Komunikasi Digital: Ketika Teknologi Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sayed Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi Digital Mengubah Bahasa Kita
Pernah nggak, kamu gelisah gara-gara pesan WhatsApp sudah centang biru tapi belum dibalas juga? Dulu orang berkirim surat dan sabar menunggu berhari-hari untuk mendapat jawaban. Sekarang, menunggu beberapa menit saja sudah terasa lama. Kebiasaan sekecil ini menunjukkan betapa komunikasi digital sudah mengubah cara kita berinteraksi dengan orang lain lewat teknologi.
Dari Hitungan Hari ke Hitungan Detik
Dulu, kalau ingin mengabari orang yang jauh, kita harus menulis surat atau menelepon, dan keduanya butuh waktu dan proses. Sekarang internet dan smartphone membuat pesan sampai dalam hitungan detik. Bentuknya juga macam-macam, dari teks, foto, video, voice note, sampai video call lewat WhatsApp, Instagram, atau TikTok. Jarak tidak lagi jadi masalah besar. Hanya saja, kita jadi terbiasa dengan serba cepat. Pesan yang dikirim diharapkan segera dibalas, dan tanpa sadar kita jadi selalu terhubung dengan perangkat digital.
Komunikasi Digital Mengubah Bahasa Kita
Gaya bahasa kita juga terpengaruh. Di chat, orang cenderung menulis singkat, santai, dan penuh singkatan atau istilah yang lagi populer. Emoji dan stiker ikut mengambil peran, karena di pesan tulis tidak ada ekspresi wajah atau nada suara. Kalimat yang sama bisa terasa ramah atau ketus, tergantung emoji di belakangnya.
Bahasa santai membuat obrolan terasa akrab dan tidak kaku, tetapi tidak cocok dipakai di semua situasi. Mahasiswa yang mengirim pesan ke dosen dengan singkatan berlebihan, misalnya, bisa dianggap kurang sopan. Jadi, yang penting adalah tahu kapan harus santai dan kapan harus lebih formal.
Manfaat yang Nyata
Di sisi positif, teknologi membuat informasi tersampaikan lebih cepat. Di dunia pendidikan, mahasiswa bisa membahas tugas dan jadwal kuliah lewat grup kelas tanpa harus berkumpul. Keluarga dan teman yang berjauhan pun tetap bisa saling terhubung, dan pengetahuan jadi lebih mudah dicari dan dibagikan lewat internet.
Tapi Ada Sisi Lainnya
Di balik kemudahan itu, kesalahpahaman gampang terjadi. Pesan teks tidak membawa ekspresi dan intonasi, sehingga candaan bisa dikira serius atau marah. Ada juga orang yang sibuk menatap ponsel padahal sedang berkumpul dengan orang lain, padahal bertemu langsung membantu kita membaca ekspresi dan bahasa tubuh dengan lebih jelas. Informasi di internet pun menyebar sangat cepat meski belum tentu benar, jadi sebaiknya kita cek dulu sebelum membagikannya. Dan kebebasan berkomentar tetap perlu disertai sopan santun, karena di balik layar ada perasaan orang lain.
Menjaga Komunikasi yang Baik
Menghindari teknologi bukan jawabannya. Yang lebih penting adalah menggunakannya dengan bijak. Pesan singkat memang praktis, tetapi untuk hal yang penting atau sensitif, bicara langsung sering kali lebih jelas. Bahasa santai bisa dipakai bersama teman, sedangkan di lingkungan pendidikan atau situasi formal, bahasa yang sopan dan jelas tetap diperlukan. Terakhir, pikirkan dulu sebelum menulis atau membagikan sesuatu.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, dan manfaatnya tergantung pada siapa yang memakainya. Cara berkomunikasi boleh berubah, tetapi sikap saling menghargai, saling memahami, dan menjaga hubungan dengan sesama tetap perlu kita pertahankan.
