Konten dari Pengguna

Potret Pengeluaran Rokok dalam Anggaran Rumah Tangga di Jawa Tengah

dewi lestari

dewi lestari

Mahasiswi Politeknik Bhakti Semesta - Bisnis Digital

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari dewi lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka asap yang dulunya hanya mengepul di ruang-ruang para priyayi, kini bisa mudah ditemukan di setiap sudut. Dari sudut kampung hingga pusat kota, rokok mudah ditemui di tangan siapa saja. Tak heran jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang. Melalui survei GSTHR (Global State of Tobacco Harm Reduction) jumlah perokok absolut di Indonesia meningkat dari 64,5 juta pada tahun 2020 menjadi sekitar 74,8 juta pada tahun 2022. Selain dalam statistik kesehatan, kenaikan jumlah perokok aktif juga mempengaruhi pola pengeluaran masyarakat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, tercatat bahwa pengeluaran per kapita untuk rokok dan tembakau dalam satu minggu berada pada rentang yang cukup tinggi. Pengeluaran minimum mencapai Rp.13.492, sementara pengeluaran maksimum bisa tembus hingga Rp.24.406 per orang per minggu. Angka ini menunjukkan bahwa dalam satu minggu seseorang bisa menghabiskan uang untuk membeli rokok setara bahkan lebih dari kebutuhan lainnya. Jika dikalikan sebulan, pengeluaran rokok untuk satu orang bisa mencapai lebih dari Rp.90.000 hingga Rp.130.000 per orang. Pengeluaran sebesar itu tentu berdampak pada alokasi dana untuk kebutuhan lain, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Diagram batang rata-rata pengeluaran menurut kelompok rokok dan tembakau (/rupiah/kapita/minggu): BPS 2024
zoom-in-whitePerbesar
Diagram batang rata-rata pengeluaran menurut kelompok rokok dan tembakau (/rupiah/kapita/minggu): BPS 2024

Jika dipersempit ke wilayah Jawa Tengah, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa pengeluaran perkapita untuk rokok dan tembakau dalam satu minggu tetap berada pada tingkat yang signifikan. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang dicatat, pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau Rembang menempati posisi tertinggi, sementara Temanggung berada di posisi terendah.

Pie chart jenis rokok dan tembakau yang dikonsumsi di Rembang tahun 2024: data dari BPS 2024

Berdasarkan data pengeluaran per kapita per minggu untuk rokok dan tembakau di daerah dengan pengeluaran tertinggi, terlihat bahwa rokok kretek filter menjadi jenis rokok yang paling dominan dalam pengeluaran masyarakat. Di daerah Rembang terlihat rokok kretek filter mendominasi pengeluaran rata-rata mencapai Rp.22.471 per kapita per minggu atau sekitar 76% dari total pengeluaran rokok dan tembakau. Posisi berikutnya adalah rokok kretek tanpa filter dengan rata-rata Rp.1.147 (sekitar 4,69%), diikuti oleh rokok putih yaitu Rp.401 (sekitar 1,64%). Sementara itu, tembakau lintingan menyumbang Rp.246 (sekitar 1%), dan produk rokok lainnya berada di posisi paling kecil dengan rata-rata Rp.142 (sekitar 0,58%).

Pie chart jenis rokok dan tembakau yang dikonsumsi di Temanggung tahun 2024: data dari BPS 2024

Rata-rata pengeluaran per kapita per minggu untuk rokok di daerah Temanggung mencapai Rp.13.492. Dari jumlah tersebut Temanggung merupakan daerah dengan pengeluaran per kapita per minggu yang tergolong kecil. Dari jumlah tersebut pengeluaran dari rokok kretek filter sebesar Rp.6.931 (sekitar 51,3%), diikuti oleh tembakau lintingan sebesar Rp.3.770 (sekitar 27.9%). Sementara itu rokok kretek tanpa filter hanya menyumbang Rp.834 (sekitar 6,1%), rokok putih sebesar Rp.114 (sekitar 0,8%), dan rokok serta tembakau lainnya sebesar Rp.1.844 (sekitar 13,6%).

Di daerah dengan pengeluaran tinggi untuk rokok dan tembakau seperti Rembang, rokok sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya yang terjadi di Temanggung, pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau justru lebih rendah. Hal ini bisa terjadi karena Temanggung terkenal sebagai salah satu sentra tembakau, dimana masyarakat terbiasa untuk mengkonsumsi tembakau lintingan sendiri. Data ini memperlihatkan bahwa pola konsumsi rokok dan tembakau di Jawa Tengah tidak hanya dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, tetapi juga oleh ketersediaan produk lokal.

Fenomena tingginya pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau menunjukkan bahwa konsumsi rokok bukan hanya menjadi sebuah kebiasaan, melainkan sudah menjadi bagian dari pola hidup masyarakat. Data ini sekaligus menjadi pengingat bahwa meskipun rokok memberikan dampak ekonomi terhadap industri tembakau, disisi lain juga berpotensi mengurangi alokasi pengeluaran untuk kebutuhan yang lebih esensial, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.