Konten dari Pengguna

Kesenian Tari Kuda Lumping dalam Kehidupan Masyarakat

Lemuel Destian Saputra

Lemuel Destian Saputra

Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lemuel Destian Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh MasBet Christianto dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-festival-kostum-perayaan-6513506/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh MasBet Christianto dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-festival-kostum-perayaan-6513506/

Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali budaya. Budaya yang dimiliki oleh Indonesia ini ada sebanyak enam puluh tujuh (67) budaya. Indonesia terdiri dari berbagai macam jenis kebudayaan sesuai dengan daerah masing-masing yang setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri. Kultur bangsa kita sudah populer di dunia dengan keramahan ataupun nilai budaya yang tinggi. Dapat dilihat dari banyaknya candi yang kita miliki, seperti contohnya candi Dieng, candi Borobudur, candi Prambanan dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan budaya yang ada pada kerajaan nusantara seperti aneka macam kesenian, alat yang digunakan untuk upacara adat, dan lainnya.

Dalam artikel ini saya akan berfokus terhadap kesenian Tari Kuda Lumping. Kesenian kuda lumping merupakan pusaka budaya warisan leluhur bersumber pada orang jawa yang di lakukan dalam wujud kesenian tradisional. Kuda lumping ini semakin meluas dibeberapa wilayah di Indonesia. Dengan perwujudan yang tealh melalui inovasi sesuai daerah masing-masing, namun demikian ada pandangan yang mengungkapkan tentang kesenian tersebut yang ada di Jawa Tengah adalam yang terbaik dari daerah yang lainnya.

Kesenian Kuda Lumping memiliki nama lain yakni selaku kesenian rakyat,"Folk Art", dan pengagumnya dominan komunitas kalangan bawah. Dikarenakan kesenian Kuda Lumping merupakan perwujudan dari kebudayaan, sehingga memiliki suatu arti/makna ataupun nilai yang disampaikan melalui lambang atau simbol,di dalamnya mencakup tiga hal yaitu yang pertama, makna yang mempunyai arti pandangan hidup bagi penggiat kebudayaan. Kedua, value/nilai yakni sesuatu yang dianggap begitu sangat penting atau berharga sehingga selayaknya untuk semua yang ada pada peralatan musik tersebut dari fisik, instrument mempunyai fungsi selaku sarana yang nilainya selaku tujuan. Ketiga, simbol atau lambang merupakan suatu tanda yang sudah disepakati guna mempunyai sudut pandang ataupun mempresentasikan entitas tertentu. (Sutrisno,1999).

Kuda lumping sendiri merupakan seni pertujuntukan yang berisikan berbagai macam pemain musik, pemain tari, yang dilengkapi berbagai macam peralatan musik dan juga suatu permainan seni masyarakat bercorak seremoni turun temurun dari zaman dahulu bisa disaksikan pada karakteristik tradisi mas lalu dibidang seni, selaku alat seremonial, permainan dari kaki yang utama, mencakup bagian ilmu ghaib, intrance biasanya secara reflek. (Minarto,2007).

Sejarah Kuda Lumping

Sejarah Kuda Lumping memiliki 5 versi:

  • Sejarah yang pertama, menyatakan bahwa tarian Kuda Kepang telah lama ada yakni semenjak zaman primitif. Tarian tersebut diadakan biasanya dalam acara adat ataupun ritual lainnya. Saat ini, peralatan yang dimainkan masih apa adanya/sederhana akan tetapi terus berkembang setiap waktu.

  • Sejarah versi yang kedua yaitu, menyatakan bahwa tarian tersebut ialah penghargaan dari masyarakat. Di zaman Pangeran Diponegoro kegiatan tersebut wujud suport terhadapnya beserta pasukan kudanya yang berhasil mengalahkan penjajah.

  • Sejarah yang ketiga, menyatakan bahwa tarian Kuda Lumping ini ada semenjak perjuangan Raden Patah. Pendapat ini suatu ungkapan kegiatan perjuangan yang dilakukan oelh Raden Patah dan Sunan Kalijaga sewaktu mengusir penjajah.

  • Sejarah yang keempat yaitu, menyatakan tentang Tari Kuda Lumping lahir dikerajaan Mataram dalam bentuk latihan para prajurit kerajaan. Dimana sewaktu latihan para prajurit ini dipimpin oleh Sultan Hamengkubowono I sewaktu berperan mengusir penjajah.

  • Sejarah yang kelima yaitu, menyatakan bahwa tarian tersebut lahir disebabkan karna kisah raja yang digdaya dari wilayah Jawa. Namun demikian, berkaitan kisah raja yang digdaya itu tidak dapat dikenali kisah berikutnya.(Selasar,2021).

Fungsi Kuda Lumping

Tari kuda lumping memiliki 4 fungsi utama:

1. Sosial, Tari Kuda Lumping banayak mempunyai elemen yang dimulai dari penarinya sampai pada penata rias maupun pengiringnya. Agar dapat membuat kerukunan atau harmonisasi yang baik, semua komponen tersebut harus bisa bekerja sama.

2. Pendidikan, dalam setiap pertunjukan dalam tarian tersebut selalau memberikan gambaran tentang tingkah laku yang baik maupun yang tidak baik terdapat dalam tubuh seseorang. Nilai bisa didapat pada tarian ini yaitu manusia harus melakukan perbuatan yang baik sewaktu mempunyai akal sehat.

3. Hiburan, Tari Kuda Lumping menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Penampilan kegiatan yang dilakukan dalam acara itu, diantaranyab salah satu penari merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu.

4. Kepercayaan, masyarakat yang mengadakan kegiatan atau pertunjukan kuda lumping ini mempunyai keyakinan atau kepercayaan terhadap para penari bahwa ada bantuan dari alam ghaib. Inilah yang menjadi ciri khas tarian tersebut terhadap tari lainnya.

Kesimpulan

Indonesia memiliki banyak kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya adalah Tari Kuda Lumping yang berasal dari Jawa. Tari ini bukan hanya sekedar hiburan, akan tetapi memiliki makna yang mendalam terkait dengan pandangan hidup, nilai budaya, dan simbol-simbol yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Tari Kuda Lumping telah berkembang dan tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia dengan variasi yang disesuaikan dengan budaya lokal. Seni ini juga berfungsi sebagai sarana sosial, pendidikan, hiburan dan ekspresi kepercayaan terhadap hal gaib. Sejarah kuda lumping mencakup berbagai versi yang berkaitan dengan perjuangan dan tradisi masyarakat, serta menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia.