Ketika Makanan Menjadi Bahasa Terakhir dalam Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang yang gemar menulis, membaca puisi, dan mengeksplorasi cerita dari berbagai budaya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dewi Mayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna menghadirkan pengalaman membaca yang tenang sekaligus reflektif, dengan mengandalkan kesederhanaan bahasa dan kedekatan budaya keseharian. Novel ini tidak menawarkan konflik besar atau alur dramatis yang mengejutkan, tetapi justru mengajak pembaca berhenti sejenak dan memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Di tangan penulisnya, seporsi mie ayam bukan sekadar makanan, melainkan ruang perenungan tentang hidup, keterikatan, dan batas terakhir manusia.
Yang paling mengesankan dari novel ini adalah keberaniannya merawat kesederhanaan. Alih-alih membungkus tema kematian dengan simbol yang berat, novel ini memilih bahasa yang bersahaja dan situasi yang akrab. Pendekatan ini membuat pengalaman membaca terasa intim. Sebagai pembaca, saya tidak merasa digurui, tetapi diajak duduk bersama tokoh, menyaksikan pikirannya berjalan perlahan menuju akhir.
Penggunaan makanan sebagai pusat narasi merupakan pilihan estetik yang patut diapresiasi. Mie ayam, sebagai bagian dari budaya keseharian, menjadi medium yang sangat dekat dengan pembaca Indonesia. Melalui makanan, novel ini berbicara tentang ingatan, kenyamanan, dan keinginan untuk tetap merasa hidup, meskipun waktu terasa semakin sempit. Bagi saya, di sinilah kekuatan sastra novel ini bekerja secara halus.
Secara bahasa, novel ini menunjukkan kecermatan dalam memilih kata. Kalimat-kalimatnya tidak berusaha memancing emosi secara berlebihan, tetapi justru memberi ruang bagi pembaca untuk mengisi makna sendiri. Keheningan, jeda, dan detail kecil menjadi elemen penting yang membangun suasana reflektif. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu harus keras untuk menjadi bermakna.
Sebagai karya sastra Indonesia, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati layak diapresiasi karena berhasil mengangkat tema eksistensial melalui pengalaman yang sangat manusiawi dan membumi. Novel ini mengingatkan bahwa sastra dapat berbicara tentang kematian tanpa kehilangan kelembutan, dan tentang kehidupan tanpa harus berteriak. Bagi saya, inilah kekuatan utama novel ini: kesederhanaan yang jujur dan berkesan.
Terima Kasih.
