Ketika UMKM Mengadopsi AI: Dari Kesiapan Teknologi hingga Peningkatan Kinerja

Dosen Manajemen Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Devi Yulia Rahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah salah satu teknologi yang semakin memiliki peran strategis dalam organisasi, yang mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, efisiensi operasional, serta kemampuan organisasi dalam merespons dinamika pasar (Badghish & Soomro, 2024). Adopsi AI tidak hanya dilakukan oleh organisasi besar, namum UMKM juga sudah mulai mencoba menggunakan AI dalam proses bisnisnya. Pada konteks usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), adopsi AI dipandang sebagai sumber daya strategis yang potensial dalam menciptakan keunggulan bersaing berbasis data dan inovasi.
Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perkembangan AI membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan baru. Dengan memanfaatkan AI, UMKM dapat mengolah informasi dan data dengan lebih cepat, mengembangkan strategi pemasaran yang lebih tepat, serta memberikan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Dengan demikian, AI berpotensi menjadi salah satu sumber keunggulan bersaing bagi UMKM di tengah persaingan bisnis yang semakin berbasis teknologi (Sanchez et al., 2025).
UMKM memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Barat. Namun demikian, UMKM di Sumatera Barat masih menghadapi tantangan struktural berupa keterbatasan sumber daya, rendahnya kesiapan digital, serta tekanan persaingan yang semakin intens akibat digitalisasi pasar (Satria et al., 2025). Kondisi ini menyebabkan kemampuan UMKM untuk menciptakan keunggulan bersaing yang berkelanjutan masih relatif lemah, khususnya dalam memanfaatkan teknologi cerdas seperti AI.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan kinerja organisasi. Teknologi ini dapat mempercepat pekerjaan, membantu menghasilkan keputusan yang lebih akurat, memberikan layanan yang lebih personal kepada pelanggan, hingga membuka peluang untuk menciptakan model bisnis baru (Ul Haq et al., 2025).
Namun, pemanfaatan AI di kalangan UMKM masih relatif rendah dan belum merata (Thomas et al., 2025). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan UMKM untuk menggunakan AI tidak hanya bergantung pada tersedianya teknologi. Kesiapan dari dalam organisasi dan kondisi lingkungan bisnis juga memiliki peran penting. Dengan kata lain, sebuah UMKM mungkin memiliki akses terhadap teknologi AI, tetapi belum tentu siap atau terdorong untuk menggunakannya.
Hal ini dapat dijelaskan melalui pendekatan Technology–Organization–Environment (TOE), yaitu kerangka yang melihat adopsi teknologi dari tiga sisi. Pertama, teknologi, yaitu sejauh mana UMKM siap menggunakan teknologi baru. Kedua, organisasi, termasuk kemampuan karyawan dalam memahami dan menggunakan teknologi tersebut. Ketiga, lingkungan, terutama tekanan persaingan yang mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi. Dalam konteks UMKM, ketiga aspek tersebut dapat menjadi pertimbangan penting ketika pelaku usaha memutuskan apakah akan mulai menggunakan AI dalam aktivitas bisnisnya.
Mengacu kepada penelitian yang sudah dilakukan (Gambar 1) pada UMKM di Sumatera Barat (Rahmi et al., 2026), memberikan bukti bahwa kerangka kerja TOE yang terdiri dari (yang diwakili oleh tecnology readiness, perceived employee capability, dan competitive pressure) dapat menjadi faktor penentu bisnis dalam mengadopsi AI. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan adopsi AI tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada kemampuan internal karyawan serta tekanan lingkungan bisnis yang mendorong organisasi untuk merespons perubahan dan mempertahankan daya saing.
Selanjutnya, proses adopsi AI ini akan berdampak terhadap kinerja organisasi. Adopsi AI memungkinkan organisasi memanfaatkan teknologi secara lebih strategis untuk meningkatkan efisiensi, mendukung pengambilan keputusan, mengoptimalkan proses bisnis, dan menciptakan nilai yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kinerja organisasi. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa AI bukan sekadar instrumen teknologi, tetapi juga merupakan bagian dari strategi organisasi dalam menghadapi tuntutan lingkungan bisnis yang semakin dinamis.
Beberapa rekomendasi bagi pemilik bisnis UMKM dalam proses mengadopsi AI bisa dilihat di bawah ini:
1.Pemilik bisnis yang dalam penelitian ini merupakan UMKM, sebaiknya mulai memperkuat kesiapan teknologi yang dapat berdampak terhadap proses adopsi AI. Namun, kesiapan ini, disesuaikan dengan kebutuhan UMKM sehingga proses bisnis lainnya tidak terganggu.
2.UMKM juga perlu berinvestasi dalam peningkatan kapabilitas karyawan. Hal ini bisa dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan karyawan secara berkelanjutan. Dalam hal adopsi AI, karyawan tidak hanya membutuhkan pengetahuan teknis, namun juga pengetahuan dalam etika menggunakan AI pada proses bisnisnya. Selain itu, karyawan juga harus memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan AI dengan proses bisnis yang sudah ada.
3. UMKM tidak hanya memandang pesaing sebagai ancaman, namun juga dijadikan sebagai faktor yang mendorong untuk menghasilkan strategi bisnis yang lebih diminati oleh konsumen/ pelanggan. Hal ini bisa dilakukan dengan memantau pesaing, mengetahui secara pasti keinginan konsumen dan mengidentifikasi faktor-faktor lainya yang bisa dapat mendorong keunggulan kompetitif.
