Konten dari Pengguna

Second Sister dan Kegagalan Bahasa Menghadapi Trauma

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewi Mayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi pribadi penulis

Second Sister karya Chan Ho-Kei mengisahkan pencarian kebenaran atas kematian seorang remaja perempuan. Namun di balik struktur cerita yang menyerupai novel investigatif, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: kegagalan bahasa dalam menghadapi trauma.

Dalam novel ini, tragedi tidak hanya terjadi karena tindakan tertentu, tetapi juga karena ketidakmampuan lingkungan sekitar untuk berbicara secara jujur dan empatik tentang penderitaan. Luka psikologis tokoh adik tidak hadir sebagai jeritan yang jelas, melainkan sebagai isyarat samar yang tidak pernah benar-benar diterjemahkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Pencarian sang kakak menjadi proses membaca ulang bahasa yang selama ini diabaikan. Ia menelusuri pesan singkat, unggahan media sosial, dan potongan percakapan yang dahulu tampak biasa. Bahasa yang sebelumnya dianggap remeh justru menyimpan beban emosional yang berat. Novel ini memperlihatkan bahwa trauma sering kali tidak hadir dalam bentuk kata yang eksplisit, melainkan dalam diam, pengulangan, dan penghapusan diri secara perlahan.

Chan Ho-Kei menempatkan komunikasi sebagai medan yang rapuh. Bahasa digital yang singkat dan terfragmentasi gagal menampung kompleksitas emosi remaja yang sedang berjuang memahami dirinya sendiri. Dalam konteks ini, teknologi bukan penyebab utama, melainkan ruang yang memperlihatkan keterbatasan bahasa manusia dalam merespons penderitaan.

Melalui pendekatan yang tenang dan sistematis, Second Sister mengajak pembaca merefleksikan bagaimana masyarakat sering kali baru mencari makna setelah tragedi terjadi. Novel ini menegaskan bahwa memahami trauma bukan sekadar menemukan fakta, tetapi juga belajar mendengarkan bahasa yang tidak pernah sempat diucapkan secara utuh.

Terima kasih.