Konten dari Pengguna

Canyoneering: Menjual Adrenalin di Balik Air Terjun

Devinia H Girsang

Devinia H Girsang

Saya mahasiswa Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang tertarik pada kajian ekonomi dan aktif menulis serta membagikan opini pribadi melalui artikel.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devinia H Girsang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber AI

Di balik derasnya air terjun dan tebing-tebing curam yang tersembunyi di alam Indonesia, tersimpan cerita yang tak biasa. Ini bukan hanya tentang petualangan ekstrim, tetapi juga tentang bagaimana hobi ekstrem dapat berubah menjadi sumber penghasilan.

Bagi sebagian anak muda pecinta alam, canyoneering meruapakan aktivitas menyusuri aliran sungai dengan menuruni air terjun, memanjat tebing, serta melewati medan berbatu, awalnya hanyalah kegiatan untuk melepas penat. Aktivitas ini tidak hanya menawarkan tantangan fisik, tetapi juga memberikan pengalaman kedekatan dengan alam. Namun, seiring waktu, canyoneering tidak lagi sekadar hobi, melainkan berkembang menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.

Fenomena ini mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan. Di tengah keterbatasan lapangan kerja formal, banyak anak muda mulai memanfaatkan keterampilan dan minat yang dimiliki untuk menciptakan peluang sendiri. Alam pun tidak lagi hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga menjadi ruang produktif yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.

Menjual adrenalin

Berbekal pengalaman dan kemampuan teknis, para pelaku canyoneering mulai menawarkan jasa sebagai pemandu wisata (tour guide). Aktivitas ini telah berkembang di berbagai daerah wisata alam di Indonesia, seperti Green Canyon di Pangandaran, Curug Cimahi di Bandung, Air Terjun Madakaripura di Probolinggo, hingga kawasan Bali seperti Gitgit dan Sambangan yang dikenal memiliki jalur canyoneering yang menantang. Selain itu, aktivitas serupa juga mulai berkembang di Sumatera Utara, salah satunya di kawasan Air Terjun Kulikap yang terletak di Negeri Suah, Desa Negeri Gunung, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Kawasan ini memiliki karakter alam berupa aliran air, tebing curam, serta bebatuan yang mendukung kegiatan canyoneering.

Air Terjun Kulikap (Sumber: Arsip Pribadi)

Tidak hanya mengandalkan kondisi alam, para pelaku juga memanfaatkan media sosial untuk membuat konten dokumentasi perjalanan serta desain promosi guna menarik wisatawan. Aktivitas ini membuka peluang penghasilan tambahan, bahkan bagi sebagian orang telah menjadi sumber pendapatan utama.

Kehadiran wisatawan yang tertarik mencoba canyoneering turut memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Jasa transportasi lokal, penginapan, warung makan, hingga penyewaan perlengkapan ikut merasakan manfaatnya. Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai multiplier effect, yaitu ketika satu aktivitas mampu menciptakan efek berantai pada sektor lainnya.

Dengan demikian, canyoneering tidak hanya memberikan manfaat secara individu, tetapi juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal. Hal ini sejalan dengan tren pariwisata di Indonesia yang masih didominasi oleh wisata berbasis alam. Studi yang dirilis oleh Traveloka bersama YouGov pada tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 75% wisatawan Indonesia lebih memilih destinasi wisata alam, seperti pegunungan dan kawasan outdoor lainnya.

Selain itu, objek wisata alam juga mendominasi sektor pariwisata dengan proporsi sekitar 34,45% dari total objek wisata komersial di Indonesia pada tahun 2024, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Hal ini menunjukkan bahwa wisata alam, termasuk aktivitas seperti canyoneering, memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Aktivitas ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor pariwisata berbasis alam dapat berkembang sebagai salah satu penggerak ekonomi di Indonesia, terutama ketika dikelola secara berkelanjutan dan didukung oleh meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman wisata yang lebih menantang dan berbasis alam.

Sejumlah tantangan

Namun, di balik potensi tersebut, terdapat tantangan yang tidak dapat diabaikan. Sebagai aktivitas ekstrem, canyoneering memiliki risiko keselamatan yang cukup tinggi apabila tidak dilakukan dengan standar yang memadai. Selain itu, meningkatnya aktivitas wisata juga berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan jika tidak dikelola secara bijak.

Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian alam. Kesadaran dari pelaku wisata maupun wisatawan menjadi kunci agar aktivitas ini dapat terus berkembang tanpa merusak lingkungan yang menjadi daya tarik utamanya.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa peluang ekonomi dapat hadir dari mana saja, bahkan dari hobi yang sederhana. Di tengah dinamika perekonomian Indonesia, anak muda tidak lagi hanya menunggu peluang, tetapi mampu menciptakannya sendiri bahkan dari derasnya air dan tebing yang mereka taklukkan.

Namun, di balik potensi tersebut, terdapat tantangan yang tidak dapat diabaikan. Sebagai aktivitas ekstrem, canyoneering memiliki risiko keselamatan yang tinggi karena dilakukan di medan licin dengan arus air yang deras serta membutuhkan teknik penggunaan tali yang tidak sederhana. Tanpa keterampilan dan standar keamanan yang memadai, risiko kecelakaan seperti terpeleset atau cedera menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

Selain itu, meningkatnya aktivitas wisata alam juga membawa dampak terhadap lingkungan. Di beberapa lokasi wisata, mulai terlihat permasalahan seperti sampah yang tidak terkelola dan kerusakan vegetasi akibat tingginya jumlah pengunjung. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka keindahan alam yang menjadi daya tarik utama justru dapat mengalami penurunan kualitas.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan wisatawan domestik di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata memiliki potensi ekonomi yang besar, namun juga memerlukan pengelolaan yang lebih bijak agar tidak menimbulkan dampak negatif.

Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian alam. Kesadaran dari pelaku wisata maupun wisatawan menjadi kunci agar aktivitas canyoneering dapat terus berkembang tanpa merusak lingkungan yang menjadi sumber utamanya.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa peluang ekonomi dapat hadir dari mana saja, bahkan dari hobi yang sederhana. Di tengah keterbatasan penciptaan lapangan kerja formal seperti saat ini, aktivitas seperti canyoneering dapat menjadi alternatif sumber penghasilan yang berbasis keterampilan dan minat. Namun, keberlanjutan dari peluang tersebut tetap bergantung pada bagaimana aktivitas ini dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.