Why Are We Afraid of Getting Old?

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang yang gemar menulis, membaca puisi, dan mengeksplorasi cerita dari berbagai budaya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dewi Mayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“She was glad that she had decided on her fur.”
— Katherine Mansfield, Miss Brill (1920)
Miss Brill was proud of her fur coat. She went to the park every Sunday, sat on her usual bench, and quietly watched life unfold. For her, it was enough to feel seen, to feel present.
But that feeling shattered when two young people laughed and called her a “silly old thing.” She went home and placed the fur back in its box — along with her sense of self.
And the truth is, many of us are just like those young people. We’re not only ignoring the elderly. We’re avoiding what they represent: aging itself.
In a culture that glorifies youth, energy, and productivity, old age is treated like a weakness. We chase skincare routines, anti-aging supplements, “30 under 30” lists — all while quietly pushing the elderly to the margins.
Elderly people aren’t just overlooked. They’re made invisible. And that’s because deep down, we’re afraid we’ll become them.
According to the World Health Organization (2021), one in four older adults suffers from social isolation — with effects as damaging as smoking or obesity.
That’s not a sign of aging. It’s a reflection of how we treat age.
We fear becoming the old person sitting alone at the park. But today, we walk past that person without even saying hello. We’re afraid of becoming invisible — yet we’re the ones making others disappear.
Miss Brill wasn’t sad because she was old. She was sad because the world treated her as if her story had ended. To grow old is not to fade — it’s to evolve. If we want to age with dignity, we have to start by respecting those who already have.
Thank you.
-----------------------------------------------------------------------------------
Kenapa Kita Takut Menjadi Tua?
“She was glad that she had decided on her fur.”
— Katherine Mansfield, Miss Brill (1920)
Miss Brill bangga dengan mantel bulunya. Setiap Minggu ia pergi ke taman, duduk di bangku yang sama, dan diam-diam menikmati hidup yang berjalan di sekelilingnya. Itu cukup untuk membuatnya merasa ada.
Sampai suatu hari, dua anak muda mengejeknya: “Makhluk tua yang menyedihkan.” Miss Brill pulang, menyimpan mantel bulunya ke dalam kotak — bersama rasa percaya dirinya.
Dan kenyataannya, kita sering jadi seperti anak muda itu. Bukan hanya mengabaikan lansia, tapi juga menjauh dari kenyataan bahwa suatu hari kita akan menjadi tua.
Kita hidup di masyarakat yang mengagungkan masa muda. Tren, media sosial, iklan — semuanya tentang menjadi awet muda, produktif, aktif.
Lansia justru sering disingkirkan dari percakapan, acara, bahkan ruang publik. Karena diam-diam, kita takut menjadi seperti mereka.
Menurut WHO (2021), satu dari empat lansia mengalami isolasi sosial, dengan dampak kesehatan setara merokok atau obesitas.
Ini bukan soal usia. Ini soal cara kita memperlakukan mereka.
Kita takut suatu hari duduk sendiri di taman tanpa ada yang menyapa. Tapi hari ini, kita justru jadi orang yang berjalan melewati mereka tanpa melihat. Kita takut menjadi tak terlihat, tapi justru ikut membuat orang lain menghilang.
Miss Brill tidak sedih karena ia tua. Ia sedih karena dunia memperlakukannya seolah hidupnya sudah selesai.
Menjadi tua bukan akhir. Itu bagian dari proses menjadi manusia seutuhnya. Kalau kita ingin masa tua yang bermartabat, mulailah dari sekarang — dengan menghormati mereka yang lebih dulu tiba di sana.
Terima kasih.
