Konten dari Pengguna

Bukan Karena Anak Bontot, Mungkin Kita Terlalu Suka Memberi Label

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari devira kikara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tentang stereotip anak bontot yang sering dianggap manja, serta perbedaan antara persepsi masyarakat dan kenyataan yang mereka alami. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentang stereotip anak bontot yang sering dianggap manja, serta perbedaan antara persepsi masyarakat dan kenyataan yang mereka alami. (Sumber: Ilustrasi AI)

"Pantesan manja, kan anak bontot."

Kalimat itu mungkin terdengar seperti candaan. Saya pun sudah terlalu sering mendengarnya, bahkan sejak masih kecil. Lucunya, label tersebut kadang datang dari orang yang bahkan belum benar-benar mengenal saya. Seolah-olah, fakta bahwa saya adalah anak terakhir sudah cukup untuk menjelaskan siapa diri saya.

Sebagai anak bontot, saya tidak memungkiri bahwa ada sebagian orang yang memang tumbuh dengan lebih banyak perhatian dari orang tua maupun kakak-kakaknya. Namun, apakah itu berarti semua anak bontot pasti manja? Menurut saya, justru di sinilah masalahnya. Kita terlalu cepat menyimpulkan kepribadian seseorang hanya dari urutan kelahirannya.

Label "anak bontot manja" sudah begitu akrab di telinga masyarakat hingga terdengar seperti sebuah kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Padahal, semakin saya mengamati lingkungan sekitar, semakin saya merasa bahwa realitasnya jauh lebih beragam. Saya mengenal anak sulung yang sangat bergantung pada orang tuanya, anak tengah yang justru paling dimanja, dan sesama anak bontot yang harus belajar mandiri sejak dini karena kondisi keluarga menuntut mereka untuk tumbuh lebih cepat.

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya bertanya, apakah yang selama ini kita yakini benar-benar berasal dari kenyataan, atau hanya karena stereotip itu terus diulang hingga akhirnya dianggap sebagai fakta?

Menurut saya, masyarakat sering kali menyukai cara berpikir yang sederhana. Memberikan label terasa lebih mudah daripada memahami latar belakang seseorang. Ketika melihat anak terakhir yang sesekali bergantung kepada keluarganya, kita buru-buru berkata, "Wajar, dia anak bontot." Sebaliknya, ketika menemukan anak bontot yang mandiri, kita justru menganggapnya sebagai pengecualian. Tanpa sadar, kita hanya memilih contoh-contoh yang memperkuat keyakinan yang sudah lebih dulu kita miliki.

Sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, saya mulai menyadari bahwa label bukan sekadar rangkaian kata. Label memiliki kekuatan membentuk cara orang lain memandang seseorang, bahkan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika seorang anak sejak kecil terus mendengar bahwa dirinya "manja" hanya karena menjadi anak terakhir, bukan tidak mungkin lingkungan akan memperlakukannya sesuai label tersebut. Pada akhirnya, seseorang bisa tumbuh dalam ekspektasi yang diciptakan oleh orang lain, bukan berdasarkan dirinya sendiri.

Pandangan mengenai urutan kelahiran memang pernah diperkenalkan oleh psikolog Alfred Adler. Ia berpendapat bahwa posisi seseorang dalam keluarga dapat memengaruhi perkembangan kepribadiannya. Namun, berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa hubungan antara urutan kelahiran dan kepribadian tidaklah sesederhana itu. Faktor seperti pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, pengalaman hidup, hingga lingkungan sosial memiliki pengaruh yang jauh lebih kompleks daripada sekadar urutan lahir.

Bagi saya, temuan tersebut justru mengingatkan bahwa tidak ada satu teori pun yang mampu menjelaskan manusia secara mutlak. Kepribadian bukan sesuatu yang lahir dari satu faktor tunggal. Ia dibentuk oleh berbagai pengalaman yang berbeda pada setiap individu.

Ironisnya, stereotip seperti "anak bontot manja" sering kali dibungkus sebagai candaan sehingga jarang dianggap bermasalah. Padahal, candaan yang terus diulang dapat berubah menjadi cara pandang yang kita anggap wajar. Kita mulai mengenali seseorang bukan dari bagaimana ia bersikap, melainkan dari label yang lebih dulu kita sematkan kepadanya.

Saya tidak menulis ini untuk membela anak bontot atau membuktikan bahwa semua anak terakhir adalah pribadi yang mandiri. Saya hanya ingin mengajak kita melihat bahwa manusia terlalu kompleks untuk disimpulkan hanya dari urutan kelahirannya. Menurut saya, mengenal seseorang seharusnya dimulai dari siapa dirinya hari ini, bukan dari posisi lahir yang sama sekali tidak pernah ia pilih.

Barangkali, yang perlu kita ubah bukanlah anggapan tentang anak bontot, melainkan kebiasaan kita memberi label kepada orang lain. Sebab, memahami seseorang selalu membutuhkan lebih dari sekadar mengetahui apakah ia anak pertama, anak tengah, atau anak terakhir.