Romanticizing Life: Teknik Psikologis untuk Menghargai Hal Kecil

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dhafir Surya Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, istilah romanticizing life semakin populer di media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Tren ini banyak muncul dalam bentuk video estetik yang menampilkan aktivitas sederhana seperti menikmati kopi pagi, berjalan saat hujan, membaca buku di sudut kamar, menyalakan lilin aromaterapi, mendengarkan musik sambil membereskan rumah, atau sekadar menikmati cahaya matahari sore dari jendela kamar. Aktivitas sehari-hari yang sebelumnya terasa biasa kini dikemas menjadi pengalaman yang tampak lebih bermakna dan menyenangkan.
Fenomena ini berkembang pesat melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dengan pesan utama: menikmati hidup melalui hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Banyak orang menganggap romanticizing life sebagai cara untuk keluar dari rutinitas yang monoton dan tekanan kehidupan modern. Di tengah kesibukan akademik, tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, dan derasnya arus informasi digital, tren ini seolah menawarkan ruang untuk bernapas dan menikmati hidup secara lebih perlahan.
Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: apakah romanticizing life benar-benar merupakan teknik psikologis yang sehat untuk meningkatkan kesejahteraan mental, atau justru hanya bentuk pelarian sementara dari realitas yang melelahkan?
Romanticizing Life dan Psikologi Positif
Dalam kajian psikologi, konsep romanticizing life sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Fenomena ini memiliki keterkaitan erat dengan konsep-konsep dalam psikologi positif, seperti mindfulness, gratitude, dan savoring. Ketiganya merupakan pendekatan psikologis yang menekankan pentingnya kesadaran terhadap pengalaman saat ini dan kemampuan individu untuk menghargai hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari.
Savoring merujuk pada kemampuan seseorang untuk memperhatikan, menikmati, dan memperpanjang pengalaman positif yang sedang dirasakan. Ketika seseorang sengaja meluangkan waktu untuk menikmati secangkir teh hangat, merasakan udara pagi, atau mengamati suara hujan, ia sedang melatih kemampuan savoring. Kemampuan ini terbukti berkaitan dengan meningkatnya emosi positif dan kepuasan hidup.
Penelitian dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa mindfulness dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif melalui peningkatan rasa syukur dan kemampuan menikmati pengalaman positif. Individu yang mampu hadir sepenuhnya pada momen saat ini cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih baik.
Dalam konteks ini, romanticizing life dapat dipahami sebagai bentuk sederhana dari mindfulness modern. Ketika seseorang mulai memperhatikan detail kecil yang sebelumnya terabaikan seperti aroma kopi, suara dedaunan tertiup angin, atau suasana tenang setelah hujan ia sedang melatih kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini.
Menurut artikel psikologi dari SELF Magazine, psikolog Alyssa Mancao menjelaskan bahwa praktik semacam ini membantu individu memperlambat ritme pikirannya dan kembali terhubung dengan pengalaman nyata di sekitarnya. Mindfulness bukan sekadar menenangkan pikiran, melainkan kemampuan untuk hadir sepenuhnya tanpa terus-menerus terjebak dalam kekhawatiran tentang masa depan atau penyesalan terhadap masa lalu.
Selain mindfulness, romanticizing life juga berkaitan erat dengan rasa syukur. Penelitian dalam Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi di Indonesia menunjukkan bahwa rasa syukur memiliki hubungan positif dengan psychological well-being. Individu yang mampu mensyukuri pengalaman sederhana cenderung memiliki makna hidup yang lebih kuat dan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.
Mengapa Generasi Muda Menyukai Tren Ini?
Popularitas romanticizing life tidak dapat dilepaskan dari kondisi psikologis generasi muda saat ini. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat, penuh tuntutan, dan sangat terhubung secara digital. Kehidupan modern menghadirkan tekanan yang tidak sedikit, mulai dari tuntutan akademik, persaingan karier, ekspektasi sosial, hingga tekanan untuk selalu produktif.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan bahwa kelompok usia muda merupakan pengguna internet paling aktif di Indonesia. Paparan informasi yang terus-menerus membuat banyak individu mengalami kelelahan mental akibat overstimulasi digital.
Dalam kondisi seperti ini, romanticizing life menawarkan bentuk resistensi kecil terhadap budaya serba cepat. Tren ini mengajak individu untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa hidup tidak selalu harus diisi dengan pencapaian besar. Kadang, makna hidup justru ditemukan dalam momen sederhana yang sering terabaikan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep meaning in life, yaitu kebutuhan individu untuk menemukan makna dalam kehidupannya. Dalam psikologi eksistensial, makna hidup merupakan salah satu fondasi penting bagi kesehatan mental. Ketika seseorang mampu menemukan makna bahkan dalam aktivitas sehari-hari yang sederhana, ia cenderung memiliki daya tahan psikologis yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup.
Ketika Romanticizing Life Menjadi Pelarian
Meskipun memiliki sisi positif, para ahli mengingatkan bahwa romanticizing life dapat menjadi tidak sehat apabila dilakukan secara berlebihan.
Masalah muncul ketika seseorang terlalu fokus menciptakan kehidupan yang terlihat estetik dan sempurna. Kehidupan nyata tidak selalu tenang, indah, atau penuh momen sinematik seperti yang sering ditampilkan di media sosial. Ada hari-hari yang melelahkan, penuh tekanan, berantakan, dan tidak menyenangkan.
Menurut artikel psikologi dari Verywell Mind, romanticizing life memang dapat meningkatkan emosi positif, tetapi menjadi bermasalah ketika digunakan untuk menghindari realitas atau menekan emosi negatif. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai avoidance coping, yaitu kecenderungan individu menghindari masalah dengan mencari distraksi emosional sementara daripada menghadapi akar persoalan yang sebenarnya.
Misalnya, seseorang yang sedang mengalami tekanan akademik berat mungkin memilih membuat rutinitas estetik sebagai cara mengalihkan perhatian, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan sumber stresnya. Jika dilakukan terus-menerus, romanticizing life dapat berubah dari praktik self-care menjadi topeng emosional yang menutupi kelelahan psikologis.
Alih-alih membantu pemulihan, hal ini justru berisiko membuat individu menunda penyelesaian masalah yang sesungguhnya.
Pengaruh Media Sosial dan Standar Kehidupan Estetik
Fenomena romanticizing life juga tidak lepas dari pengaruh media sosial.
Banyak konten yang menampilkan standar kehidupan estetik: kamar selalu rapi, meja kerja minimalis, rutinitas pagi yang terstruktur sempurna, makanan sehat yang tersaji indah, hingga produktivitas yang tampak konsisten setiap hari. Konten-konten semacam ini memang menarik secara visual, tetapi tanpa disadari dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.
Ketika seseorang melihat representasi kehidupan yang tampak ideal tersebut secara terus-menerus, muncul kecenderungan melakukan social comparison. Individu mulai membandingkan kehidupannya dengan gambaran digital yang sebenarnya telah dikurasi secara selektif.
Fenomena ini dapat memicu tekanan psikologis baru. Seseorang mungkin merasa hidupnya kurang menarik, kurang teratur, atau kurang bermakna hanya karena tidak sesuai dengan standar estetika yang sedang populer di media sosial.
Padahal, esensi romanticizing life seharusnya bukan tentang membuat hidup terlihat indah di mata orang lain, melainkan benar-benar merasakan dan menghargai pengalaman hidup secara autentik.
Menikmati Hidup Secara Realistis
Kunci utama agar romanticizing life tetap sehat adalah keseimbangan.
Menghargai hal-hal kecil, melatih mindfulness, dan mensyukuri momen sederhana memang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mental. Namun, hal ini perlu dilakukan secara realistis dan tidak digunakan untuk menyangkal keberadaan emosi negatif.
Kesehatan psikologis bukan berarti selalu merasa bahagia atau hidup dalam suasana yang estetik setiap saat. Kesehatan mental justru mencakup kemampuan untuk menerima berbagai emosi, termasuk kecewa, sedih, marah, dan lelah, lalu menghadapinya secara adaptif.
Romanticizing life akan menjadi teknik psikologis yang sehat ketika digunakan sebagai bentuk apresiasi terhadap hidup, bukan sebagai cara untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Pada akhirnya, di era digital yang serba cepat, mungkin yang paling dibutuhkan manusia bukanlah kehidupan yang sempurna, melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri.
Oleh: Dhafir Surya Nugraha, Dr.Rachmat Mulyono M.si, Psikolog
Referensi
Cheung, R. Y. M., & Lau, E. N. S. (2021). Is Mindfulness Linked to Life Satisfaction? Testing Savoring Positive Experiences and Gratitude as Mediators. Frontiers in Psychology.
Bryant, F. B. (2021). Current Progress and Future Directions for Theory and Research on Savoring. Frontiers in Psychology.
Klibert, J. J., et al. (2022). Savoring Interventions Increase Positive Emotions After a Social-Evaluative Hassle. Frontiers in Psychology.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Laporan Survei Internet Indonesia.
ELF. ‘Romanticizing Your Life’ Can Be a Legit Form of Mindfulness.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting Blessings Versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being.
DOI:
Utami, F. P. (2022). Peran mindfulness untuk kesejahteraan psikologis generasi muda.
