Ketika Adat Batak Menjadi Pusat Patriarki: Curhatan Perempuan Batak

Mahasiswa Sosiologi di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Devana Situmorang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Balik Kemeriahan Gondang, Derap Kaki yang Lelah
Suara gondang menggelegar, tangan-tangan lincah menyusun ulos penuh makna, dan aroma saksang memenuhi udara pemandangan yang selalu hadir dalam setiap acara adat keluarga Sari (nama samaran). Sejak kecil, perempuan berusia 25 tahun ini telah menjadi bagian dari ritual-ritual sakral tersebut. Namun, di balik kekayaan budaya yang dibanggakannya, sebuah pertanyaan terus mengusik: "Sampai kapan perempuan harus bekerja tanpa dihargai?"
Data dari penelitian Susanto (2015) menunjukkan bahwa dalam 85% keluarga Batak tradisional, perempuan menanggung 90% beban pekerjaan domestik selama acara adat. Ironisnya, dalam upacara Mangulosi yang bermakna pemberian kasih sayang, justru perempuanlah yang paling sedikit menerima penghargaan.
Keluarga Sari merupakan gambaran sempurna keluarga Batak yang taat pada adat. Horja Bolon untuk menyambut keluarga besar, Mangulosi dalam setiap momen penting kehidupan, hingga Saur Matua untuk menghormati leluhur, semua dijalankan dengan khidmat. "Setiap helai ulos memiliki makna mendalam," ujar Sari dengan mata berbinar. Namun, sorot matanya segera meredup ketika ia bercerita tentang bagaimana seluruh persiapan adat itu dibebankan kepada perempuan dalam keluarga. "Ibu dan saya harus bekerja sejak subuh, sementara ayah dan saudara laki-laki saya cukup datang dengan pakaian terbaik."
Marga: Kebanggaan yang Menghilangkan Nama Perempuan
Sistem patriarki dalam keluarga Batak bukanlah rahasia. Sari menggambarkan dengan jelas bagaimana sejak kecil ia telah dilatih menjadi "wanita sempurna,'' pandai memasak, cekatan membersihkan rumah, dan selalu siap melayani. Sementara itu, saudara laki-lakinya bebas menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar. "Saya ingat betul nenek selalu berkata, ‘Kamu harus bisa melakukan semua ini, nanti jika menjadi menantu tidak becus, akan memalukan marga’," kenangnya.
Yang lebih menyakitkan adalah nilai dasar yang tertanam: anak laki-laki lebih berharga karena dialah penerus marga. "Pernah suatu kali, dalam acara keluarga besar, semua anak laki-laki dipanggil berdasarkan marga mereka dengan penuh kebanggaan. Kami, para perempuan, hanya disebut ‘anak si A’ atau ‘cucu si B’," ujar Sari dengan kepahitan. Ironisnya, dalam upacara Merbayon yang bertujuan menyatukan keluarga besar, justru perempuan-perempuan inilah yang paling sibuk bekerja tanpa dianggap sebagai bagian penting dari silsilah.
Pendidikan Tinggi, Tapi Tetap "Tidak Tahu Diri"
Modernitas seolah menjadi tamu tak diundang dalam tradisi ini. Sari yang kini berpendidikan tinggi dan bekerja di perusahaan multinasional tetap diharapkan berperilaku seperti generasi sebelumnya. "Saya boleh memiliki jabatan tinggi di kantor, tetapi di rumah tetap dianggap tidak paham apa-apa karena belum menikah," keluhnya. Lebih parah lagi, ayahnya yang pensiunan pegawai negeri dapat menghabiskan hari dengan bersantai, sementara ibunya yang juga pensiunan guru harus tetap mengurus seluruh pekerjaan rumah.
Lalu, di manakah letak keadilan dalam Dalihan Na Tolu yang selalu dibanggakan sebagai filosofi hidup orang Batak? Sari menyindir, "Jika benar kita menjunjung keseimbangan, mengapa dalam keseharian justru perempuan yang harus menanggung beban ganda?" Pertanyaan ini menggugah kesadaran kita: mungkinkah sebuah budaya yang mengagungkan keharmonisan justru mengandung ketidakadilan gender yang sistemik?
Adat Bisa Berubah, Jika Mau
Namun, Sari tidak ingin menghancurkan adat. Ia hanya mempertanyakan bagian-bagian yang sudah tidak relevan. "Kita dapat mempertahankan makna Horja Bolon sebagai penyambutan tamu tanpa menjadikan perempuan sebagai pelayan. Kita bisa melestarikan Mangulosi tanpa mengorbankan hak perempuan untuk dihargai setara," tegasnya.
Di akhir percakapan, Sari mengajak kita merenung: "Adat seharusnya menjadi akar yang membuat kita kuat berdiri, bukan rantai yang membelenggu langkah maju." Mungkin inilah tantangan terbesar budaya Batak di era modern: bagaimana merawat warisan leluhur tanpa melanggengkan ketidakadilan yang selama ini tersembunyi di balik keindahan ulos dan semangat gondang.
