Mengenal Khalayak di Media Sosial

Communication Science Student.
Tulisan dari Devina Dian Regita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sosiologi merupakan ilmu yang membahas tentang segala bentuk aspek dalam masyarakat serta pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Salah satu ruang lingkup yang dikaji dalam sosiologi adalah interaksi sosial. Inti dari interaksi yang terjadi dalam masyarakat tersebut adalah komunikasi. Dalam mempelajari berbagai macam aspek yang ada dalam masyarakat tersebut tentunya tidak bisa terlepas dari yang namanya komunikasi. Oleh karena itu sosiologi dan komunikasi adalah dua hal yang saling berkaitan, karena pada dasarnya komunikasi merupakan suatu proses sosial yang mendasar dan sangat vital.
Menurut Soerjono Soekanto, sosiologi komunikasi adalah kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh-memengaruhi antar individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok.
Masyarakat menjadi kunci utama dalam kajian sosiologi komunikasi. Menurut Ralph Linton (Soekanto,2003), masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat merupakan kumpulan orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
Saat ini hampir seluruh masyarakat pasti mengenal dan menggunakan media, baik itu televisi maupun smartphone. Didalam masyarakat pasti terdapat khalayak. Mayoritas masyarakat yang menggunakan media saat ini dapat dikatakan sebagai khalayak. Khalayak merupakan penerima,pembaca,sasaran,pendengar,atau komunikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa media massa saat ini menjadi referensi masyarakat dalam mencari dan menggali informasi yang dibutuhkan.
Seperti dalam teori uses and gratifications, yang memprediksikan bahwa khalayak itu tergantung pada informasi yang berasal dari media massa. Hal tersebut dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan khalayak yang bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia itu memiliki motif kebutuhan yang berbeda-beda. Dengan kata lain, setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan inilah yang tentunya berpengaruh pula kepada pemilihan konsumsi akan sebuah media. Teori ini menitikberatkan pada fungsi media massa bagi penggunanya. Yang dilihat adalah apa yang dilakukan orang terhadap media, bukan apa yang dilakukan terhadap khalayak (McQuail,1980)
Terdapat lima asumsi dasar uses and gratifications; 1) Khalayak aktif. Merupakan bagian penting dari penggunaan media oleh khalayak yang diasumsikan memiliki tujuan tertentu. 2) Khalayak selektif memilih media yang disukainya dengan memilih sumber sumber lain untuk memenuhi kebutuhannya. 3) Media berkompetisi dengan sumber-sumber lain untuk memenuhi kebutuhan khalayaknya. 4) Tujuan pemilihan media diketahui dari data yang diberikan anggota khalayak itu sendiri. 5) Penilaian tentang arti kultural dari media tidak dapat diberikan sebelum diadakannya penelitian tentang orientasi khalayak (Blumer, Kartz & Gurevitz, 1974). Uses and gratifications berasumsi khalayak memilih media berdasarkan motivasinya, berdasarkan pengalaman khalayak sebelumnya tentang media (McQuail, 1980). Dengan demikian, khalayak dalam hal ini menggunakan berbagai jenis komunikasi yang ada pada lingkungannya untuk memuaskan kebutuhannya, keinginannya, dan kepentingannya. Jika hal tersebut terpenuhi, akan timbul kepuasan terhadap Media, inilah kepuasan media (Media Gratifications).
Dapat disimpulkan bahwa khalayak terbagi menjadi dua yaitu khalayak aktif dan khalayak pasif. Khalayak aktif adalah khalayak yang dalam menafsirkan pesan itu memiliki tafsir sendiri yang berbeda-beda. Jadi mereka tidak menerima informasi yang disampaikan dari media begitu saja melainkan mereka memiliki penafsiran yang berbeda-beda berdasarkan pengalaman mereka itu sendiri. Sedangkan khalayak pasif adalah khalayak yang tidak berdaya di hadapan media, jadi mereka hanya menelan mentah-mentah dari apa yang disampaikan oleh media.
Salah satu karakteristik khalayak masa kini adalah keaktifan berinteraksi di media sosial. Misalnya seperti di facebook,instagram,twitter dan sebagainya. Interaksi yang selama ini seakan-akan tidak mendapatkan tempat di media massa tradisional. Khalayak dianggap sekadar menerima informasi dari media dan tidak memiliki kuasa untuk memberikan timbal balik. Media sosial kemudian menjadi semacam tempat bagi khalayak untuk berinteraksi tidak hanya di antara khalayak semata, melainkan juga dengan pihak media. Secara teknologi, media sosial memberikan khalayak ruang untuk mewadahi komentar atau kritiknya. Namun, komunikasi dan interaksi di media sosial tidak hanya sekedar saling memberikan komentar. Khalayak diberikan ruang yang bebas untuk menyampaikan pendapatnya, memberitahukan apa yang sedang dipikirkan, atau sekadar mengunggah foto perjalanan,foto sehari-hari tanpa maksud untuk ditujukan kepada orang tertentu melainkan hanya berbagi kebahagiaan. Media sosial saat ini cenderung menjadi semacam “ruang pribadi” yang uniknya dapat diakses oleh pengguna lain dan terbuka peluang terjadinya interaksi.
Namun terkadang media sosial juga menjadi sasaran orang-orang yang tidak bertanggung jawab misalnya mengunggah konten yang sifatnya negatif walaupun sedang menjadi trend. Hal tersebut berhubungan dengan intensitas khalayak dalam mengonsumsi media massa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa media massa mempunyai daya besar yang bisa memengaruhi khalayaknya.
Devina Dian Regita, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
