Konten dari Pengguna

Saatnya Lepas dari Toxic Relationship,Bukan Egois tapi Penyelamatan Diri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devina Ayu Wandyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kadang, seseorang baru sadar hubungannya tidak sehat ketika sudah benar-benar lelah. Bukan karena satu hal besar, melainkan dari kumpulan masalah kecil yang datang terus-menerus. Kata-kata yang menyakitkan, sikap yang membuat tidak nyaman, tuntutan yang tidak pernah habis, sampai keharusan untuk selalu berhati-hati agar tidak menimbulkan masalah. Lama-kelamaan, semua itu membuat semangat luntur dan kebahagiaan ikut pudar.

Diam-diam muncul juga pertanyaan, “Kenapa aku terus merasa seperti ini, ya? Jangan-jangan malah aku yang terlalu menuntut?” atau “Aku masih bahagia tidak, sih, di hubungan ini?” Walau sudah jelas tidak nyaman, memutuskan untuk pergi tetap tidak gampang. Masih ada kenangan yang susah dilupakan, rasa sayang yang belum benar-benar hilang, dan harapan siapa tahu dia bisa berubah.

Kadang, pikiran kita juga dipenuhi kekhawatiran tentang penilaian orang lain. Takut keluarga atau teman bilang kita kurang usaha, terlalu gampang menyerah, atau malah tidak menghargai pasangan. Jadi, kita diam dan lagi-lagi mencoba bertahan, meski hati sudah lelah sekali dan ingin berhenti. “Sudah, coba lagi aja,” begitu bisikan dalam hati, walaupun kelelahan itu sudah tidak tertahankan.

Orang luar biasanya cuma melihat bagian permukaannya saja. Mereka tidak tahu bagaimana perjuangan setiap hari. Mereka tidak paham berapa banyak percakapan yang berakhir dengan tangisan, seberapa sering kita mengalah dan memaafkan, serta berapa kali mencoba memperbaiki situasi. Jadinya, saat akhirnya seseorang memilih pergi, jangan buru-buru mengecapnya egois. Siapa tahu itu keputusan yang lahir dari proses dan perjuangan panjang. "Mereka cuma lihat aku pergi, padahal mereka tidak tahu bagaimana aku mati-matian bertahan."

Ada saatnya, menjauh adalah pilihan yang paling masuk akal. Bukan karena tidak peduli lagi, tapi karena mulai sadar diri sendiri juga butuh diperhatikan. Setelah keluar dari situasi yang melelahkan, proses untuk pulih memang memakan waktu. Tidak usah memaksakan diri untuk langsung baik-baik saja. Mulai saja dari hal-hal kecil: melakukan apa yang disukai lagi, ngobrol dengan orang yang bisa dipercaya, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat. "Aku tidak harus langsung sembuh, kok. Pelan-pelan saja, tidak apa-apa."

Hubungan itu seharusnya tidak membuat kita kehilangan harga diri hanya demi bertahan. Rasa sayang juga tidak harus jadi alasan untuk terus-menerus menerima perlakuan yang menyakiti. Kalau hubungan malah membuat kita lebih sering menderita daripada bahagia, memilih berhenti bukan berarti gagal cinta. Justru di situ kita akhirnya paham nilai diri sendiri dan berani memberi kesempatan untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. Pada akhirnya, mungkin yang paling penting adalah jujur sama diri sendiri: "Aku sudah cukup berjuang. Sekarang, aku juga berhak memilih diriku sendiri."

Foto dari Shubham Dhage di Unplash

Kadang, hal yang paling berat dari hubungan tidak sehat itu bukan cuma menghadapi orang yang bikin sakit hati, tapi juga bertarung dengan suara di kepala sendiri. Tiap ada hal yang menyakitkan, langsung muncul pertanyaan seperti, “Apa aku terlalu berlebihan?” atau “Jangan-jangan, aku yang salah selama ini?” Atau malah mulai berpikir, “Mungkin kalau aku lebih mengerti dia, semuanya bisa jadi baik.”

Lama-kelamaan, suara itu tidak pernah berhenti, sampai rasanya susah buat percaya sama perasaan sendiri. Hari-hari berlalu, suara itu makin sering muncul di pikiran. Kena perlakuan yang membuat sedih pun, tetap saja mencoba memanggil logika seperti, “Ya sudah lah, mungkin dia lagi stres,” atau “Aku harus lebih sabar, nanti juga dia berubah.” Tiap mau menyerah, tiba-tiba kepikiran, “Kalau aku pergi, apa aku jahat?”

Akhirnya, waktu habis cuma buat memikirkan perasaan orang lain, tanpa sempat bertanya ke diri sendiri, “Sebenarnya aku masih bahagia tidak sih di hubungan ini?” Pelan-pelan, kebiasaan menyalahkan diri sendiri malah membuat lupa sama diri sendiri. Rasa sakit dianggap wajar, dan kebutuhan pribadi jadi terasa tidak penting. Padahal, ada satu pertanyaan dasar yang sering banget kelupaan: “Kalau memang hubungan ini baik buatku, kenapa aku harus terus merasa takut, bersalah, atau tidak cukup baik?”

Mungkin, sudah saatnya berhenti menyalahkan diri sendiri terus-menerus. Coba deh, jujur saja sama diri sendiri: "Perasaanku valid, kok. Aku tidak harus terima perlakuan yang menyakiti. Aku punya hak buat bilang tidak. Aku boleh capek. Aku boleh pergi dari hal yang bikin aku kehilangan diriku sendiri." Soalnya, kadang langkah pertama buat keluar dari hubungan yang tidak sehat itu bukan langsung meninggalkan semuanya, tapi mulai percaya lagi sama suara hati sendiri.

Masalah kesehatan mental di Indonesia sekarang benar-benar jadi sorotan. Data dari PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) bilang, sekitar 20% orang Indonesia mengalami gangguan mental, terutama soal kecemasan dan depresi. Tekanan hidup, mulai dari lingkungan sosial sampai hubungan yang tidak sehat, sering membuat keadaan makin berat. Belakangan ini, obrolan soal toxic relationship makin ramai di media sosial. Banyak orang membagikan pengalaman tentang manipulasi emosional, hubungan yang penuh tekanan, dan efek buruknya buat kesehatan mental. Cerita-cerita kayak gini bikin makin jelas, hubungan yang tidak sehat itu bukan sekadar masalah pribadi. Ini sudah jadi fenomena yang meluas, apalagi di kalangan anak muda yang lagi mencari jati diri dan belajar membangun hubungan.

Di masyarakat, orang sering bilang penting banget untuk menjaga hubungan dan tetap rukun. Tapi kadang, nilai kebersamaan bikin seseorang merasa harus terus mengalah, padahal hubungan itu udah bikin tidak nyaman. Orang yang jadi korban toxic relationship juga sering merasakan hal yang sama. Mereka yang akhirnya memutuskan untuk pergi, biasanya langsung dicap egois atau dianggap tidak mau berjuang. Padahal, egois artinya memikirkan diri sendiri sambil merugikan orang lain. Sementara self-preservation itu usaha buat melindungi diri dari situasi yang terus-terusan bikin efek buruk.

Hubungan yang isinya tekanan, manipulasi, atau gaslighting bisa bikin orang kehilangan kepercayaan diri, merasa stres, dan susah melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi, menjauh dari hubungan yang merusak bukan berarti tidak peduli, tapi justru cara terbaik buat menjaga kesehatan diri dan mental.

Meninggalkan hubungan yang tidak sehat itu tidak gampang. Setelah semuanya selesai, kadang masih terasa kehilangan, sepi, dan mulai ragu apakah keputusan itu benar. Tapi, rasa-rasa itu bukan bukti kalau langkahmu salah. Justru, kadang kamu mesti melepaskan sesuatu yang terus bikin sakit supaya kamu bisa kembali tenang.

Menjaga diri sendiri bukan berarti kamu egois. Kalau hubungan itu bikin kamu terus-terusan merasa takut, tertekan, atau tidak dihargai, kamu punya hak buat menjaga jarak. Setelah itu, kasih waktu buat dirimu sendiri pulih. Ceritain saja perasaanmu ke orang yang kamu percaya, jauhi hal-hal yang bisa bikin kamu terluka lagi, dan pelan-pelan, mulai lagi lakukan hal-hal yang bikin kamu bahagia.

Pengalaman buruk memang tidak langsung hilang, tapi kamu bisa belajar banyak dari sana. Kamu jadi lebih mengerti batasan diri dan tahu perlakuan yang pantas kamu terima. Mengakhiri hubungan toxic bukan berarti kamu gagal, justru itu bisa jadi awal buat hidup yang lebih tenang, sehat, dan penuh penghargaan pada diri sendiri.