Konten dari Pengguna

Petani Mekar Sari Kuasai Teknik Pascapanen Kopi Lewat Pendampingan UNSOED

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanim Rahayuani Ratnaningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"UNSOED Hadirkan Inovasi Pascapanen untuk Majukan Pertanian Kopi di Desa Kemawi"

Gambar 1. UNSOED berikan alat pasca panen kopi kepada Kelompok Tani Mekar Sari, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. UNSOED berikan alat pasca panen kopi kepada Kelompok Tani Mekar Sari, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas

Banyumas – Peningkatan kualitas kopi robusta Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, tidak hanya datang dari hadirnya mesin baru, tetapi juga dari keterampilan baru yang kini dikuasai para petani. Melalui program pengabdian masyarakat, tim dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) melatih Kelompok Tani Mekar Sari dalam teknik pascapanen kopi sesuai standar mutu.

Sebelumnya, sebagian besar petani masih melakukan pengolahan kopi secara tradisional, dengan hasil yang belum seragam. Kini, mereka telah dibekali pengetahuan tentang fermentasi, pengeringan, sortasi, hingga penyimpanan biji kopi. Keterampilan ini menjadi bekal penting agar mutu kopi yang dihasilkan semakin konsisten dan layak masuk pasar premium.

Gambar 2. Antusias Petani Kopi Mekarsari Desa Kemawi dalam melakukan kegiatan pelatihan penggunaan mesin pasca penen kopi

“Bukan hanya mesinnya yang membantu, tetapi juga pengetahuan baru tentang cara pascapanen yang benar. Kami jadi lebih percaya diri menjual kopi hasil olahan sendiri,” ungkap salah satu petani Mekar Sari.

Program yang didukung oleh LPPM UNSOED melalui Skim Penerapan Ipteks BLU 2025 ini menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan. Dengan kombinasi antara teknologi sederhana dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, petani Desa Kemawi kini lebih mandiri dalam mengelola hasil panennya.

Pemerintah desa menilai keberhasilan program ini menjadi langkah awal menuju pengembangan kopi robusta sebagai komoditas unggulan. Ke depan, mereka berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan agar semakin banyak petani menguasai keterampilan pascapanen.