Konten dari Pengguna

Jejak Luka yang Tak Terlihat: Sisi Lain Sang Pahlawan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deviana Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com

"Sosok selama ini yang dibanggakan adalah penjahat sesungguhnya!." Inilah yang tergambar di dalam cerpen, bukan hanya itu saja pengungkapan siapa yang menulis sejarah ialah yang mengatur siapa yang patut menjadi pahlawan.

Apa jadinya jika sosok yang selama ini dipuji sebagai pahlawan ternyata menyimpan masa lalu yang jauh lebih rumit? Pertanyaan itulah yang terasa kuat setelah membaca cerpen Ibu Pertiwi karya Muhammad Gibran Aryeseno. Cerpen ini tidak hanya bercerita tentang seorang mantan tentara, tetapi juga tentang bagaimana perang meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat, bagaimana negara membentuk narasi kepahlawanan, dan bagaimana seseorang bisa runtuh ketika kebenaran masa lalunya akhirnya muncul ke permukaan.

Sosok yang selalu dibanggakan

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang veteran perang yang hidup tampak normal. Ia memiliki rumah, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan yang tampaknya tenang. Di mata masyarakat, ia adalah sosok terhormat bahkan disebut sebagai pahlawan perang.

Namun, ketenangan itu ternyata hanya permukaan. Sedikit demi sedikit, cerita menunjukkan bahwa tokoh utama tidak benar baik-baik saja. Atmosfer ketakutan mulai menyelimuti. Dalam kajian sastra, atmosphere (suasana) dijelaskan oleh M. H. Abrams (1999: 14) sebagai "nada emosional yang meliputi suatu bagian atau keseluruhan karya sastra, yang menumbuhkan ekspektasi pembaca terhadap jalannya peristiwa, baik itu membahagiakan atau (lebih umum) menakutkan maupun membawa bencana". Ia mengalami kegelisahan, ketakutan, dan gangguan batin yang sulit dijelaskan. Ia merasa tubuhnya berubah, pikirannya dipenuhi suara-suara, dan tidurnya tidak lagi nyaman. Dari sini, kita mulai menyadari bahwa perang belum selesai. Mungkin perang itu memang sudah berakhir secara resmi, tetapi di dalam dirinya, perang masih terus berlangsung.

Dalam cerpen ini “Ibu Pertiwi” tidak hanya menjadi simbol kasih dan perlindungan, melainkan simbol yang diselewengkan. Negara menggunakan simbol tersebut untuk menciptakan legitimasi moral terhadap perang. Hal ini tercermin pada monumen wanita yang dilihat oleh tokoh utama, yang memuliakan para “pembela Ibu Pertiwi.” Simbol ibu yang seharusnya melindungi kehidupan justru dipakai untuk membenarkan penghancuran kehidupan orang lain. Dengan demikian, cerpen ini mengkritik bagaimana nasionalisme dapat berubah menjadi alat propaganda.

Rasa Bersalah yang Terus Menghantuinya

”Tubuhku bertingkah aneh akhir-akhir ini. Aku menggigil pada tengah malam dan dirundung kepanikan pada pagi hari. Mimpi buruk sudah tidak pernah datang, tetapi aku malah takut tertidur. Jari-jariku seolah mengeriting dan kakiku mengecil......"

Kutipan ini menceritakan bahwa tubuhnya “bertingkah aneh” memperlihatkan bahwa perang dalam cerpen Ibu Pertiwi belum benar-benar selesai. Meski di mata publik ia dipuja sebagai pahlawan, rasa panik, takut tidur, suara-suara asing, dan perasaan “bermetamorfosis” menunjukkan bahwa tokoh utama sebenarnya sedang dihancurkan oleh trauma dan masa lalunya sendiri. Karena itu, kutipan ini tidak hanya menggambarkan kondisi batin tokoh, tetapi juga menegaskan tema besar cerpen: bahwa di balik citra kepahlawanan, ada luka, rasa bersalah, dan sejarah kelam yang terus menghantui manusia dari dalam. Secara lahiriah ia adalah simbol kemenangan negara, tetapi secara batiniah ia adalah sosok yang runtuh.

”Kafka, oh, Kafka.” Sania melipat kedua tangannya di atas meja. ”Apa yang kalian lakukan terhadap orang-orang Annya adalah genosida. Ini adalah tanah kami dan kalian mengambilnya secara paksa. Kami seharusnya tidak perlu mengungsi ke mana pun.”

”Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.”

Kondisi mental dan fisik tokoh utama yang hancur bukanlah sekadar trauma pascaperang biasa, melainkan hasil dari penyangkalan yang ekstrem. Di alam bawah sadarnya, ia tahu bahwa ia adalah seorang monster, namun akal sehatnya berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia adalah orang baik yang menjalankan 'perintah Tuhan'. Dari awal cerita telah di jelas kondisinya dalam beberapa dialog dan narasi, seperti menghindari kontak mata dengan orang lain, menghindari sentuhan fisik, hantu-hantu yang dipenuhi amarah, rasa mual saat melihat kuah makanan (mengingatkan pada parit berdarah), dan ketakutan untuk tertidur adalah manifestasi nyata dari rasa bersalah yang terkubur di bawah alam sadarnya.

Tidak seperti cerita pada umumnya pemeran utama adalah orang yang baik dan sempurna, cerpen ini malah menjadikan seorang pemeran utama menjadi sebaliknya. Alih-alih menunjukkan kebesaran, martabat, kekuatan, atau kepahlawanan sejati, ia justru tampil sebagai sosok yang hina, pasif, tidak efektif, atau tidak jujur. Gelar pahlawan perang kafka terbukti hanyalah kebohongan, karena ia sesungguhnya adalah seorang penjahat perang dan pelaku genosida yang pengecut dan sembunyi pada kata ‘pahlawan’ ini menjelaskan isi dalam cerpen mengandung ideologi antihero atau antipahlawan.

Pahlawan Tercipta dari Siapa yang Menulis Sejarah

”Penjahat perang?” Kedua mata Kafka terbelalak. Mulutnya sedikit terbuka setelah mendengar ucapan Sania. ”Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku membersihkan tanah Tarinus dari orang-orang Annya.”

Dalam adegan ini, kafka si tokoh utama berhadapan langsung dengan kenyataan yang selama ini berusaha ia tekan. Ia tidak lagi berada di ruang wawancara yang terang, tidak lagi bicara di depan kamera sebagai tokoh yang dihormati, melainkan duduk berhadapan dengan seseorang yang membawa versi sejarah yang sama sekali berbeda. Jika negara menyebutnya pejuang, Sania menyebutnya penjahat perang. Benturan ini menjadi sangat penting karena memperlihatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar tunggal.

Benturan ini menjadi sangat krusial karena memperlihatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar tunggal. Apa yang dirayakan sebagai kemenangan oleh satu pihak, bisa menjadi tragedi berdarah bagi pihak lain. Pertentangan ini memperjelas tema besar cerpen, yaitu benturan antara narasi resmi negara melawan pengalaman nyata para korban. Sebagaimana dijelaskan oleh Abrams (1999: 95-96) mengenai pembentukan tema fiksi, "generalisasi sentral, atau pengendali semacam itu dikatakan sebagai tema atau tesis dari sebuah karya." Cerpen ini secara sentral mengendalikan gagasan bahwa kepahlawanan versi publik bisa bertolak belakang dengan kenyataan moral.

Salah satu detail paling kuat itu adalah ketika Kafka digambarkan ingin “melipat” tubuhnya menjadi kertas kecil. Gambarannya sangat sederhana, tetapi menyimpan tekanan yang besar. Di hadapan masa lalu yang kini berdiri di depannya, Kafka seolah ingin mengecil, menghilang, atau lepas dari dirinya sendiri. Ini adalah momen ketika keruntuhan batin tidak lagi hanya tampak dalam gejala tubuh, tetapi dalam dorongan untuk menghapus keberadaan diri. Penulis tidak perlu membuat ia berteriak atau menangis untuk menunjukkan kehancurannya. Cukup dengan gambar tubuh yang ingin dilipat, pembaca bisa merasakan betapa rapuh dan terpojoknya tokoh ini.

Melalui , Ibu Pertiwi memperlihatkan bahwa perang tidak pernah sesederhana cerita tentang kemenangan dan jasa. Di balik pujian kepada pahlawan, selalu ada kemungkinan adanya luka yang tidak diakui. Di balik narasi cinta tanah air, ada pula pertanyaan moral yang sulit dihindari. Cerpen ini penting karena tidak memberi pembaca kenyamanan untuk memandang sejarah secara hitam-putih. Ia justru mengajak kita melihat bahwa seorang yang dipuja bangsa pun bisa menjadi sosok yang rapuh, terguncang, dan dihantui oleh kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Pada akhirnya, Ibu Pertiwi bukan hanya cerita tentang seorang veteran perang yang mengalami gangguan batin. Ia adalah cerita tentang bagaimana masa lalu yang dibungkam tidak pernah benar-benar hilang, tentang bagaimana propaganda dapat membentuk pahlawan di permukaan sambil menutupi luka di bawahnya, dan tentang bagaimana manusia pada akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Lewat tokoh utama, Muhammad Gibran Aryeseno menunjukkan bahwa yang paling menghancurkan dari sejarah bukan hanya peristiwanya, melainkan gema yang terus tinggal lama setelah semuanya dianggap selesai.

Daftar Pustaka

Aryoseno, M. G. (2026). Cerpen Ibu Pertiwi. Penerbit Kompas 3 juni

Abrams, M. H. (1999). A Glossary of Literary Terms (7th ed.). Heinle & Heinle.