Konten dari Pengguna

Menang, Tapi Tidak Pernah Bebas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewi Mayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Pribadi Penulis

Dalam banyak cerita, kemenangan biasanya menjadi akhir yang membahagiakan. Tokoh utama berhasil melewati kesulitan, mengalahkan lawan, lalu mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, gambaran seperti itu tidak berlaku dalam Sunrise on the Reaping karya Suzanne Collins. Melalui kisah Haymitch Abernathy, novel ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu berarti kebebasan. Dalam dunia Panem, seseorang dapat memenangkan Hunger Games, tetapi tetap kehilangan hampir semua hal yang membuat hidupnya berarti.

Haymitch memang berhasil bertahan hidup di arena. Ia menjadi pemenang dari District 12 dan mendapatkan rumah di Victor’s Village. Dari luar, kehidupannya terlihat lebih baik dibandingkan kehidupan masyarakat biasa yang masih harus menghadapi kemiskinan dan tekanan Capitol. Namun, kemenangan tersebut tidak benar-benar memberikan kebahagiaan. Rumah yang seharusnya menjadi hadiah justru terasa seperti tempat hukuman. Haymitch menggambarkan rumah itu dengan kalimat, “staring at my prison.”

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kemenangan Haymitch tidak memberinya kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri. Ia tetap berada di bawah pengawasan Capitol. Ia harus mengikuti acara kemenangan, tampil di depan publik, dan menjalankan peran yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Rumah, makanan, dan fasilitas yang diberikan kepadanya tidak dapat menggantikan kebebasan yang telah dirampas. Dengan kata lain, Capitol tidak benar-benar memberikan hadiah kepada Haymitch. Capitol hanya membuat penjaranya terlihat lebih nyaman.

Hal yang lebih menyakitkan adalah hilangnya orang-orang yang ia cintai. Setelah Hunger Games berakhir, Haymitch tidak kembali sebagai seseorang yang utuh. Ia kehilangan teman, keluarga, dan masa depan yang sebelumnya ia bayangkan. Karena itu, ketika Plutarch bertanya tentang keadaannya, Haymitch menjawab, “I have nothing to live for.”

Kalimat tersebut terasa kuat karena Haymitch tidak mengatakannya dengan rasa kasihan terhadap dirinya sendiri. Ia hanya menyampaikan keadaan yang menurutnya nyata. Ia masih hidup, tetapi tidak lagi memiliki alasan yang jelas untuk menjalani hidup. Di sinilah novel memperlihatkan sisi kemenangan yang jarang dibicarakan. Masyarakat mungkin hanya melihat siapa yang berhasil keluar dari arena, tetapi tidak selalu melihat apa yang harus dikorbankan oleh pemenang untuk bertahan hidup.

Selain kehilangan orang-orang terdekat, Haymitch juga menyadari bahwa kematian para tribute telah digunakan sebagai alat propaganda. Capitol mengubah penderitaan anak-anak menjadi tontonan yang dapat dikendalikan dan dijual kepada masyarakat. Haymitch menentang cara Plutarch mengemas kematian tersebut ketika ia berkata, “Forty-nine kids died for it.”

Kutipan ini memperlihatkan bahwa bagi Haymitch, kemenangan bukanlah sebuah pertunjukan yang pantas dirayakan. Di balik kemenangan itu terdapat 49 anak yang mati. Namun, Capitol justru membuat kematian mereka terlihat seperti bagian dari acara besar. Para penonton diarahkan untuk memperhatikan pakaian, penampilan, peluang kemenangan, dan kisah yang dibentuk oleh media. Kehidupan manusia berubah menjadi hiburan, sedangkan kematian mereka menjadi bagian dari narasi yang menguntungkan pemerintah.

Karena itu, Haymitch ingin mengingatkan penonton bahwa para tribute bukanlah binatang atau benda yang dapat dipertontonkan. Ia mengatakan, “I guess, for starters, by reminding the audience that we’re human beings.”

Menurut saya, kalimat ini menjadi salah satu inti penting dalam novel. Capitol tidak hanya membunuh para tribute secara fisik, tetapi juga berusaha menghilangkan kemanusiaan mereka. Para tribute disebut dengan berbagai istilah yang merendahkan, dinilai berdasarkan kemampuan bertarung, dan diperlakukan seperti peserta dalam sebuah permainan. Dengan cara itu, masyarakat Capitol dapat menyaksikan kematian mereka tanpa merasa bersalah.

Namun, Haymitch melihat bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada arena. Masalah yang lebih besar adalah sistem yang membuat kematian tersebut terlihat wajar. Capitol menciptakan aturan, mengatur pertunjukan, dan menentukan bagaimana masyarakat harus memandang Hunger Games. Bahkan setelah Haymitch menang, ia tetap dipaksa menjadi bagian dari sistem tersebut.

Nasib Haymitch menjadi semakin tragis karena ia tidak pernah benar-benar selesai dengan Hunger Games. Setiap tahun, ia harus menerima dua tribute baru dari District 12 dan membimbing mereka menuju arena. Ia mengetahui bahwa tugasnya bukan hanya membantu mereka bertahan hidup, tetapi juga menyaksikan mereka mati. Haymitch menyadari bahwa masa depannya akan selalu berhubungan dengan kematian anak-anak lain. Ia mengatakan bahwa setiap tahun ia akan mendapatkan “a new pair of tributes, one girl and one boy, to mentor to their deaths.”

Di bagian ini, kemenangan Haymitch terlihat seperti hukuman yang tidak pernah berakhir. Ia tidak hanya harus hidup dengan trauma masa lalunya, tetapi juga dipaksa mengulang pengalaman tersebut setiap tahun. Ia harus mengenal anak-anak baru, membangun harapan, lalu melihat mereka dikirim ke arena. Capitol menjadikan pengalaman traumatis Haymitch sebagai pekerjaan tetap. Ia tidak diberi kesempatan untuk benar-benar pulih.

Hal tersebut membuat saya melihat Haymitch bukan hanya sebagai pemenang Hunger Games, tetapi juga sebagai korban yang terus dipaksa melayani sistem yang telah menghancurkan hidupnya. Ia memang berhasil keluar dari arena, tetapi ia tidak pernah berhasil keluar dari pengaruh Capitol. Bahkan ketika ia berada di rumahnya sendiri, ia masih berada dalam bayang-bayang Hunger Games.

Menariknya, pembacaan terhadap kisah Haymitch ini akan mendapatkan bentuk baru ketika Sunrise on the Reaping diadaptasi menjadi film. Film The Hunger Games: Sunrise on the Reaping dijadwalkan tayang di bioskop pada 20 November 2026. Bagi saya, adaptasi ini menarik bukan hanya karena membawa kembali dunia Panem ke layar lebar, tetapi juga karena kisah Haymitch memiliki sisi emosional yang berbeda dari cerita Hunger Games sebelumnya. Jika novel membuat pembaca melihat kemenangan dari sudut pandang seseorang yang kehilangan segalanya, film nantinya memiliki kesempatan untuk memperlihatkan secara visual bagaimana kemenangan tersebut justru menjadi awal dari penderitaan Haymitch.

Sunrise on the Reaping akhirnya memperlihatkan bahwa bertahan hidup tidak selalu sama dengan menang. Haymitch berhasil hidup ketika tribute lain harus mati, tetapi hidupnya dipenuhi kehilangan, rasa bersalah, dan kewajiban yang tidak dapat ia hindari. Kemenangan yang seharusnya menjadi simbol keberhasilan justru berubah menjadi bentuk penjara baru.

Melalui Haymitch, Suzanne Collins mengajak pembaca untuk melihat kemenangan dari sisi yang berbeda. Kita tidak hanya perlu bertanya siapa yang menang, tetapi juga apa yang hilang dari seseorang setelah ia menang. Dalam kasus Haymitch, jawabannya adalah keluarga, teman, kebebasan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan normal.

Sebab, terkadang, bertahan hidup bukan berarti benar-benar menang. Kadang-kadang, bertahan hidup berarti harus menjalani hidup dengan semua hal yang tidak berhasil diselamatkan.