Konten dari Pengguna

Overthinking, Media Sosial, dan Kesehatan Mental Remaja: Saatnya Berhenti Diam

Devi Kurniasih

Devi Kurniasih

Sebagai mahasiswi aktif di universitas pamulang, jurusan PGSD fakultas keguruan dan ilmu pendidikan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devi Kurniasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tekanan Akademik, Media Sosial, dan Kesehatan Mental Remaja

Sumber ilustrasi: Gambar hasil AI dari ChatGPT (DALL·E – OpenAI) Remaja mengalami tekanan akademik, overthinking, dan gangguan kesehatan mental karena media sosial.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi: Gambar hasil AI dari ChatGPT (DALL·E – OpenAI) Remaja mengalami tekanan akademik, overthinking, dan gangguan kesehatan mental karena media sosial.

“Gue capek banget, tapi gak tahu capeknya karena apa.”

Kalimat itu terus berputar di kepala Nadira, siswi SMA yang aktif di organisasi dan rajin update media sosial. Di mata orang lain, dia kelihatan baik-baik saja. Tapi di balik itu, Nadira seperti banyak remaja zaman sekarang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup dan overthinking yang gak kelihatan dari luar.

Nadira bukan satu-satunya. Banyak remaja hari ini merasakan hal serupa. Tersenyum di luar, tapi bergumul dengan rasa cemas dan lelah secara diam-diam. Di balik unggahan foto estetik dan caption lucu, ada hati yang butuh ruang untuk bernapas.

Tekanan dari Segala Arah

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami gejala emosional yang mengganggu keseharian. Tapi gejala itu sering diabaikan karena dianggap "baper", "kurang bersyukur", atau "drama".

Tekanan datang dari banyak arah:

1.Akademik: Tugas menumpuk, ujian beruntun, dan tekanan nilai yang bikin pusing.

2.Media sosial: Hidup harus terlihat menarik, aesthetic, dan “baik-baik aja”.

3.Keluarga: Ekspektasi tinggi kadang bikin anak merasa gak pernah cukup.

Semua beban itu disimpan diam-diam. Karena bicara jujur dianggap kelemahan. Padahal, justru memendam bisa jadi lebih membahayakan.

Media Sosial: Penolong atau Perangkap?

Media sosial bisa jadi tempat pelarian, tapi juga bisa jadi sumber luka. Kita bisa nemu konten tentang journaling, self-reflection, bahkan psikolog yang bikin edukasi keren. Tapi di sisi lain, kita juga disuguhi pencapaian orang lain setiap hari. Yang kita lihat: keberhasilan. Yang gak kelihatan: perjuangan dan air matanya. Kita lupa, bahwa semua orang punya waktu gagal, punya waktu kosong, punya waktu jatuh. Tapi gak semua orang menunjukkannya.

Haruskah Semua Remaja ke Psikolog?

Gak selalu. Tapi ngobrol itu penting. Entah itu ke teman, guru BK, orang yang dipercaya, atau bahkan lewat journaling dan doa. Kadang, kita gak butuh solusi besar. Cukup ada satu orang yang benar-benar mau dengar tanpa ngejudge. Kesehatan pikiran bukan hal memalukan. Justru dengan berani bicara, kita bisa mulai sembuh—dan menyelamatkan diri kita sendiri.

Penutup: Kamu Gak Sendiri

Kalau kamu merasa bingung, lelah, atau kosong tanpa alasan yang jelas… itu valid.

Itu bukan tanda kamu lemah. Itu tanda kamu manusia. Dan manusia butuh ruang untuk istirahat, untuk bernapas, untuk didengarkan.

Jadi, yuk mulai berani bicara. Ke teman, guru, tulisan, atau diri sendiri. Karena kamu penting. Ceritamu juga penting.

#RemajaBersuara

#Overthinking

#CeritaRemaja

#GenerasiZamanSekarang

#BeraniCerita

#KamuGakSendiri

#TekananRemaja

#MediaSosial

#RemajaHariIni

#StopStigma