Cerita Para Pedagang Pasar Tanah Abang Untung Berlipat Jelang Ramadhan

Sejumlah pedagang di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengaku senang dengan ramainya pengunjung menjelang Ramadhan. Menurutnya, hal tersebut membawa keuntungan karena dagangan mereka bisa laku lebih banyak.
Salah seorang pedagang kemeja wanita, Siti Zahroh, mengaku keuntungannya sejak awal Mei lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya. Biasanya, dalam sehari ia mampu menjual sekitar 50 kemeja, yang dijual seharga Rp 50-65 ribu per kemeja.
"Dari akhir April sudah mulai ramai, tapi awal Mei mulai kerasa. Bisa 100 kemeja laku sehari," ujar Siti kepada kumparan (kumparan.com) di Lantai 3A, Pasar Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (6/5).

Ia mengaku, sebelumnya keuntungan bersih dalam sehari bisa mencapai Rp 1-1,5 juta. Namun sejak awal Mei, keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp 3 juta.
"Sekitar Rp 3,5 juta dipotong lain-lain kalau lagi rame bisa Rp 3 juta," katanya.
Meski demikian, ia mengaku keuntungan tersebut lebih kecil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
"Dulu sih bisa lebih dari ini kalau mau puasa sama lebaran. Bisa buat modal lagi," jelasnya.

Hal serupa dikatakan seorang pedagang kerudung. Sandi, mengaku senang dengan kondisi tersebut. Ia mengaku, keuntungannya menjelang Ramadhan mengalami sedikit kenaikan dibanding hari biasa.
Pada hari biasanya, ia bisa menjual 5 lusin kerudung atau 60 kerudung. Sejak awal Mei, ia bisa menjual 6-7 lusin kerudung. Dengan harga per kerudungnya sekitar Rp 25-30 ribu.
Keuntungan bersih yang ia dapat sehari sejak awal Mei bisa mencapai Rp 1,5 juta, yang di hari biasa hanya Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta.
"Naik, tapi sedikit. Biasanya sehari bisa laku 5 lusin kerudung, sekarang bisa lebih, sekitar 6 atau 7 lusin lah, enggak sampe 10. Mungkin 10 lusin kalau menjelang Lebaran nanti," ujarnya.

Salah seorang pedagang baju muslim wanita di Blok A Pasar Tanah Abang juga mengatakan hal yang serupa. Bahkan, sejak awal April 2017 pesanannya terus bertambah.
"Biasanya kaftan, atau gamis yang paling sering dipesan," ujar Hanifah.
Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar 5-10 pakaian muslim ekslusifnya. Per item ia jual dengan harga Rp 250-500 ribu.
"Tadi ada yang pesen setengah lusin buat keluarganya nanti pas Lebaran, langsung kami cariin. Kalau beli lusinan harga bisa nego. Biasanya kalau weekend bisa laku paling 10-15 baju, enggak banyak kayak dulu," katanya.
Saat ini, dalam sehari ia bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta, lebih tinggi dibandingkan biasanya.
"Mungkin nanti peminat mendekati Lebaran bisa lebih banyak lagi," ia mengamini.

Tak mau kalah, seorang pedagang baju koko dan mukena, Syarif, juga mengatakan hal yang serupa. Sejak akhir April 2017, permintaan barang dagangannya terus meningkat.
"Sehari bisa jual 30an baju koko sama mukena juga. Kalau biasanya paling cuma 5-10 baju aja lakunya. Harganya satu baju Rp 75-200 ribu, tergantung bahan, mukena juga beda-beda, dari Rp 80 ribu sampai ada yang Rp 500 ribu," kata Syarif.

Meski demikian, ia juga mengatakan, keuntungannya tersebut lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Sekarang paling untungnya cuma Rp 1-1,5 juta aja bersih sehari, kalau dulu bisa Rp 3-5 juta," pungkasnya.
