Sekolah Tatap Muka atau Tatap Layar?

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga
Tulisan dari I Dewa Gede Deva Pradnyana Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Begitulah sekiranya kalimat yang cocok ketika memperhatikan dan merenungkan keadaan sekarang yang penuh kekhawatiran dari segala aspek pendidikan terkait Pandemi Covid-19. Keberlangsungan sekolah online yang dimulai sejak Maret 2020 hingga saat ini tentu memunculkan perasaan gundah dari pelajar yang memikirkan nasibnya dalam berinteraksi sosial, sehingga menurunkan produktivitas dan gairah menuntut ilmu di usia yang produktif ini.

Beberapa bukti semakin menguatkan, seperti data yang dihimpun UNICEF terhadap 4.016 responden pelajar mengaku 69% merasa bosan belajar dari rumah dan sisanya mengatakan kurangnya mendapat bimbingan dari pengajar. yang menyimpulkan bahwa sekolah daring secara tidak langsung menurunkan prestasi akademik dan kemalasan pada pelajar sehingga dapat menurunkan kualitas generasi bangsa.
Sejatinya ini berdampak buruk karena perilaku pelajar yang sebelumnya “terbiasa” dalam melakukan interaksi langsung, tetapi, dikagetkan oleh pandemi yang berkepanjangan dan menyebabkan pembatasan berinteraksi langsung menyebabkan perasaan bosan yang secara tidak langsung dapat mengubah mindset kepribadian pelajar. Terbukti dengan maraknya di media sosial, khususnya di TikTok pelajar berkeluh kesah dalam kolom komentar mengatakan “Online Gak Ngerti, Offline Circle-nya Ngeri”. Sungguh miris, kewajiban pelajar yang seharusnya semangat antusias dalam menuntut ilmu, malah terjebak di “zona nyaman” karena daring yang tak berkesudahan.
Kondisi ini dipengaruhi juga oleh mental psikologis pelajar yang seharusnya dapat berinteraksi dan bertukar pikiran secara nyata, tetapi malah dibatasi sehingga kebiasaan tersebut sudah tertanam, dan kenyaman sudah tercipta. Hal ini tentu berdampak pada aspek pembelajaran secara kognitif dan psikomotor. Karena, secara psikologis, pelajar lebih senang dan lebih cepat mengerti dengan cara diskusi atau berinteraksi langsung.
Ditambah lagi para Generasi Millennial sekarang juga cenderung dominan. Dapat dilihat dari Karakter Gen-Z lebih beragam, bersifat global, serta memberikan pengaruh budaya dan sikap masyarakat.
Gen-Z yang seharusnya mampu memanfaatkan perubahan teknologi dalam berbagai sendi kehidupan menjadi menurun akibat sekolah online yang membatasi bersosialisasi fisik dan kurangnya berani explore, sehingga menyebabkan tidak munculnya mental keberanian dan keterampilan kepercayaan diri yang mumpuni untuk mengelola ketidakpastian lingkungan yang cenderung menjadi lebih cemas. Ini semacam mematahkan asumsi yang terbangun bahwa menjadi digital native, artinya melengkapi kekurangan dari karakteristik generasi sebelumnya melalui keterampilan yang lebih adaptif dan inovatif dalam mengatasi situasi ketidakpastian.
Fenomena inilah yang menyebabkan kualitas generasi dalam segi mental tersebut menurun. Seorang pelajar millennial yang diharapkan menjadi kaum generalist supaya bisa menjadi superior human resource untuk Indonesia, belum tecermin karena pembentukan karakter dan menjalin relasi tidak maksimal akibat keseringan menatap layar kaca. Maka dari itu, pentingnya kesadaran dalam diri pelajar untuk meningkatkan self-development dalam dirinya. Belajarlah adaptif, berusahalah menjadi pelajar yang mengerti akan keadaan, dengan pro-aktif dalam menggali informasi sehingga dapat membantu perjalanan karir kedepannya. Dimulai dari memanfaatkan media informasi dari segudang platform yang informatif, dan membuka ruang di dunia maya untuk menjalin relasi dan mengeksplor lebih luas lagi untuk bisa menjadi pelajar yang berkualitas.
