Konten dari Pengguna

Terima Kasih Sudah Bertahan

Devita Prinanda Setiawati

Devita Prinanda Setiawati

Mahasiswi Semester 2 di UNS yang suka makan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devita Prinanda Setiawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hidup memang pilihan, tetapi bertahan adalah sebuah kewajiban. Foto : Koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Hidup memang pilihan, tetapi bertahan adalah sebuah kewajiban. Foto : Koleksi Pribadi

Hai, gimana kabarnya akhir-akhir ini?

Pertanyaan seperti itu, untuk sebagian orang akan dijawab sambil tersenyum, atau juga bersedih. Senyum sebagai penutup luka tepatnya. Ada juga yang menjawabnya sambil menangis.

Ya benar, hanya kalimat tanya sesederhana itu mampu membuat sebagian orang yang sudah lelah dengan hidup dapat menangis tersedu-sedu.

Sebagian ada yang menjawab pertanyaan itu sambil pura-pura. Menjawabnya dengan bilang baik-baik saja, padahal hidupnya sudah berada di fase keputusasan yang luar biasa. Mereka berpikir, diceritakan ataupun tidak, tidak ada orang yang benar-benar peduli dengan mereka.

Sebagian lainnya akan menjawab dengan berterus terang, bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka sudah lelah untuk memendam beban mereka sendiri. Sudah terlalu banyak kekecewaan dan kegagalan dalam hidup mereka yang tidak terbendung lagi.

Kecewa karena nilai yang mereka dapat ternyata tidak sesuai ekspektasi mereka, kecewa karena pasangan yang mereka anggap setia ternyata selingkuh, kecewa karena sahabat yang biasanya bareng terus nemuin tempat nyaman yang lain selain kita.

Atau, kecewa karena rumah yang kita anggap tempat untuk pulang ternyata sudah tidak hangat lagi, gagal untuk masuk di PTN impian, gagal untuk memenangkan lomba yang sudah dipersiapkan dengan matang. Apapun kekecewaan dan kegagalan yang ada pada hidup kalian, terima kasih sudah mau bertahan.

Bertahan di sini tidak hanya bertahan hidup secara fisik, tetapi juga melibatkan ketahanan emosional, mental, dan juga spiritual. Kita hidup di dalam dunia yang terus bergerak dan berubah, dunia yang penuh akan tekanan dan tuntutan yang terus meningkat dan menghakimi. Dalam situasi seperti ini, bertahan menjadi tindakan yang kuat dan penuh dengan keberanian.

Banyak alasan kenapa kita harus terus bertahan. Pertama, dengan bertahan dapat membantu kita untuk terus tumbuh dan berkembang. Setiap kita berhasil melalui kesulitan dan berhasil untuk menaklukkannya, kita dapat menjadi lebih kuat dan bijaksana.

Pengalaman sulit dapat menjadi guru yang tidak mungkin kita peroleh dengan cara lain. Ketika kita melihat ke belakang, perasaan bangga dan puas bahwa kita sudah berhasil menghadapi segala rintangan dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Kedua, dengan tetap bertahan menunjukkan penghargaan terhadap perjuangan dan kerja keras yang telah kita lakukan. Bukan hal yang mudah untuk terus melangkah meskipun dihadapkan pada hambatan dan kegagalan.

Ada fase di mana kita merasa lelah, kehilangan motivasi untuk berkembang, atau bahkan ingin menyerah. Namun, dengan tetap bertahan, itu menunjukkan sebuah keteguhan dan dedikasi yang luar biasa. Patut diucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya.

Ketiga, dengan tetap bertahan kita akan tahu siapa orang-orang yang benar benar tulus memberikan dukungan dan bantuan. Perlu diingat, dalam hidup kita tidak berjalan sendirian.

Ada orang-orang di sekitar kita yang memberikan dukungan, semangat, dan inspirasi. Mereka mungkin teman, keluarga, atau bahkan orang asing yang hadir di saat kita membutuhkan mereka.

Abaikan orang-orang yang menyakitimu, seraplah masukkan masukkan orang lain yang dapat membuatmu untuk berkembang, fokuslah pada orang-orang yang menyayangimu. Dengan tetap bertahan, kita menghargai kehadiran dan dukungan mereka dalam hidup kita.

Keempat, dengan tetap bertahan menjadi bentuk rasa syukur kita terhadap sang pencipta. Degan bertahan, berarti kita menghargai kesempatan hidup yang diberikan Tuhan kepada kita. Kesempatan hidup yang tidak semua orang dapat miliki, kita harus bersyukur tentang itu.

Hidup memang tidak hanya tentang kebahagiaan. Kekecewaan, kegagalan, rasa sedih merupakan fase lain yang terus mengikuti kita selama kita masih hidup di dunia. Terima semua fase itu dalam hidup kita dengan hati yang luas dan penuh dengan rasa syukur.

Menangislah, teriak sekencang-kencangnya kalau itu bisa meringankan sedikit beban kalian. Namun, jangan lupa untuk bangkit, jangan lupa untuk mengingat keberhasilan-keberhasilan yang pernah kita capai selama kita hidup, jangan takut untuk menyusun kembali kegagalan dan kekecewaan dari mimpi-mimpi yang ingin kita capai, jangan takut untuk terus bertahan sejauh apapun itu.

Bertahanlah untuk hal-hal sekecil apapun, seperti untuk menikmati semua rasa minuman dan es krim di kedai Mixue, makan mi instan di jam 2 pagi, menunggu musim hujan di bulan selanjutnya, atau apapun itu, gunakan hal-hal kecil untuk tetap hidup dan bertahan.

Mungkin ke depannya, kekecewaan, kegagalan, dan kesedihan akan terus membersamai. Namun, ingatlah bahwa pelangi akan muncul setelah hujan, seperti halnya kebahagian pasti tetap akan muncul setelah rasa sakit yang kita lalui. Bertahanlah untuk melihat kebahagian apa yang akan menyertaimu di masa depan nanti.

Terakhir, ucapkan terima kasih setulus-tulusnya pada diri kalian sendiri, terima kasih sudah memilih bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih untuk tetap hidup, terima kasih untuk tidak pulang sebelum dijemput. I’am so proud of you, guys!