Konten dari Pengguna

Potensi Besar, Jangkauan Terbatas: Membaca Persoalan UMKM Desa Kebobang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devina Agista Girsang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama Mahasiswa FBD 48 Universitas Brawijaya Ibu Desa Kebobang. Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama Mahasiswa FBD 48 Universitas Brawijaya Ibu Desa Kebobang. Dok. Istimewa

Desa Kebobang memiliki wajah ekonomi yang jauh lebih beragam daripada yang terlihat sekilas. Di tengah kehidupan masyarakat, berbagai usaha seperti kopi, bakso, jamu, rujak, hingga peternakan seperti kambing dan domba telah tumbuh sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat desa. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa potensi UMKM Desa Kebobang sebenarnya tidak pernah benar-benar kosong. Justru sebaliknya, masyarakat telah memiliki berbagai produk dan keterampilan yang dapat menjadi pondasi bagi pengembangan ekonomi desa.

Gambaran tersebut semakin terlihat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang merupakan program kerja mahasiswa FBD kelompok 48 Universitas Brawijaya bersama masyarakat Desa Kebobang. FGD menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, kondisi usaha, kendala, sekaligus harapan mereka secara langsung. Dari berbagai cerita yang muncul, terlihat bahwa persoalan utama UMKM Desa Kebobang bukan terletak pada ketiadaan produk, melainkan pada bagaimana potensi yang sudah ada dapat dikembangkan, dikenalkan, dan memiliki akses pasar yang lebih luas. Salah satu produk yang kemudian dipandang memiliki potensi unggulan adalah kopi. Kopi dianggap memiliki peluang untuk membawa nama Desa Kebobang dikenal lebih luas. Namun, pengembangan kopi sebagai produk unggulan tidak berarti mengesampingkan usaha lainnya. Bakso, jamu, rujak, usaha peternakan kambing dan domba, serta berbagai usaha masyarakat lainnya tetap menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi Desa Kebobang.

Persoalan yang paling banyak dirasakan masyarakat adalah keterbatasan pemasaran. Berbagai produk memang sudah tersedia, tetapi sebagian besar masih dipasarkan melalui pelanggan tetap, rekomendasi dari mulut ke mulut, atau penjualan di sekitar lingkungan desa. Pola pemasaran tersebut membuat jangkauan pasar pelaku usaha desa menjadi terbatas. Ketika pemasaran hanya berputar di lingkungan sekitar, peluang untuk memperoleh konsumen baru dari luar desa juga menjadi semakin kecil. Dengan demikian, tantangan UMKM Desa Kebobang bukan hanya bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana membuat produk tersebut dikenal, dipertimbangkan, dan dipilih oleh konsumen yang lebih luas.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika pemasaran belum didukung oleh pemanfaatan media digital secara optimal. Di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin dekat dengan ruang digital, kehadiran produk secara daring dapat menjadi salah satu pintu untuk memperluas jangkauan pasar. Namun, belum semua pelaku UMKM memiliki kemampuan, pengetahuan, atau sumber daya untuk mengelola promosi digital secara konsisten. Persoalan lain yang turut muncul adalah mengenai identitas produk atau branding. Produk yang berkualitas tidak otomatis membuat sebuah usaha mudah dikenali. Dalam pasar yang dipenuhi berbagai pilihan, sebuah produk membutuhkan identitas yang dapat membedakannya dari produk lain.

Bagi UMKM Desa Kebobang, persoalannya bukan sekadar memiliki produk, tetapi bagaimana membuat produk tersebut mempunyai identitas yang kuat dan melekat pada nama Desa Kebobang. Selama ini, produk yang berasal dari Desa Kebobang masih berpotensi dikenali hanya sebagai produk khas Gunung Kawi atau bahkan tidak memiliki identitas asal yang jelas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek branding memiliki peran penting dalam memperkuat posisi produk lokal. Karena itu, masyarakat menyampaikan harapan adanya pelatihan branding yang dapat membantu pelaku UMKM membangun nama, identitas visual, kemasan, maupun cara memperkenalkan produknya kepada konsumen.

Selain pemasaran dan branding, persoalan lain yang tidak kalah penting berada pada sisi produksi. Modal yang terbatas, meningkatnya harga bahan baku, serta beban pajak menjadi hambatan bagi pelaku UMKM untuk mempertahankan maupun meningkatkan produksinya. Memperluas pasar tidak akan cukup apabila kapasitas produksi tidak mampu mengikuti peningkatan permintaan. Artinya, pengembangan UMKM harus dilihat secara menyeluruh. Ketika produk berhasil dipromosikan dan permintaan meningkat, pelaku usaha juga membutuhkan modal, bahan baku, serta kemampuan produksi yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, peluang pasar yang seharusnya menjadi keuntungan justru dapat berubah menjadi tekanan baru bagi pelaku usaha.

Dalam konteks produk lokal, kopi menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh. Masyarakat tidak hanya melihat kopi sebagai produk yang dijual dalam bentuk minuman, tetapi juga mulai memikirkan kemungkinan pengembangan berbagai produk turunannya. Gagasan tersebut menunjukkan adanya keinginan untuk menciptakan nilai tambah dari komoditas yang sudah dimiliki masyarakat. Pengembangan produk kopi melalui diversifikasi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi, selama dilakukan berdasarkan kemampuan produksi, kebutuhan pasar, dan kondisi nyata masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat juga menyampaikan gagasan mengenai pentingnya ruang bersama yang dapat digunakan untuk memperkenalkan produk UMKM Desa Kebobang. Salah satu ide yang muncul adalah pembangunan galeri atau ruang yang menghimpun berbagai produk lokal dalam satu tempat. Gagasan tersebut bukan hanya persoalan menyediakan tempat untuk memajang barang. Lebih jauh, ruang bersama dapat menjadi pusat informasi bagi masyarakat luar desa yang ingin mengenal dan membeli produk Kebobang. Saat ini, konsumen masih perlu mencari atau menghubungi pelaku usaha satu per satu. Kondisi tersebut membuat produk lokal yang sebenarnya memiliki potensi menjadi sulit ditemukan.

Kehadiran ruang bersama dapat menjadi langkah strategis untuk mempertemukan produk UMKM, identitas desa, dan konsumen dalam satu titik yang lebih mudah diakses. Namun, sebelum menentukan bentuk pengembangan tersebut, satu hal yang menjadi pelajaran penting dari FGD adalah pentingnya mendengarkan masyarakat. Pengembangan UMKM tidak seharusnya hanya dibangun berdasarkan asumsi pihak luar mengenai apa yang dianggap dibutuhkan masyarakat. Sebaliknya, kebutuhan tersebut perlu ditemukan melalui pengalaman dan suara masyarakat sendiri. FGD memperlihatkan bahwa persoalan UMKM Desa Kebobang tidak berdiri sendiri. Pemasaran berkaitan dengan kemampuan promosi. Promosi berkaitan dengan identitas produk. Identitas berkaitan dengan branding. Sementara peningkatan pasar juga berkaitan dengan modal, bahan baku, kapasitas produksi, dan keberlanjutan usaha.

Karena itu, pengembangan UMKM Desa Kebobang perlu dilakukan secara terpadu, dengan menempatkan masyarakat sebagai sumber utama dalam memahami masalah sekaligus menentukan kebutuhan pengembangannya. Pada akhirnya, melihat UMKM Desa Kebobang berarti melihat lebih dari sekadar daftar produk yang dijual masyarakat. Di balik secangkir kopi, seporsi bakso, sebotol jamu, sebungkus rujak, atau aktivitas peternakan kambing dan domba, terdapat masyarakat yang sedang membangun penghidupan melalui potensi yang mereka miliki. Potensi tersebut sebenarnya telah tumbuh dari dalam desa. Yang masih menjadi pekerjaan bersama adalah menciptakan ruang, strategi, dan dukungan agar potensi tersebut mampu berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas. Tantangan Desa Kebobang hari ini bukan lagi tentang apakah masyarakat memiliki sesuatu untuk ditawarkan, tetapi bagaimana membuat lebih banyak orang di luar Kebobang mengetahui, mengenali, dan memilih produk yang mereka hasilkan.