news-card-video
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Tren Fast Beauty dan Dampaknya yang Berlapis

Deya Andira
Saya adalah mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Kampus Universitas Andalas. Saya menyukai kegiatan tulis-menulis.
18 Maret 2025 12:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Deya Andira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto Produk Kecantikan : Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto Produk Kecantikan : Unsplash
ADVERTISEMENT
Produk kecantikan, baik yang digunakan untuk merawat kulit maupun memperindah tampilan wajah dan tubuh, bukanlah hal yang baru muncul belakangan ini di kalangan para penggemarnya. Sejak dahulu, berbagai produk telah diciptakan, diperjualbelikan, dan terus berinovasi untuk menarik hati para penggunanya.
ADVERTISEMENT
Inovasi yang dilakukan oleh setiap merek produk kecantikan ini biasanya terjadi ketika terdapat keluhan yang banyak dari para penggunanya. Keluhan tersebut bisa berupa kemasan yang tidak praktis, tidak higienis, atau sulit dibawa ke mana-mana. Keluhan lainnya bisa terkait dengan kosmetik yang tidak tahan lama, warnanya yang berbeda dari yang ditampilkan di media sosial, atau produk yang menyebabkan masalah pada kulit penggunanya.
Setelah melakukan inovasi, produk kecantikan tentu perlu memberitahukan kepada para penggunanya bahwa mereka telah melakukan perbaikan dan memenuhi permintaan yang ada.
Namun, belakangan ini, inovasi yang berlebihan muncul dan menjadi perbincangan hangat di komunitas kecantikan. Bahkan, ada beberapa merek yang tidak melakukan inovasi apapun, tetapi tetap meluncurkan berbagai produk baru. Hal ini memunculkan istilah "Fast Beauty", yaitu fenomena dalam industri kecantikan yang terus-menerus menghadirkan banyak produk baru dengan rentang waktu produksi yang cepat untuk mengikuti tren pasar.
ADVERTISEMENT
Fenomena Fast Beauty ini menjadi akar masalah baru yang berdampak pada berbagai aspek. Lingkungan, sosial, finansial, dan industri kecantikan itu sendiri menjadi korban dari tren ini.
Dari segi lingkungan, terdapat banyak limbah kosmetik yang berlebihan. Ketika produk kedaluwarsa atau tidak lagi dipakai, produk tersebut akan berakhir menjadi sampah, dan sampah-sampah ini mengandung bahan yang sulit terurai. Polusi plastik dan mikroplastik juga merupakan akibat dari tren ini, serta eksploitasi sumber daya karena bahan baku yang terus menerus digunakan untuk membuat produk baru.
Secara sosial, terjadi budaya konsumsi berlebih (overconsumption), di mana para konsumen terdorong untuk terus membeli produk baru yang diluncurkan oleh suatu merek, meskipun produk lama yang mereka miliki masih belum habis. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga muncul dalam tren ini, di mana merek produk kecantikan memasarkan produknya melalui orang terkenal di media sosial, menciptakan tekanan bagi para pengguna media sosial yang merasa harus segera memiliki produk baru tersebut. Rasa tidak puas dan ketergantungan juga mengendap di hati para pengguna produk kecantikan karena konsumen sering merasa kurang dan tidak puas, akibat tren yang terus berubah, sehingga mereka memiliki keinginan untuk membeli lebih banyak produk kecantikan.
ADVERTISEMENT
Dampak ekonomi juga tidak lepas dari cengkeraman tren ini, yang menyebabkan pemborosan terkait dengan overconsumption. Ini tentu menjadi kendala bagi para pengguna produk kecantikan yang terbawa arus tren Fast Beauty. Sifat impulsif yang dimiliki konsumen juga membuat mereka tidak segan melakukan pinjaman atau menggunakan kartu kredit secara tidak bijak.
Industri kecantikan adalah aspek utama yang terkena dampak dari tren Fast Beauty ini, di mana kualitas produk dapat menurun karena proses produksi yang harus cepat. Beberapa merek bahkan tidak lagi berinovasi dalam hal kualitas bahan dan formulasi produk. Para pekerja di sektor manufaktur, terutama di negara berkembang, juga menjadi sasaran tren ini, karena tingginya permintaan produk yang mengharuskan mereka bekerja dengan upah rendah dan dalam kondisi yang tidak layak.
ADVERTISEMENT
Kedaluwarsa tren, karena banyak produk yang viral dalam waktu singkat, mengakibatkan produk-produk tersebut kehilangan nilai, dijual dengan harga murah, atau bahkan dibuang begitu saja.
Ada berbagai cara untuk mengatasi dampak dari tren Fast Beauty ini. Sebagai pengguna produk, kita harus bijak dalam membuat pertimbangan sebelum membeli barang. Misalnya, dengan mendukung konsep sustainable beauty, pilihlah merek yang menggunakan kemasan ramah lingkungan dan bahan alami yang berkelanjutan.
Selain itu, terapkan prinsip minimalist beauty, yaitu menggunakan produk yang benar-benar dibutuhkan dan cocok untuk kulit. Lakukan juga "project pan", yaitu memastikan bahwa produk yang telah dibeli habis terlebih dahulu sebelum membeli produk baru. Sebagai pengguna produk kosmetik, kita juga harus bijak dalam mengikuti tren dan tidak mudah dipengaruhi oleh tren yang beredar di media sosial. Tanamkan kontrol diri yang kuat agar tidak selalu membeli produk kecantikan yang akhirnya tidak terpakai.
ADVERTISEMENT
Apakah kamu sudah melakukan hal-hal tersebut?