adat Lampung.
Keropak atau kotak hantaran, digunakan untuk membawa barang-barang persembahan atau simbol adat lainnya.
Semua perlengkapan tersebut memiliki filosofi yang mendalam dalam budaya masyarakat Lampung dan digunakan dengan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Makna dan Tujuan:
Pengangkatan status sosial: cakak Pepadun melambangkan kenaikan status seseorang dari masyarakat biasa menjadi anggota Pepadun, yaitu golongan yang memiliki hak bebicara dan mengambil keputusan dalam musyawarah adat.
Penghormatan tradisi: upacara ini menjaga kelestarian budaya Lampung sekaligus menghormati nilai-nilai adat dan leluhur.
Penyatuan dan identitas: sebagai simbol penyatuan keluarga besar dan pengukuhan identitas adat seseorang dalam masyarakat Lampung.
Rangkaian Proses:
Musyawarah adat: proses dimulai dengan rapat adat untuk menyepakati pelaksanaan upacara dan menentukan posisi yang akan diangkat.
Pelaksana begawi (pesta): Acara yang dilakukan dalam bentuk pesta adat besar-besaran yang melibatkan keluarga besar dan masyarakat adat.
Simbolisme dan ritual: dalam upacara ini, terdapat serangkaian simbol, seperti pemberian gelar adat.
Berikut adalah tahapan umum dalam pelaksanaan upacara tersebut:
1. Persiapan.
Musyawarah keluarga: tahap awal dimulai dengan musyawarah di lingkungan keluarga besar untuk menentukan waktu dan persiapan upacara.
Persiapan materi: melibatkan pengumpulan bahan-bahan, seperti kain tapis, peralatan tradisional, makanan khas, dan dana.
Undangan: keluarga mengundang kerabat dan masyarakat adat untuk hadir pada acara tersebut.
2. Tahap Pembukaan.
Penyambutan tamu: para tamu disambut dengan tari-tarian adat, seperti Tari Sembah, yang menunjukkan rasa hormat.
Arak-arakan: calon yang akan diangkat statusnya diarak menuju lokasi upacara dengan iringan musik tradisional (gamelan Lampung).
3. Proses Utama.
Penyampaian gelar: penobatan gelar adat dilakukan dengan penyimbang adat (tetua adat) melalui prosesi sakral. Calon akan mendapatkan gelar berdasarkan tingkatannya, seperti Sultan atau Ratu.
Cakak pepadun: proses naiknya calon ke pepadun (tempat duduk adat yang melambangkan status tinggi). Ini menjadi simbol peningkatan status sosial seseorang.
Ikrar adat: calon menyampaikan janji untuk menjaga nilai-nilai adat dan bertanggung jawab terhadap komunitasnya.
4. Penyajian Makanan Tradisional.
Makanan khas seperti nasi uduk, seruit, dan kue lapis disajikan kepada tamu dan peserta sebagai bentuk rasa syukur.
5. Tari dan Hiburan Tradisional.
Setelah prosesi selesai, acara dilanjutkan dengan hiburan berupa tari adat, seperti Tari Cangget, serta permainan musik tradisional.
6. Penutup.
Upacara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan, keberkahan, dan keberhasilan bagi yang telah menerima gelar.
Proses ini menunjukkan pentingnya adat dan tradisi dalam membangun keharmonisan dan identitas masyarakat Lampung.
Upacara adat Begawi Cakak Pepadun yang merupakan tradisi masyarakat Lampung dapat dianalisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Analisis Barthes membagi semiotika menjadi dua tingkat makna, yaitu Denotasi (makna literal) dan konotasi (makna kultural atau simbolik),serta mitos (makna yang melekat pada budaya tertentu). Berikut penjelasannya:
Analisis Semiotika
Tingkat Denotasi.
Pada tingkat Denotasi, Begawi Cakak Pepadun adalah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat adat Lampung Pepadun untuk menaikkan status sosial seseorang dari masyarakat biasa menjadi tokoh adat atau pemimpin adat. Ritual ini melibatkan berbagai tahapan, seperti prosesi adat, pakaian tradisional, tarian dan pemberian gelar adat.
Contoh Denotasi:
Pakaian adat yang dikenakan, seperti selendang dan siger, adalah bagian dari atribut tradisional yang digunakan dalam prosesi.
Tingkat Konotasi.
Pada tingkat konotasi, setiap elemen dalam upacara memiliki makna simbolik yang mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Lampung, misalnya:
Pakaian adat: Melambangkan identitas, martabat, dan kehormatan.
Tari-tarian dan musik tradisional: Menggambarkan penghormatan terhadap leluhur dan dewa-dewa.
Gelar adat: Mencerminkan tanggung jawab dan kewajiban pemimpin terhadap masyarakatnya.
Makna ini tidak hanya bersifat literal tetapi berhubungan erat dengan budaya dan sistem sosial masyarakat Lampung.
Mitos.
Mitos dalam analisis Barthes adalah makna yang membentuk pemahaman masyarakat tentang dunia mereka. Dalam konteks Begawi Cakak Pepadun, mitosnya adalah:
Pelestarian budaya: upacara ini menggambarkan bagaimana masyarakat Lampung memandang pentingnya menjaga tradisi leluhur.
Hierarki sosial: melalui upacara ini, masyarakat memahami konsep kepemimpinan dan tanggung jawab yang diwariskan secara adat.
Keberkahan spiritual: upacara ini sering dikaitkan dengan harapan akan restu dan keberkahan dari leluhur.
Kesimpulan.
Dengan menggunakan teori Barthes, upacara Begawi Cakak Pepadun tidak hanya dipahami sebagai adat, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menyampaikan nilai-nilai sosial, spiritual, dan identitas masyarakat Lampung. Upacara ini menjadi simbol pelestarian tradisi sekaligus refleksi hierarki sosial dalam masyarakat adat Lampung Pepadun.
