Konten dari Pengguna

Platina Data dan Ketakutan Ketika Teknologi Terlalu Tahu Tentang Kita

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewi Mayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Pribadi Penulis

Kalian pasti tidak asing dengan nama Keigo Higashino, terutama bagi para pembaca yang menyukai novel misteri. Namanya dikenal melalui berbagai karya seperti Malice, Keajaiban Toko Kelontong Namiya, The Devotion of Suspect X, dan masih banyak karya lainnya. Novel-novelnya tidak hanya mengajak pembaca menebak siapa pelaku di balik sebuah kasus, tetapi juga sering membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam tentang manusia, pilihan, dan kehidupan.

Karena itu, kabar kepergian Keigo Higashino pada 23 Juli 2026 menjadi berita yang cukup menyedihkan bagi para pembacanya. Ia meninggal dunia pada usia 68 tahun. Sebagai pembaca, tentu ada perasaan kehilangan ketika mengetahui bahwa sosok yang selama ini menghadirkan begitu banyak cerita akhirnya tidak lagi dapat menulis cerita baru. Namun, mungkin salah satu cara untuk mengenang seorang penulis adalah dengan kembali membaca karya-karyanya dan melihat apakah cerita yang ia tinggalkan masih memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada kita.

Salah satu karya yang membuat saya berpikir demikian adalah Platina Data.

Ketika membaca novel ini sekarang, saya justru merasa bahwa Platina Data bukan hanya cerita misteri tentang DNA dan penyelidikan kriminal. Novel ini terasa seperti sebuah pertanyaan tentang masa depan teknologi yang perlahan mulai mendekati kehidupan kita sendiri. Apa yang dulu mungkin terasa seperti teknologi yang terlalu jauh untuk terjadi, sekarang tidak lagi terdengar sepenuhnya asing.

Dalam Platina Data, DNA bukan hanya digunakan untuk mengetahui identitas seseorang. Informasi tersebut dikumpulkan, dianalisis, dan dimasukkan ke dalam sistem yang dapat membantu kepolisian menemukan pelaku kejahatan. Bahkan, novel ini menggambarkan bagaimana pemerintah berusaha mengembangkan basis data DNA dengan alasan meningkatkan keamanan dan efektivitas penyelidikan.

Di satu sisi, saya bisa memahami mengapa teknologi seperti itu dianggap menguntungkan. Jika DNA seseorang dapat membantu menemukan pelaku kejahatan, bukankah itu berarti masyarakat menjadi lebih aman? Dalam novel pun penggunaan sistem DNA digambarkan mampu membantu penyelidik mempersempit tersangka dengan lebih cepat.

Namun, justru di sinilah saya mulai merasa tidak nyaman.

Seberapa jauh kita bersedia memberikan informasi tentang diri kita demi keamanan?

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan jika Platina Data dibaca dari sudut pandang teknologi zaman sekarang. Kita memang belum hidup sepenuhnya dalam dunia seperti yang digambarkan novel ini, tetapi kita sudah terbiasa memberikan data pribadi kepada berbagai teknologi. Wajah dapat dikenali oleh kamera, sidik jari digunakan untuk mengakses perangkat, lokasi dapat diketahui melalui ponsel, dan aktivitas di internet dapat meninggalkan jejak digital.

Sekarang, kecerdasan buatan juga semakin mampu mempelajari pola manusia dari data yang tersedia. Kita mungkin merasa hanya sedang menggunakan sebuah aplikasi, tetapi di baliknya ada begitu banyak informasi yang dapat dikumpulkan dan dianalisis.

Hal inilah yang menurut saya membuat Platina Data terasa lebih menyeramkan ketika dibaca sekarang. Bukan karena teknologinya terlihat mustahil, tetapi karena beberapa gagasannya terasa semakin dekat dengan kenyataan.

Dalam novel, masyarakat bahkan mempertanyakan kemungkinan kebocoran informasi dan pelanggaran privasi ketika data DNA dikelola oleh negara. Kekhawatiran tersebut tidak dianggap sepele karena informasi genetika merupakan sesuatu yang sangat pribadi. Bahkan ketika pemerintah menjamin bahwa data akan dikelola dengan ketat, tetap ada rasa takut bahwa informasi tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk sesuatu di luar tujuan awalnya.

Menurut saya, inilah bagian paling menarik dari Platina Data. Novel ini tidak sekadar bertanya apakah teknologi dapat membantu manusia. Novel ini justru membuat kita bertanya apakah manusia mampu mengendalikan teknologi yang semakin mengetahui tentang dirinya.

Sebab, semakin banyak data yang dimiliki sebuah sistem, semakin besar pula kemampuannya untuk mengenali seseorang. Dalam novel, bahkan ada gagasan bahwa data DNA dapat diperluas hingga mencakup seluruh warga negara. Sistem tersebut digambarkan begitu canggih sampai muncul keyakinan bahwa DNA tidak dapat berbohong dan teknologi dapat digunakan untuk mengungkap identitas seseorang.

Tetapi manusia tidak sesederhana data.

Seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan DNA, wajah, lokasi, atau rekam digitalnya. Data mungkin dapat menunjukkan banyak hal tentang seseorang, tetapi data tidak selalu mampu menjelaskan alasan di balik tindakan manusia. Teknologi mungkin dapat menemukan pola, tetapi belum tentu memahami manusia secara keseluruhan.

Itulah yang membuat saya melihat Platina Data bukan hanya sebagai novel tentang kriminalitas, tetapi sebagai novel tentang batas. Batas antara keamanan dan privasi. Batas antara kemajuan dan pengawasan. Dan yang paling penting, batas antara apa yang boleh diketahui oleh teknologi dan apa yang seharusnya tetap menjadi milik pribadi manusia.

Mungkin karena itulah membaca Platina Data setelah kepergian Keigo Higashino terasa sedikit berbeda. Ada kesedihan karena penulisnya telah pergi, tetapi ada juga rasa kagum karena pertanyaan yang ia tinggalkan masih terasa relevan. Dunia teknologi terus berkembang, sementara pertanyaan tentang bagaimana manusia seharusnya menggunakan teknologi belum pernah benar-benar selesai.

Selamat jalan, Keigo Higashino Sensei.

Terima kasih untuk cerita-cerita yang tidak hanya membuat pembaca penasaran dengan siapa pelakunya, tetapi juga membuat kami berhenti sejenak dan bertanya tentang dunia yang sedang kami tinggali. Platina Data mungkin merupakan sebuah novel, tetapi ketika teknologi semakin mampu membaca, menyimpan, dan memprediksi kehidupan manusia, rasanya beberapa pertanyaan di dalamnya bukan lagi sekadar fiksi.

Mungkin pada akhirnya, hal yang paling menakutkan dari teknologi bukanlah ketika teknologi mengetahui terlalu sedikit tentang kita, melainkan ketika ia mulai mengetahui terlalu banyak.