Novel A Man Called Ove: Tentang Kematian Orang Tercinta

Filantropis
Tulisan dari Deva Yohana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Informasi tentang novel:
Judul: A Man Called Ove
Judul asli: En man som heter Ove
Penulis: Fredrik Backman
Tahun: 2014
Penerbit: Mizan Group
ISBN: 978-602-385-854-5
Manusia hidup di dunia hanya sementara. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga manusia, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, ia akan meninggal dunia. Tidak peduli apakah ia masih anak-anak, remaja, dewasa, atau sampai menginjak usia tua, manusia akan merasakan meregangnya nyawa dari badannya.
Kita pasti merasa sedih dan kehilangan ketika ditinggalkan oleh yang tercinta. Perasaan ingin selalu bersama-sama seakan sirna ketika ia pergi meninggalkan kita. Kebersamaan yang hilang itu terkadang sampai mengakar kuat hingga kita tak mampu melepaskannya, meskipun dalam ingatan dan bayangan. Sejatinya, inilah yang ingin disampaikan oleh penulis asal Swedia yang bernama Fredrick Backman dalam novelnya yang berjudul A Man Called Ove.
Penulis yang awalnya menulis cerita tersebut di blog ini sukses menarik atensi pembaca yang kemudian mendorongnya untuk menjadikannya sebagai buku. Banyak komentar positif yang diberikan oleh para pembaca, terlebih penggambaran tokoh Ove yang mengalami perubahan watak sepanjang jalannya cerita, sehingga tidak salah jika novel ini bisa digolongkan sebagai novel psikologi. Sebuah majalah kenamaan Amerika Serikat, People Magazine, memberikan komentar terhadap novel ini sebagai berikut:
“Kau akan tertawa, menangis, bersimpati terhadap karakter temperamental yang kau temui dalam kisah memesona ini.”
Sinopsis Novel
Laki-laki itu bernama Ove. Sejak kecil ia hidup di rumah yang sederhana bersama kedua orang tuanya. Ayahnya bekerja di jawatan kereta, sedangkan ibunya bekerja di pabrik kimia. Malang, ketika ia mulai menginjak masa anak-anak, ibunya meninggal dunia. Tak lama kemudian, ketika dia berusia 16 tahun, ayahnya pun ikut serta. Jadilah kini ia seorang yatim piatu yang hidup tanpa keluarga dan berjuang sendiri dalam mengarungi kerasnya dunia.
Lelaki bernama Ove dikenal sebagai orang yang baik hati dan pendiam, tidak banyak bicara. Barangkali seseorang bisa menghitung berapa banyak kalimat yang ia keluarkan setiap harinya. Ia menghabiskan waktunya dengan bekerja di stasiun kereta menggantikan ayahnya.
Menginjak dewasa, lelaki bernama Ove bertemu dengan seorang wanita yang bernama Sonja. Watak Sonja sangat bertolak belakang dengan Ove. Dia ceria, banyak bicara, mudah sekali berbaur serta tertawa. Ove bagaikan manusia hitam putih, sedangkan Sonja merupakan sosok yang penuh warna. Karakter keduanya yang berbedalah yang membuat mereka jatuh cinta, saling melengkapi satu sama lainnya. Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia walaupun tidak ada anak yang membersamainya. Kehidupan Ove tampak berubah dengan hadirnya Sonja.
Bertahun-tahun hidup bersama, Ove harus menerima kenyataan pahit ketika Sonja divonis menderita kanker yang membuatnya tidak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Tidak hanya itu, dokter menyatakan kehidupan Sonja hanya akan bertahan hingga beberapa bulan ke depan saja. Sedih? Pasti. Ia pun tidak bisa menahan tangis ketika Sonja akhirnya meninggal dunia. Seakan-akan separuh jiwanya hilang. Ia tak pernah melewatkan paginya untuk mengunjungi makam istri tercinta sambil membawa bunga.
Laki-laki yang bernama Ove itu tidak tahu harus melakukan apa dalam hidupnya setelah kematian Sonja. Dunianya seakan-akan menjadi hampa dan tidak berwarna, sehingga ia terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menyusul istrinya. Berbagai cara ia tempuh agar nyawanya bisa lepas dari tubuhnya. Tercatat 4X ia melakukan percobaan bunuh diri dan selalu gagal. “Ah, bagaimana caranya agar bisa bersama-sama lagi dengan Sonja?,” pikirnya.
Tentang Orang yang Tercinta dan Kematian
Ada kata-kata menarik yang disampaikan oleh penulis melalui novel ini yang bisa kita petik hikmahnya. Pertama-tama tentang orang yang kita cintai. Berikut ini adalah kutipannya:
Mencintai seseorang bisa disamakan dengan pindah ke sebuah rumah. Mulanya kau jatuh cinta dengan semua barang barunya, setiap pagi merasa takjub karena semuanya ini milikmu, seakan khawatir seseorang akan mendadak masuk untuk menjelaskan bahwa telah terjadi kesalahan mengerikan, seharusnya kau tidak tinggal di tempat seindah ini.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, dinding rumahnya menjadi lapuk, kayunya pecah di sana sini, dan kau mulai mencintai rumah itu bukan karena semua kesempurnaannya, tapi lebih karena ketidaksempurnaannya. Kau mulai mengenal semua sudut dan celahnya. Bagaimana cara menghindari kunci tersangkut di lubangnya ketika udara di luar dingin.
Papan-papan lantai mana yang sedikir meleyot ketika diinjak, atau bagaimana cara membuka pintu lemari pakaian tanpa berderit. Semuanya ini adalah rahasia kecil yang menjadikan rumah itu sebagai rumahmu. (Backman. 2014:399)
Selanjutnya tentang kematian, bisa kita lihat dari kutipan berikut ini:
Kematian adalah sesuatu yang ganjil. Orang menjalani seluruh hidup mereka seakan kematian itu tidak ada, tapi kematian seringkali menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hidup. Pada akhirnya, sebagian dari kita menjadi begitu menyadari kematian sehingga menjalani hidup dengan lebih keras, lebih tegar, dan dengan lebih banyak kemarahan. Sebagian lagi memerlukan kehadiran kematian secara terus-menerus untuk menyadari antitesisnya. Sisanya menjadi begitu terobsesi dengan kematian sehingga mereka memasuki ruang tunggu, lama sebelum kematian itu mengumumkan kedatangannya.
Kita merasa gentar terhadap kematian, tapi sebagian besar dari kita merasa paling takut jika kematian itu membawa pergi orang lain. Sebab yang selalu menjadi ketakutan terbesar adalah jika kematian itu melewatkan kita. Dan meninggalkan kita di sana sendirian. (Backman. 2014:245)
Akhir kata, novel ini sangat cocok dibaca untuk mereka yang ingin mengenang kebersamaan dengan orang yang tercinta atau ingin tahu bagaimana rasanya hidup bersama dengan sang belahan jiwa. Dan, kabar baiknya adalah kamu bisa meminjamnya di aplikasi iPusnas.
