Konten dari Pengguna

Korea Selatan Dalam Menjadi Salah Satu Negara Paling Inovatif di Dunia

Deva soka Faridh aziz

Deva soka Faridh aziz

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deva soka Faridh aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangunan di Korea Selatan yang menunjukkan kemajuan negaranya Source: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan di Korea Selatan yang menunjukkan kemajuan negaranya Source: Pixabay.com

Di tengah maraknya inovasi yang dilakukan oleh banyak negara di dunia, Korea Selatan hadir sebagai salah satu contoh negara yang dapat menunjukkan eksistensinya bahwa dengan terus berinovasi akan memberikan pondasi perekonomian yang kuat dalam menghadapi globalisasi. Dalam implementasinya, tentu terdapat hal-hal yang telah dilakukan oleh Korea Selatan dan dapat dijadikan contoh untuk Indonesia dalam menguatkan ekonomi negara melalui inovasi yang terus dikembangkan. Adapun langkah-langkah yang telah dilalui oleh Korea Selatan adalah sebagai berikut:

A. Tahapan-Tahapan terbentuknya Sebuah Inovasi

Berbicara mengenai tahapan terbentuknya suatu inovasi serta manfaat yang dapat diperoleh dalam ekonomi politik antara lain sebagai berikut:

  1. Tahap Pengetahuan = Sebuah inovasi akan melahirkan inovasi baru ketika penyebarannya dapat dilakukan secara menyeluruh melalui berbagai platform media untuk dapat diserap dan diimplementasikan oleh individu atau organisasi dalam menciptakan inovasi baru lainnya. Dalam tahapan ini seorang inovator perlu mengetahui pemahaman dasar terkait peluang terjadinya inovasi, mekanisme pelaksanaan dan penggunaannya serta memahami terkait fungsi dan alternatifnya. Seperti adanya inovasi yang dilakukan oleh perusahaan asal Swiss yang bernama CUTISS Personalized Skin yang berfokus dalam pengobatan regeneratif jaringan kulit yang dipersonalisasikan kepada pasien penderita cacat kulit parah dan cedera melalui cara yang aman dan efektif, dimana perusahaan tersebut telah menyembuhkan lebih dari 11 juta orang (CUTISS Personalized Skin, 2021). Dari hal ini tentu akan mendorong perusahaan lain untuk berlomba dalam menciptakan teknologi atau produk yang lebih efisien dan inklusif terkait regeneratif jaringan kulit dan terus menghasilkan inovasi baru di masa depan.

  2. Tahap Persuasi = Dalam tahapan ini seorang inovator harus mampu mencari informasi lebih dalam terkait apakah inovasi yang ingin diciptakan telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau tidak serta mempertimbangkan atau mengekstrapolasi setiap keuntungan dan kerugian apabila menciptakan inovasi tersebut. Tahapan ini berfokus dalam mempertimbangkan beberapa karakteristik yang paling sering dicari antara lain: Complexity, Observability, Compatibility, Trialability, dan Relative Advantage (Aris, 2021). Kemudian dalam tahapan ini seorang inovator juga perlu memutuskan apakah inovasi yang menginspirasi dirinya akan dieksekusi dan dilanjutkan masuk ke dalam tahapan pelaksanaan atau hanya sekedar perencanaan belaka. Hal ini sebagai bentuk bahwa inovasi yang diciptakan bukan hanya sekedar mencari untung rugi di moment yang tepat melainkan pengaruh akan kehadiran inovasi tersebut dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat luas sehingga terciptanya simbiosis mutualisme.

  3. Tahap Pelaksanaan = Pada tahapan ini seorang inovator akan mengimplementasikan inovasinya dalam kehidupan sehari-hari dan akan terjadinya perubahan sikap dan perilaku menjadi seorang adopter. Adopter yang dimaksud adalah berusaha menggunakan dan mengunggulkan produknya sebagai produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tentu dalam merintis sebuah inovasi hal pertama yang dilakukan adalah penerapan Marketing 2.0 yang berfokus dalam pemenuhan kebutuhan konsumen (Ngalup Collaborative Network, 2024).

  4. Tahap Konfirmasi = Dalam tahapan yang terakhir ini, seorang inovator akan mengevaluasi segala bentuk dan hal yang terjadi selama dia mengadopsi atau mengimplementasikan inovasinya, biasanya hal yang menjadi pertimbangan dalam evaluasi adalah: efektivitas dan kepuasan konsumen selama menggunakan inovasi tersebut, kendala dan tantangan selama implementasi inovasi berlangsung, serta mempertimbangkan hubungan antar semua pihak yang terlibat misalnya perizinan masyarakat setempat, pemerintah dan kebijakan, serta untung rugi yang dihasilkan dari adanya inovasi tersebut (Latif, 2019).

B. Manfaat Dari Adanya Inovasi

Dalam mengaktualisasikan sebuah inovasi ke dalam kehidupan sehari-hari maka terdapat beberapa manfaat yang dihasilkan antara lain sebagai berikut:

  1. Terciptanya peluang pasar yang lebih besar dimana dengan adanya keberagaman produk membuat masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan dan merasakan inovasi yang diciptakan, dengan kata lain terdapat opsi pilihan dan pertimbangan yang dihadirkan kepada masyarakat dalam menggunakan inovasi tersebut serta agar tidak terciptanya monopoli dan kapitalisme yang menyebabkan ketidakstabilan pasar atau ekonomi negara.

  2. Mendorong pertumbuhan ekonomi dimana jika dalam praktiknya terdapat keberagaman produk maka akan membantu meningkatkan pendapatan atau devisa negara dari adanya transaksi ekonomi. Kemudian dengan mengedepankan inovasi, maka negara tersebut akan memiliki daya saing perekonomian yang lebih baik di pasar global.

  3. Terciptanya Transformasi Ekonomi dimana peralihan transaksi yang semula bersifat tradisional maka di era disrupsi ini penggunaan teknologi dan informasi dianggap lebih unggul dalam mempromosikan inovasi yang ditawarkan kepada masyarakat. Hal ini dianggap penting sebagai deindustrialisasi dan adanya Middle Income Trap yang banyak terjadi.

  4. Mendorong peningkatan kualitas layanan publik sebagai hasil dari adanya efektivitas dan efisiensi yang dihadirkan oleh inovator kepada masyarakat luas. Hal ini juga bertujuan dalam terciptanya demokratisasi dan ruang birokrasi yang melek akan pentingnya pelayanan publik.

  5. Meningkatnya kebijakan yang inklusif karena peran inovasi dapat mendorong pemerintah dalam merumuskan kebijakan sebagai bentuk respon terhadap kebutuhan masyarakat sehingga partisipasi dalam proses politik dan tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah terus akan meningkat. Jika hal ini telah tercapai maka negara akan mengalami kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi setiap warganya.

C. Pondasi Ekonomi yang Digunakan Korea Selatan

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa dalam Teori Geografi Inovasi terdapat dua strategi yang dapat digunakan seperti: Strategi Integrasi Vertikal dan Strategi Spesialisasi dimana Korea Selatan menurut saya telah mampu mengelaborasi dua strategi tersebut sehingga mampu memiliki pondasi yang kuat dalam hal perekonomian. Adapun pondasi yang digunakan oleh Korea Selatan antara lain sebagai berikut:

  1. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia = Dalam hal ini Korea Selatan berusaha dalam menguatkan akar atau sumber pendorong terbesar kekuatan ekonomi negaranya yaitu SDM, hal-hal yang dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan adalah dengan memfasilitasi masyarakat dengan berbagai kebijakan yang dapat mendorong kreativitas sehingga pekerjaan apapun yang dilakukan dapat menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dan menjadikan pandangan seperti ini agar masuk ke dalam diri setiap orang dan dianggap sebagai bagian dari budaya. Memang awalnya terasa sulit dan mengeluarkan banyak pengeluaran namun setelahnya akan terasa ringan dalam mengatur dan mengkondisikan masyarakatnya. Sama halnya seperti seseorang yang membeli lampu LED dimana harga yang ditawarkan akan lebih mahal jika dibandingkan dengan lampu lainnya, namun dalam penggunaannya tentu akan lebih efisien dan hemat listrik.

  2. Mencintai Produk Dalam Negeri = Setelah pemerintah mampu mengkondisikan masyarakatnya dalam berbagai fasilitas dan kebijakan yang sesuai dengan negaranya maka langkah selanjutnya adalah pemerintah menerapkan kebijakan untuk masyarakat berfokus dalam menggunakan produk dalam negeri dan hal ini terbukti berhasil dimana meskipun produk negara barat telah masuk ke dalam negara Korea Selatan, namun masyarakatnya tidak menginginkannya dan lebih menggunakan produknya sendiri. Hal ini dapat dilihat ketika kita menonton serial Drama Korea dimana Handphone yang biasa digunakan akan bermerek Samsung sebagai produk dalam negerinya.

  3. Sistem Ekonomi Pasar (Liberal) = Korea selatan meskipun mencintai produk dalam negeri bukan berarti menutup diri dari adanya pasar global, kebijakan akan perizinan produk asing masuk sangat membuat Korea Selatan merasakan dampak positifnya dimana terjalinnya kerjasama antar negara memungkinkan bantuan dan lain sebagainya terjadi karena kedekatan yang dibangun. Pemerintah Korea Selatan juga bersikap dewasa dimana kesadaran akan mekanisme pasar untuk dapat mengalir secara natural dapat terimplementasikan dengan baik dan peran pemerintah hanya sebagai pengawas atau pembuat kebijakan bukan ikut campur. Hal ini yang membuat mengapa perekonomian Korea Selatan baik di dalam maupun di luar negeri peredarannya sangat kuat dalam memajukan negaranya.

  4. Korean Wave = Pondasi terakhir ini merupakan upaya yang dilakukan di luar negara Korea Selatan dimana hal ini dapat dikatakan sebagai Soft Diplomacy untuk memperkenalkan budaya dan karakteristik melalui berbagai elemen seperti K-Pop, Drama Korea, Makanan, Budaya, Teknologi dan Pendidikan.

D. Perbedaan Antara Soft Power dan Hard Power

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut maka saya akan menjelaskan definisi dari Power itu sendiri dimana menurut Hans Morgenthau Power adalah “Kemampuan manusia untuk mengontrol dan mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia lainnya” Hal ini dianggap selaras dengan pernyataan Richard Mansbach bahwa Power adalah “Hubungan Psikologi antar satu aktor dengan aktor lainnya dan kemudian mempengaruhi pola tindakannya” (Saputra, 2017). Kemudian berbicara Soft Power dan Hard Power dalam Innovation Warfare sebagaimana yang akan saya jelaskan dibawah:

a. Soft Power = Merupakan pendekatan yang berfokus dalam hal inspirasional yakni mengikat orang lain dengan menggunakan kecerdasan emosional seperti dengan melakukan pertukaran budaya, komunikasi yang persuasif, menjalin kerjasama, dan kesamaan cara pandang ideologi. Dimana konsep Innovation Warfare telah dapat diterapkan dengan memiliki kesamaan antara lain:

  1. Model Pembangunan Ekonomi seperti yang dilakukan oleh Rusia dan China, karena memiliki kesamaan model maka kedua belah pihak mudah untuk menjalin kerjasama bahkan meniru dan bermitra satu sama lain.

  2. Pengaruh Budaya seperti yang dilakukan oleh Korea Selatan dan Jepang dimana kedua negara tersebut sama sama menggunakan budayanya untuk memikat negara lain sehingga dapat memainkan peran penting di dunia internasional. Kemudian China juga turut mengikuti konsep ini seperti adanya Drama China yang dianggap lebih relate dengan sebagian besar penduduk di dunia meskipun di belahan benua yang berbeda seperti Afrika karena peran Hollywood yang ada di Amerika dianggap tidak relate dengan kehidupan masyarakat luas.

  3. Kepemimpinan Ekonomi tentu saja sangat mempengaruhi terjadinya Soft Power dimana hal ini akan meningkatkan citra industri, inovasi, dan teknologi seperti yang dilakukan oleh China dengan membangun infrastruktur yang gila-gilaan bahkan untuk hal yang dianggap sepele seperti pemecah kacang dan lainnya.

b. Hard Power = Merupakan pendekatan yang berfokus dalam penggunaan Ekonomi dan Militer untuk dapat mempengaruhi perilaku atau kepentingan suatu negara terhadap elemen lain (Tandon, 2020). Dalam Innovation Warfare penerapan Hard Power dapat diimplementasikan melalui beberapa hal antara lain:

  1. Kekuatan Ekonomi = China dengan Amerika Serikat memiliki kebijakan yang berbeda dimana dalam pembuatan dan distribusi China dianggap lebih unggul dan bersifat inklusif serta lebih murah jika dibandingkan dengan produk yang dibuat oleh Amerika Serikat. Hal ini tentu mempengaruhi kekuatan ekonomi kedua belah pihak namun, positifnya adalah mereka menjadi pemain paling penting di dunia internasional.

  2. Kontrol Sumber Daya = Persaingan yang terjadi berfokus dalam mengamankan pasar dan akses ke pasar internasional dimana hal ini dibuktikan dengan melemahnya Dolar Amerika Serikat dan peralihan penggunaan mata uang dalam perdagangan internasional dan hal ini juga dilakukan oleh China dengan menggunakan mata uang sendiri.

  3. Kekuatan Finansial = Data menyebutkan bahwa lokasi utama perusahaan multinasional berpusat di Amerika Serikat dengan total 719 Perusahaan dan diurutan ketiga ada negara China dengan total 219 Perusahaan (Davies, 2021). Walau demikian, hal gila yang dilakukan oleh China adalah dengan membuat Made in China (MIC 2025), China Thousand Talent Plan, dan Belt Road Initiative yang melewati jalur perdagangan internasional (Aziiz, 2023). Tentu dari hal ini konflik di antara keduanya telah memberikan kegoncangan ekonomi yang luar biasa dimana menjadikan masyarakat internasional semakin bingung dalam memposisikan keberadaannya karena sama sama memiliki hubungan dengan kedua negara tersebut yakni China dan Amerika Serikat.

REFERENSI

Annur, C. M. (2024, January 18). Kecepatan Internet Mobile Indonesia Peringkat ke-3 Terbawah

ASEAN. Databoks. Retrieved July 26, 2024, from https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/18/kecepatan-internet-mobile-indonesia-peringkat-ke-3-terbawah-asean

Aris, M. (2021). Teori Difusi Inovasi: Pengertian, Jenis, Elemen, Tahapan. Gramedia. Retrieved July 26, 2024, from https://www.gramedia.com/literasi/teori-difusi-inovasi/

Aziiz, N. (2023). The United States Government's Efforts to Fight China's Thousand Talent Plan. UNS Institutional Repository. Retrieved July 26, 2024, from https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/89542/Upaya-Pemerintah-Amerika-Serikat-dalam-Melawan-Program-Chinas-Thousand-Talent-Plan

CUTISS Personalized Skin. (2021, June 24). CUTISS develops the world's first machine to produce personalized human tissue – CUTISS. CUTISS. Retrieved July 26, 2024, from https://cutiss.swiss/cutiss-develops-world-1st-machine-to-produce-personalized-human-tissue/

Davies, N. (2021, March 5). US MNCs still target China for subsidiaries. Investment Monitor. Retrieved July 26, 2024, from https://www.investmentmonitor.ai/features/us-mncs-continue-to-set-up-shop-in-china-despite-rivalry/

Latif, Y. (2019, September 18). Pembangunan Manusia - Politik Inovasi. Kompas.id. Retrieved July 26, 2024, from https://www.kompas.id/baca/utama/2019/09/18/politik-inovasi

Ngalup Collaborative Network. (2024, May 1). Marketing 1.0 Sampai 5.0: Ini Penjelasan dan Contohnya. Ngalup. Retrieved July 26, 2024, from https://ngalup.co/artikel/marketing-1-0-sampai-5-0/

Saputra, M. D. H. (2017, Oktober 6). Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power | GEOTIMES. geotimes. Retrieved July 26, 2024, from https://geotimes.id/opini/definisi-kekuatan-hard-power-dan-soft-power/

Tandon, T. (2020, December 16). What is the difference between Hard power and Soft power? Jagran Josh. Retrieved July 26, 2024, from https://www.jagranjosh.com/general-knowledge/what-is-the-difference-between-hard-power-and-soft-power-1608095574-1