Menjaga Niat, Memimpin Solusi dari Garis Depan Pandemi

ASN, Public Health, Kebijakan & Transformasi Pelayanan Kesehatan, senang menulis tentang data, kebijakan, dan inovasi pemerintahan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari dr I Dewa Gede Dony Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah ini berawal pada 19 Maret 2020, ketika Wali Kota Balikpapan mengumumkan kasus pertama COVID-19 yang diberi label 'BPN 01', kemudian hingga 31 Maret 2020 sudah terkonfirmasi 12 kasus positif. Peningkatan yang signifikan sehingga Wali Kota mengeluarkan Surat Edaran penutupan sejumlah ruas jalan protokol dalam dua sif untuk membatasi mobilitas masyarakat. Jalan-jalan menjadi lengang, banyak petugas berjaga di persimpangan seperti gambaran film 'Contagion' di mana suatu kota dikarantina karena terjadi wabah. Sambil berjalan di tengah kesunyian menuju kantor, saya merenung berujar dalam hati, "Astaga separah inikah kondisinya?" Biasa hanya lihat di televisi, tapi sekarang mengalaminya sendiri membuat perasaan bercampur aduk antara bingung, takut dan sedih.
Prinsip dasar penanganan penyakit menular adalah isolasi dan contact tracing. Karena Balikpapan merupakan pintu gerbang provinsi Kalimantan Timur dengan beberapa proyek strategis nasional yang sedang berjalan, ada rasa khawatir kalau nanti kasus bertambah banyak, siapa yang melakukan swab terhadap kontak erat? Selama ini swab hanya dilakukan oleh petugas di rumah sakit rujukan. Saya kemudian terpikir untuk membentuk tim swab tingkat kota, beranggotakan orang-orang yang bergabung karena panggilan hati.
Krisis tidak bisa dihadapi sendirian. Mengedepankan semangat kolaboratif, saya berkoordinasi dengan rekan dokter di rumah sakit rujukan untuk fasilitasi pelatihan, serta menggandeng organisasi profesi tenaga laboratorium untuk menyiapkan anggotanya yang kompeten dan terstandar. Saya ingat kata-kata yang saya sampaikan saat itu: "saat ini kita dihadapkan pada dua pilihan, bersembunyi dan menunggu virus itu datang menghampiri kita, atau turun berjibaku melawan virus ini". Pada 18 Juni 2020, pelatihan dimulai secara daring, diikuti 12 petugas gabungan puskesmas dan rumah sakit yang berdedikasi, dilanjutkan praktik magang 2 minggu di rumah sakit rujukan. Jujur saya terharu dengan komitmen mereka, meski ada rasa khawatir kalau-kalau petugas ini yang justru terkonfirmasi akibat menjalankan tugasnya. Satu hal yang saya yakini saat itu, kalau niat kita baik Tuhan pasti akan menjaga dan melindungi.
Pasca pelatihan, tugas besar sudah menanti tim, yakni melakukan swab kontak erat dari klaster pasar induk terbesar di kota Balikpapan. Bisa dibayangkan rasanya mengenakan baju hazmat pada kondisi panas terik, melakukan swab langsung di tengah pasar terhadap seluruh pedagang. Selanjutnya tim swab ini bertugas bergantian setiap hari di kantor Dinas Kesehatan melakukan swab terhadap seluruh kontak erat, dengan memaksimalkan segala fasilitas yang tersedia. Seiring kasus yang terus bertambah, petugas yang ada dirasa tidak akan cukup. Kami lanjutkan untuk melatih petugas medis di seluruh puskesmas secara massal, tidak hanya petugas laboratorium saja tapi juga dokter umum, perawat, hingga bidan. Upaya ini menempatkan Balikpapan berada di peringkat ke-2 nasional untuk Testing Rate Mingguan (Laporan Evaluasi Mingguan Satgas Penanganan COVID-19 Nasional per periode September–Oktober 2020) dan membawa penghargaan Terbaik Tingkat Nasional kategori Pelaksanaan Tes, Lacak, dan Isolasi (TLI) dari Kemenkes Tahun 2021 serta penghargaan pribadi dari Wali Kota Balikpapan.
Suka duka tidak berhenti sampai di situ. Nomor saya ditetapkan menjadi hotline konsultasi masyarakat. Jujur, awalnya ini menjadi beban pribadi, ratusan chat masuk setiap hari, dan saya sempat 'terintimidasi' karena merasa tidak mampu menjawab semua pertanyaan masyarakat. Keterbatasan kapasitas ini mengakibatkan membuka ponsel merupakan hal yang menyeramkan saat itu. Titik balik hadir saat saya merenungkan petuah sederhana, "Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan." Saya mulai menyusuri pesan demi pesan yang masuk dari warga yang kebingungan, membalas dan menjawab satu per satu dengan tenang. Ternyata walaupun jawaban saya belum dapat menyelesaikan semua masalah saat itu tetapi mereka bisa menerimanya. Di tengah kondisi krisis, yang dibutuhkan oleh masyarakat dari petugas publik adalah responsivitas, empati, dan kehadiran nyata aparaturnya saat mereka kebingungan."
Ketika gelombang varian Delta menerjang, batas uraian tugas formal seakan luntur. Tuntutan untuk adaptif membawa kami mengambil peran di luar zona nyaman, yaitu terjun langsung mengoordinasikan pemulasaran jenazah pasien isolasi mandiri terutama yang meninggal di rumah hingga pengantaran ke pemakaman khusus COVID-19. Pernah di suatu malam dengan kondisi masih terdapat 3 lokasi yang masih harus dikunjungi, kami meminta izin keluarga untuk membawa ketiga peti jenazah tersebut dalam kondisi bertumpuk di satu mobil agar pengantaran lebih efisien.
Di tengah semua tugas berat itu, ada satu hal yang terus saya syukuri, tidak terhitung berapa puluh kali saya menjalani swab baik karena aktif turun ke lapangan maupun berstatus kontak erat, tapi hasilnya selalu negatif. Saya baru tertular justru setelah gelombang kasus positif mereda. Bagi saya, ini bukti nyata dari apa yang saya yakini sejak awal kalau niat kita baik, Tuhan akan selalu menjaga dan melindungi.
Setelah melewati semua itu, tidak ada rasa menyesal sedikit pun telah berjibaku di tengah cibiran dan tuduhan tidak berdasar terhadap petugas yang berjuang. Pandemi mengajarkan bahwa integritas dan kesiapan ASN tidak diuji di atas meja kerja yang nyaman, melainkan saat sistem lumpuh dan masyarakat hanya memiliki kita untuk bersandar.
