Virus Tak Pernah Diam, Bisakah Vaksin Selalu Selangkah di Depan?

Al-Azhar Indonesia Biotech student.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Devaransha NT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah kemajuan dunia medis modern, salah satu ancaman terbesar bagi manusia adalah virus. Alasan virus menjadi ancaman adalah kemampuannya untuk berubah melalui proses yang disebut mutasi. Ketika virus bermutasi, virus dapat menjadi menyebar dengan lebih mudah, lebih sulit dikenali oleh sistem imun, hingga dapat mengurangi bahkan menghentikan efektivitas vaksin. Keadaan seperti ini membuat perkembangan vaksin dan mutasi virus menjadi hal yang selalu berjalan beriringan seperti dalam kompetisi. Bukti nyata perlombaan antara vaksin dan mutasi virus dapat dilihat ketika pandemi COVID-19, dimana virus berubah dengan cara dinamis sehingga dunia harus bergerak dengan cepat dalam menghadapinya.
Mutasi Virus: Mengapa Virus Terus Berubah?
Mutasi merupakan perubahan materi genetik pada virus yang terjadi dalam proses replikasi.Pada virus RNA seperti SARS-CoV-2, proses ini berlangsung lebih cepat karena sistem koreksi kesalahan genetiknya tidak sebaik organisme lain. Menurut penelitian Bangsa dan Setyawati (2022), mutasi SARS-CoV-2 dapat terjadi satu hingga dua kali setiap bulan. Mutasi ini banyak terjadi pada protein spike, yaitu bagian virus yang digunakan untuk menempel dan masuk ke dalam sel manusia. Ketika bagian ini berubah, antibodi yang dibentuk oleh vaksin sebelumnya bisa menjadi kurang efektif.
Varian Omicron menjadi salah satu contoh paling jelas karena varian ini memiliki banyak mutasi pada receptor-binding domain (RBD) yang merupakan bagian penting dari protein spike. Penelitian Chen et al. (2021) menunjukkan bahwa Omicron memiliki kemampuan lebih tinggi untuk menyebabkan infeksi ulang dan menembus perlindungan vaksin dibandingkan varian sebelumnya seperti Delta atau Gamma. Ini menjelaskan mengapa seseorang yang sudah menerima vaksin tetap bisa terinfeksi lagi, dan umumnya dengan gejala yang lebih ringan dibandingkan dengan yang belum divaksin.
Perkembangan Vaksin: Dari Metode Klasik hingga Teknologi mRNA
Di samping kengerian mutasi virus, perkembangan vaksin mengalami lompatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, vaksin dibuat dengan cara melemahkan virus sebelum diinjeksi ke dalam tubuh, namun kini teknologi vaksin menjadi jauh lebih modern dan cepat.
Vaksin Inaktif dan Live Attenuated
Salah satu metode paling klasik dalam pembuatan vaksin adalah vaksin inaktif dan live attenuated. Virus dilemahkan atau dimatikan agar dapat dikenali oleh tubuh tanpa menyebabkan penyakitnya. Kelebihan dari metode ini adalah respon imun yang luas, namun sayangnya produksi metode ini memerlukan waktu lama dan fasilitas dengan tingkat keamanan yang tinggi. Contohnya vaksin metode ini antara lain vaksin polio, influenza, dan beberapa vaksin COVID-19 seperti CoronaVac.
Vaksin mRNA: Revolusi Dunia Imunologi
Terobosan dalam sejarah medis adalah vaksin mRNA yang menggunakan virus yang tidak utuh alih-alih virus utuh yang inaktif. Teknologi ini menggunakan virus tidak utuh yang hanya membawa “instruksi generik” agar protein spike dapat diproduksi oleh tubuh yang kemudian akan membentuk antibodi. Keunggulan utamanya ada di proses pengembangannya yang jauh lebih cepat, sehingga dapat diperbarui dalam waktu singkat bila ada varian baru.Menurut Fauzan dan Sari (2023), vaksin BNT162b2 dari Pfizer-BioNTech menjadi salah satu vaksin paling efektif dalam menurunkan angka rawat inap dan kematian akibat COVID-19 secara global.
Vaksin DNA dan Masa Depan Imunisasi
Vaksin DNA juga sudah menarik perhatian para ilmuan, Penelitian Dewi et al. (2023) menunjukkan bahwa vaksin DNA berbasis gen nukleoprotein SARS-CoV-2 memiliki potensi besar sebagai alternatif vaksin generasi berikutnya. Pendekatan vaksin DNA dinilai lebih stabil dan mudah diproduksi, serta dapat memberikan perlindungan yang lebih luas terhadap berbagai mutasi virus.
Tantangan Besar: Ketika Virus Lebih Cepat Berubah
Yang menjadi tantangan besar dalam dunia vaksinasi modern adalah fenomena “immune escape”, dimana virus bermutasi sehingga antibodi hasil vaksin tidak mampu untuk mengenali virus dengan optimal. Hal ini membuat booster vaksin menjadi salah satu hal penting, supaya antibodi dapat menyesuaikan dengan virus yang terus berubah.
Tantangan lain ada di masalah distribusi vaksin yang tidak merata, contohnya di Indonesia. Banyak negara berkembang yang menghadapi keterbatasan akses vaksin, sedangkan negara maju sudah mendistribusikan vaksinasi dosis lanjutan.
Vaccine hesitancy atau keraguan masyarakat terhadap vaksin juga menjadi penghambat dalam perkembangan vaksinasi. Hal ini biasanya disebabkan karena informasi yang salah dan hoaks kesehatan yang membuat masyarakat ketakutan hingga timbul rasa skeptis terhadap perkembangan teknologi
Strategi Masa Depan: Vaksin Harus Lebih Adaptif
Yang menjadi fokus para ilmuwan bukan hanya membuat vaksin baru, namun juga membuat vaksin yang lebih fleksibel terhadap mutasi virus, Banyak strategi yang tengah dikembangkan, antara lain vaksin multivalen yang dapat melindungi dari beberapa varian sekaligus, vaksin berbasis mRNA dengan pembaruan cepat, serta penguatan sistem surveilans genomik global untuk mendeteksi varian baru lebih dini. Hal ini perlu didukung adanya kolaborasi internasional agar distribusi lebih adil dan merata di seluruh dunia.
Kesimpulan
Perkembangan vaksin dan mutasi virus adalah dua sisi dari pertarungan panjang antara manusia dan penyakit infeksi. Ketika virus terus berevolusi, ilmu pengetahuan pun dituntut untuk bergerak lebih cepat.
Pandemi COVID-19 mengajarkan kita bahwa vaksin bukan sekadar alat pencegahan, tetapi juga menjadi simbol kemajuan sains dan kerja sama global. Di masa depan, keberhasilan menghadapi pandemi baru akan sangat bergantung pada kemampuan dunia dalam mengembangkan vaksin yang cepat, aman, dan mampu beradaptasi terhadap mutasi virus yang terus berlangsung.
Perlombaan ini belum selesai. Namun satu hal yang pasti, sains tidak pernah berhenti berlari.
Referensi
Bangsa, M. T., & Setyawati, T. (2022). Variansi dan Mutasi COVID-19. Jurnal Medical Profession (MedPro).
Chen, J., Wang, R., Gilby, N. B., & Wei, G. W. (2021). Omicron (B.1.1.529): Infectivity, vaccine breakthrough, and antibody resistance. arXiv preprint.
Dewi, N. P. S., Mahardika, I. G. N. K., & Suardana, I. B. K. (2023). Development of a DNA Vaccine with Nucleoprotein Gene of the SARS-CoV-2 Virus. Buletin Veteriner Udayana.
Fauzan, R., & Sari, D. S. (2023). Vaksin SARS-CoV-2: Kontribusi Global Pfizer dan BioNTech dalam Menangani COVID-19. Jurnal Hubungan Internasional.
Rando, H. M., et al. (2022). Application of Traditional Vaccine Development Strategies to SARS-CoV-2. arX
