Konten dari Pengguna

Homesick: antara Pulang dan Masa Depan

Dewina Tantri Cinta A

Dewina Tantri Cinta A

Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan-Universitas Jember

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewina Tantri Cinta A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI

Menjadi mahasiswa bukanlah sekedar kenaikan jenjang pendidikan dari siswa SMA. Tetapi sebuah langkah besar untuk memulai tantangan dan harapan. Bagi saya, menjadi mahasiswa memberikan revolusi besar pada hidup, hingga suatu ketika terbesit dalam diri "untuk apa saya melangkah, dan kapan saya akan pulang?".

Hari Senin kembali datang menyambut perempuan berusia 18 tahun ini dengan embun pagi yang terasa dingin menutupi sebagian jalan dan halaman rumah. Begitu pula dengan hangatnya kamar tidur yang selama ini saya singgahi dengan selimut tebal yang menyelimuti. Saya terjebak dengan pilihan, saya harus bangun menerjang dinginnya pagi ini atau saya melanjutkan bunga tidur yang belum selesai. Saya lihat jadwal di handphone dan ternyata siang ini ada jam kuliah, hingga akhirnya saya memilih menerjang embun dingin itu. Berat, harus meninggalkan rumah dan orang-orang terkasih didalamnya.

Telah sampailah saya di ruangan kecil yang hanya berisikan ranjang tidur cukup seorang saja, kamar kost. Tempat ini menjadi saksi setiap malam betapa merindunya saya ingin pulang, tempat ini seakan semakin sesak saat saya merasa banyak tekanan.

Adaptasi yang sulit bagi saya dari masa putih abu yang gembira menjadi mahasiswa yang penuh tekanan. Kuliah itu menyenangkan tetapi hanya saat masa PKKMB, dan euforia itu datang sesaat hanya ketika lolos seleksi nasional perguruan tinggi. Setiap langkah yang saya ambil selalu memberikan pengalaman dan pelajaran, namun di balik kegembiraan itu pula ada perasaan yang semakin menyiksa diri saya.

Perasaan khawatir karena jauh dari rumah, rindu yang semakin menggebu, ketakutan hidup sendiri, dan kesepian. Perasaan itu selalu muncul setiap malam, mengingat masakan mama, suara riuh rumah, dan pertengkaran kecil dengan kakak. Belum lagi saya harus berhadapan dengan tugas yang menumpuk, deadline yang singkat, jadwal kuliah yang sering berubah, orang-orang baru, dan kehidupan baru. Perasaan itu disebut Homesick.

Homesick berdampak buruk untuk psikologis seseorang, seseorang yang mengalami homesick akan rentan terkena stres. Dalam perspektif kewarganegaraan global, homesick dapat memengaruhi bagaimana seseorang berperan dalam masyarakat baru. Menjadi warna negara yang global seharusnya bisa beradaptasi dengan lingkungan, tetapi hal itu menjadi masalah dan hambatan. Seseorang yang homesick akan terjebak dengan pikirannya sendiri hingga menurunnya kemampuan berinteraksi. Semua itu saya alami secara nyata.

Lalu bagaimana cara saya keluar dari zona yang membuat saya terperangkap?

Sore hari sekitar pukul 17.00 saya berjalan menaiki tangga di sebelah kamar kost menuju lantai tiga, mengangkat jemuran yang sudah sehari terpapar matahari. Langit berwarna oranye dan senja yang indah terpancar dari arah barat, cukup menenangkan hati. Saya duduk sambil memeluk pakaian yang saya pegang, menikmati lukisan tuhan yang seakan tertuju hanya untuk saya. Rindu rumah, itu yang saya rasa.

"Untuk apa saya melangkah, dan kapan saya akan pulang?", pertanyaan itu kembali datang secara tiba-tiba hingga saya menemukan renungan dalam diri. Langkah yang sedang saya lalui adalah perjalanan untuk mencapai masa depan yang cerah, jikalau saya tidak keluar dari masalah ini, langkah saya akan terhambat, homesick bukan sekadar masalah dalam diri seseorang, namun akan menjadi masalah sosial jika tidak di atasi. Yang pertama saya lakukan adalah memvalidasi perasaan tersebut, sedih, rindu, takut, cemas, semuanya tidak pernah saya tahan.

Selanjutnya mencari dukungan dari orang sekitar, saya menceritakan perasaan saya kepada sahabat dan keluarga sehingga saya mendapat dukungan dari mereka. Mencari teman baru yang memiliki kepribadian ekstrovert juga penting, karena mereka akan membantu saya bergaul dan mengenal teman-teman baru yang lain. Dan sejak saat itulah bagi saya homesick bukanlah hambatan, tetapi sebuah tantangan dalam hidup.

Homesick adalah perasaan yang pasti dialami oleh semua mahasiswa baru terlebih para perantau, kita tidak bisa menghindari itu, tetapi kita bisa mengatasi itu. Jadikan setiap masalah adalah tantangan yang harus diselesaikan.