Teori Malthus dan Persoalan Pertumbuhan Penduduk di Masa Kini

Mahasiswa Unpam 2026
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dewi Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada akhir abad ke-18, Thomas Robert Malthus melontarkan peringatan yang mengguncang zamannya. Dalam An Essay on the Principle of Population (1798), ia berpendapat bahwa jumlah penduduk bertambah menurut deret ukur, sedangkan produksi pangan hanya meningkat menurut deret hitung. Akibatnya, manusia akan menghadapi kelaparan, wabah, dan peperangan sebagai pengendali alami populasi.

Pertumbuhan Penduduk di Masa Kini
Pada akhir abad ke-18, Thomas Robert Malthus melontarkan peringatan yang mengguncang zamannya. Dalam An Essay on the Principle of Population (1798), ia berpendapat bahwa jumlah penduduk bertambah menurut deret ukur, sedangkan produksi pangan hanya meningkat menurut deret hitung. Akibatnya, manusia akan menghadapi kelaparan, wabah, dan peperangan sebagai pengendali alami populasi.
Ramalan yang Meleset, tetapi Tidak Sepenuhnya Keliru
Sejarah menunjukkan bahwa Malthus keliru dalam hal waktu dan skala. Revolusi Industri, Revolusi Hijau, serta kemajuan bioteknologi membuat produksi pangan melesat jauh melampaui perkiraannya. Penduduk dunia kini melewati delapan miliar jiwa, tetapi sebagian besar umat manusia tidak mengalami kelaparan massal sebagaimana ia bayangkan.
Belajar dari Malthus tanpa Terjebak Pesimisme
Pelajaran terpenting dari Malthus bukanlah ketakutan, melainkan kewaspadaan. Pertumbuhan penduduk harus selalu diimbangi dengan perencanaan, baik dalam penyediaan pangan, energi, maupun ruang hidup. Pemerintah perlu memperkuat program keluarga berencana yang sukarela dan berbasis edukasi, memperluas akses pendidikan, serta mendorong pertanian yang berkelanjutan. Masyarakat pun memiliki peran, mulai dari merencanakan keluarga secara bertanggung jawab hingga mengurangi pemborosan pangan.
