Konten dari Pengguna

Menelusuri Rimbun Hutan Batukaru

Dewi Setiawan

Dewi Setiawan

Saat ini bekerja sebagai Program Associate di Pundi Asa, lalu menghabiskan waktu membaca dan bertualang sebisanya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewi Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemandangan di Hutan Batukaru, Tabanan, Bali.
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan di Hutan Batukaru, Tabanan, Bali.

Meskipun tak sepopuler Gunung Agung dan Gunung Batur, Gunung Batukaru menyimpan daya pikat dan magisnya sendiri. Gunung tertinggi kedua di Bali ini terletak di Kabupaten Tabanan, sekitar 3 jam dari pusat Kota Denpasar.

Gunung berapi non-aktif ini juga dikelilingi oleh hutan lebat. Menurut papan di jalur masuk Hutan Lindung Batukaru, ia merupakan kawasan hutan hujan terbesar di Bali dengan area seluas 15.153 hektar. Ini lebih besar dari luas wilayah Kota Denpasar!

Sebagai hutan lindung, ia rumah bagi banyak satwa liar. Pelepasliaran satwa dilindungi kerap dilakukan di sini, dengan harapan satwa-satwa ini tak bernasib sama dengan Harimau Bali yang terakhir terekam keberadaannya di sini tahun 1920-an, sebelum akhirnya dinyatakan punah pada tahun 1950-an.

Jika memasuki hutan dari arah Desa Wanagiri, kamu akan disambut dengan kebun-kebun Salak Gula Pasir milik warga. Kalau beruntung, kamu bisa mencicipi hasil panen buah lokal yang rasanya manis seperti namanya. Juga pohon-pohon kopi milik warga! Pohon-pohon ini berjejer pendek, “disambung” batangnya oleh warga agar tak tumbuh terlalu tinggi dan buah-buahnya mudah dijangkau.

Melangkah ke area hutan, kamu akan disapa oleh pohon-pohon besar yang berdiri megah, beberapa di antaranya diperkirakan berusia ratusan tahun. Sementara sisa-sisa buah dengan bekas gigitan monyet berserakan di tanah, menjadi jejak kehidupan liar di sekitar. Lutung dan monyet kra memang salah satu penghuni setia hutan ini.

Kamu juga akan menemukan pohon-pohon kopi liar yang, tak seperti yang kamu temukan di kebun warga, tumbuh menjulang hingga 3-4 meter. Konon, kelelawar dan luwak adalah pelanggan setia sekaligus konsumen utama buah-buah kopi yang telah berubah merah. Dan berbeda dari kebanyakan manusia, keduanya melahirkan kehidupan baru lewat apa yang mereka ambil. Dari muntahan biji kopi yang serat buahnya dimakan kelelawar dan kotoran luwak, pohon-pohon kopi kecil tumbuh berserakan di berbagai sudut hutan.

Pohon-pohon kopi yang tumbuh dari muntahan kelelawar atau kotoran luwak.

Pohon-pohon rotan pun tumbuh subur dan anggun, batang-batangnya menjuntai seperti ayunan di tengah hutan. Tapi hati-hati, meski tampak mengundang, lengkungan itu dipenuhi duri tajam yang tak akan segan-segan melukai tangan.

Yang tak kalah menarik adalah pakis. Berbagai jenisnya akan kamu temukan di belantara hutan ini, mulai dari yang biasa disayur hingga yang bentuknya menyerupai sarang burung. Tak hanya bentuknya yang serupa, konon beberapa burung di sini juga gemar beristirahat atau bahkan membuat sarang di atasnya.

Nah, jika kamu menemukan buah-buah kecil yang birunya begitu cantik di jalan setapak yang kamu lalui, maka kemungkinan besar di atasmu adalah pohon jenitri! Bukalah salah satu buahnya dan kamu akan menemukan biji yang mungkin familiar karena sering digunakan sebagai bandul perhiasan.

Biji jenitri atau rudraksa yang sering digunakan untuk kalung dan gelang.

Lalu di mana kah satwa-satwanya berada? Kebetulan petualangan ini dilakukan di tengah hujan deras sehingga kemungkinan satwa-satwa tersebut tengah bersembunyi sembari menikmati udara dingin yang turun bersama hujan. Terlebih, beberapa satwa seperti kucing kuwuk baru berkelana di malam hari.

Baru di ujung trek hujan mulai reda dan burung-burung mulai menampakkan batang hidungnya. Seekor flecker-breasted woodpecker terlihat bertengger di ujung dahan, paruhnya sibuk melatuk pelan. Mungkin merasa disorot, ia lalu beranjak pergi, menghilang di balik rimbun pepohonan.

Ia sekaligus menjadi penanda akhir dari petualangan. Yang terjelajahi di sini tak ayalnya baru sebagian kecil dari wilayah Batukaru. Semakin jauh kamu menjelajah, semakin banyak pula hal-hal menakjubkan yang akan kamu temukan.

Hutan ini bukan hanya rumah bagi banyak flora dan fauna, tetapi juga sekolah alam bagi kita, manusia. Tak hanya belajar tentang apa yang ada di dalamnya, semoga hutan ini juga bisa mengajarkan kita bagaimana menghargai alam dan kehidupannya.

Juntaian rotan di salah satu sudut hutan. Bagian berwarna hitam merupakan bagian yang berduri.