Konten dari Pengguna

“Yeah” dan “Okay”: Bukan Sekadar Jawaban Singkat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewi Paulina Silalahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana mahasiswa menjawab pertanyaan dosen di kelas bahasa Inggris?

“Do you agree?”

“Yeah.”

“Do you understand?”

“Okay.”

“What do you think?”

Yeah… maybe.”

Source: AI-generated illustration
zoom-in-whitePerbesar
Source: AI-generated illustration

Jawaban seperti “yes”, “okay”, “yeah”, “right”, atau “I see” memang terdengar sederhana. Karena itu, respons singkat sering

kali dianggap sebagai tanda bahwa mahasiswa belum mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik.

Tapi, benarkah kalimatnya sesederhana itu?

Belum tentu.

Dalam percakapan, satu kata tidak selalu hanya memiliki satu fungsi. Respons seperti “yeah” bisa menunjukkan persetujuan, perhatian, atau bahwa seseorang masih mengikuti pembicaraan. “Okay” dapat menunjukkan pemahaman atau penerimaan terhadap instruksi. Sementara “Really?” bisa menunjukkan ketertarikan atau keterkejutan.

Jadi, jangan buru-buru menilai kemampuan bahasa seseorang hanya dari panjang atau pendek jawabannya.

Satu Kata Bisa Memiliki Banyak Fungsi

Dalam percakapan sehari-hari, kita tidak selalu berbicara menggunakan kalimat panjang. Kita justru sering menggunakan respons pendek untuk menunjukkan bahwa kita sedang mengikuti interaksi.

Misalnya, ketika seseorang mengatakan, “I see,” respons tersebut dapat menunjukkan bahwa ia memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya.

Ketika seseorang mengatakan “Really?”, respons tersebut dapat menunjukkan ketertarikan atau keterkejutan.

Sementara itu, “Yeah” tidak selalu sekadar berarti “ya”. Dalam situasi tertentu, respons tersebut dapat menunjukkan persetujuan, perhatian, atau bahwa seseorang masih mengikuti alur pembicaraan.

Artinya, makna sebuah respons tidak hanya ditentukan oleh kata yang digunakan, tetapi juga oleh konteks dan bagaimana respons tersebut muncul dalam interaksi.

Hal inilah yang menarik untuk diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Bisa Berbahasa Inggris Belum Tentu Sama dengan Bisa Berinteraksi

Selama ini, kemampuan bahasa Inggris sering dikaitkan dengan grammar, vocabulary, pronunciation, dan kemampuan berbicara dengan lancar.

Semua itu memang penting.

Namun, ada pertanyaan lain yang juga perlu diperhatikan:

Apakah mahasiswa mampu menggunakan bahasa Inggris untuk berinteraksi dengan orang lain?

Kemampuan berinteraksi tidak hanya berarti mampu menghasilkan kalimat. Mahasiswa juga perlu mengetahui bagaimana merespons lawan bicara, mengambil giliran berbicara, menunjukkan bahwa mereka sedang mendengarkan, menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan, meminta klarifikasi, dan menjaga percakapan tetap berlangsung.

Kemampuan seperti inilah yang dikenal sebagai interactional competence.

Dalam kelas EFL (English as a Foreign Language), interactional competence menjadi penting karena mahasiswa tidak hanya belajar bahasa sebagai sebuah sistem, tetapi juga belajar menggunakan bahasa sebagai alat untuk berinteraksi.

Coba Lihat Apa yang Terjadi Setelah Mahasiwa hanya menjawab dengan kata “Yeah”

Bayangkan jika seorang dosen bertanya:

“Do you agree with your friend's argument?”

Seorang mahasiswa menjawab:

Yeah ma'am.”

Kemudian dosen melanjutkan:

“Why do you agree?”

Mahasiswa menjawab:

“Because… I think it is important.”

Kalau hanya melihat jawaban pertama, “Yeah” mungkin terlihat terlalu sederhana.

Namun, kalau kita melihat keseluruhan interaksi, respons tersebut ternyata menjadi bagian dari rangkaian percakapan yang kemudian membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.

Karena itu, respons minimal tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti keterbatasan kemampuan bahasa.

Sebaliknya, respons tersebut dapat menjadi sumber informasi tentang bagaimana mahasiswa berpartisipasi dalam sebuah interaksi.

Bukan Hanya “Apa yang Dikatakan”, tetapi “Kapan dan Mengapa”

Untuk memahami fenomena ini, percakapan yang benar-benar terjadi di dalam kelas perlu diperhatikan.

Di sinilah pendekatan Conversation Analysis (CA) menjadi relevan.

Conversation Analysis tidak hanya bertanya:

“Berapa kali mahasiswa mengatakan yes atau okay?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  • Kapan respons tersebut muncul?

  • Apa yang terjadi sebelum respons itu?

  • Apa yang terjadi setelahnya?

  • Bagaimana respons tersebut memengaruhi kelanjutan percakapan?

Dengan melihat urutan percakapan secara lebih dekat, kita dapat memahami bahwa respons singkat dapat memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Misalnya, “okay” dapat menunjukkan pemahaman dalam satu situasi, tetapi dalam situasi lain dapat menjadi tanda bahwa mahasiswa menerima instruksi dosen.

Begitu juga dengan “yeah”. Respons tersebut dapat menunjukkan persetujuan, tetapi dapat pula menjadi tanda bahwa mahasiswa masih mengikuti pembicaraan.

Respons yang sama tidak selalu memiliki fungsi yang sama. Konteks interaksi sangat penting.

Lalu, Apa Artinya bagi Guru dan Dosen?

Pemahaman ini dapat memberikan perspektif baru bagi guru dan dosen bahasa Inggris.

Ketika mahasiswa memberikan respons singkat, kita tidak harus langsung menganggap mereka pasif atau tidak memiliki kemampuan berbicara.

Sebaliknya, kita dapat memperhatikan bagaimana respons tersebut digunakan.

Apakah yeah digunakan untuk menunjukkan persetujuan?

Apakah okay menunjukkan bahwa mahasiswa memahami instruksi?

Apakah really? menunjukkan ketertarikan?

Apakah respons tersebut membantu mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berbicara lebih lanjut?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuat kita melihat aktivitas berbicara di kelas dengan cara yang berbeda.

Kelas bahasa Inggris bukan hanya tentang siapa yang paling banyak berbicara. Kelas juga tentang bagaimana mahasiswa saling merespons dan membangun percakapan bersama.

Dari Respons Kecil Menuju Kompetensi Interaksional

Jika kita ingin mahasiswa menjadi komunikator bahasa Inggris yang efektif, mereka tidak cukup hanya belajar membuat kalimat yang benar.

Mereka juga perlu belajar bagaimana menggunakan bahasa dalam situasi interaksi nyata.

Respons minimal dapat menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.

Melalui perhatian terhadap respons-respons kecil seperti yes, yeah, okay, right, dan I see, guru dan dosen dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana mahasiswa berpartisipasi dalam percakapan.

Pada akhirnya, belajar bahasa bukan hanya tentang:

“How well can you speak English?”

But also:

“How well can you interact with others in English?”

Sebab dalam komunikasi nyata, kita tidak berbicara sendirian.

Kita berbicara dengan orang lain.

Dan terkadang, satu kata sederhana sepertiyeah dapat menjadi bagian kecil, tetapi penting, dari bagaimana sebuah percakapan terus berjalan.